
Oleh: Nikolas Supriyanto
Suara USU, Medan. Dunia baru saja kembali menyaksikan salah satu momen bersejarah. Konklaf telah berhasil menyepakati dan memilih seorang paus untuk memimpin umat Katolik sedunia dan melanjutkan misi Gereja sebagai institusi sosial dan spiritual. Kehadiran paus yang baru ini menjadi semangat dan harapan baru bagi umat Katolik dan umat beragama lainnya, mengingat dunia saat ini sedang dalam arah yang tidak menentu. Paus dapat menjadi salah satu mediator yang mengakomodasi ruang-ruang perdamaian dan menyelesaikan konflik. Ia adalah Kardinal Francis Prevost yang memilih nama kepausan Paus Leo XIV.
Paus Leo XIV merupakan sosok yang baru terpilih menjadi seorang paus menggantikan Paus Fransiskus. Ia terpilih pada hari Kamis (8/5/2025) waktu setempat, setelah konklaf berjalan selama dua hari dan melakukan pemungutan suara sebanyak tiga kali. Paus Leo XIV menjadi paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat, dan yang kedua berasal dari benua Amerika setelah Paus Fransiskus. Ia dipandang sebagai sosok baru yang akan melanjutkan semangat Gereja Katolik.
Lahir di Chicago, Illinois, Paus Leo XIV dikenal sebagai sosok imam misionaris yang banyak berkarya diberbagai tempat dan berkunjung melihat umatnya. Saat ini ia berusia 69 tahun, usia yang cukup muda bagi seorang Paus. Ia banyak berkarya di Peru dan menjadi sosok yang terkenal cerdas dan mengumat. Kemampuannya dalam memahami kebutuhan pastoral menjadi salah satu alasan mengapa dirinya dengan cepat mendapat posisi sebagai seorang pemimpin gereja di Amerika. Sebagian besar karya pelayanannya dilakukan di Peru dan ditahbiskan menjadi Uskup di Peru.
Dilansir dari Tempo.co, ia lahir dari ayah berdarah Prancis-Italia dan ibu keturunan Spanyol. Ia memiliki dua saudara laki-laki. Kemudian Kardinal Prevost atau Paus Leo XIV masuk sekolah seminari menengah Ordo Augustinian. Semangatnya sebagai seorang intelektual gereja terlihat pada Tahun 1977 setelah memperoleh gelar sarjana Matematika dan juga mempelajari filsafat. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya sebagai seorang calon imam pada waktu itu dengan masuk novisiat Ordo Santo Agustinus (O.S.A).
Ia sangat memahami bagaimana permasalahan pastoral dan pelayanan di daerah-daerah terpencil karena sering melakukan kunjungan. Selain itu, sebagai salah satu imam misionaris yang sangat aktif, beliau memiliki banyak pengalaman di tengah-tengah umat. Bakat dan pengetahuannya ini yang kemudian menjadikan beliau cepat dipercaya oleh para pemimpin gereja untuk ikut menjadi pelayan sekaligus pemimpin gereja dan menjadi seorang Kardinal yang dipilih oleh Paus Fransiskus.
Paus Leo XIV memilih nama kepausan sesuai dengan teladan dan perspektif hidupnya. Hal ini lumrah seperti paus-paus sebelumnya. Sering kali nama kepausan yang dipilih akan menggambarkan ke mana sang pemimpin membawa nahkoda Gereja mengarah dan semangat seperti apa yang akan ditunjukkan. Paus Leo XIV memilih nama kepausan yang sudah lama tidak diambil, lebih dari seabad yang lalu atau yang terakhir adalah Paus Leo XIII. Tentu ini menjadi suatu harapan baru bagi kepemimpinan Paus Leo XIV.
Gereja Katolik yang tengah menghadapi dinamika terutama karena hubungan internasional juga semakin tidak menentu dan kebutuhan akan iman semakin mengarah pada tahap krisis, tentu memerlukan sosok bersahaja. Oleh karena itu, sejak kepergian Paus Fransiskus, umat Katolik dan Dewan Kardinal mulai mempertimbangkan siapa yang sanggup mengemban tanggung jawab besar tersebut untuk melayani dengan tulus dan tegas.
Pandangan Paus Leo XIV disebut sebagai salah satu tokoh yang memiliki pandangan terbuka dan penuh kasih. Ia sering menyoroti isu-isu imigran dan kerap memberikan komentar terkait isu tersebut, bahkan ia pernah mengkritik Donald Trump terkait kebijakan imigrannya. Hal ini menunjukkan bagaimana kedekatan dirinya dengan kaum yang terpinggirkan.
Selain sikap dan pandangannya, banyak fakta lainnya yang sering terhubung dengan seorang Paus sejak dirinya terpilih dan memilih nama kepausan. Salah satu yang menarik perhatian publik adalah pemilihan nama paus yakni Paus Leo. Gelar ini terinspirasi dari Paus Leo Yang Agung atau Leo I yang saat berkuasa, Gereja Katolik sedang menghadapi gelombang reformasi yang digaungkan oleh Martin Luther. Fakta uniknya adalah Martin Luther dan Paus Leo XIV berasal dari ordo yang sama yakni novisiat Ordo Augustinian. Pemilihan ini menimbulkan spekulasi publik Paus Leo XIV akan membuka ruang diskusi yang lebih hangat dengan gereja-gereja lain setelah beratus tahun terjadi hubungan yang renggang.
Fakta lainnya adalah Paus Leo XIV memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Ia menguasai lima bahasa asing yakni Inggris, Spanyol, Italia, Prancis, dan Portugis. Ia juga fasih membaca tulisan berbahasa Jerman dan Latin. Berkat kemampuannya ini, ia mudah berkomunikasi dengan lingkungan kardinal, umat, dan kelompok lainnya. sedikit berbeda dengan Paus Fransiskus yang terbatas dalam berbahasa, Paus Leo XIV memiliki kemampuan bilingual yang baik.
Selain itu, banyak yang mengira bahwa Paus Leo XIV merupakan penduduk berkewarganegaraan Amerika Serikat sehingga disebut pemilihan dirinya dipengaruhi oleh politik dunia. Faktanya adalah Paus Leo XIV memiliki kewarganegaraan ganda yakni Amerika Serikat dan Peru. Hal ini mematahkan asumsi bahwa dirinya terpilih karena ia warga negara Amerika Serikat. Mengingat ia juga sudah lama tidak berada di Amerika Serikat dan lebih banyak berkarya di Peru ketimbang negara Amerika Serikat sendiri.
Fakta berikutnya dan cukup menarik adalah Paus Leo XIV sudah pernah berkunjung ke Indonesia tepatnya di Papua walaupun saat itu ia belum terpilih menjadi kardinal. Kunjungannya di tahun 2003 ini bertujuan mengunjungi Keuskupan Sorong hingga Jayapura dalam rangka perayaan ulang tahun Ordo Santo Augustinian. Kunjungan ini tidak hanya di kota-kota, ia juga datang ke paroki yang berada di wilayah terpencil. Saat itu ia masih menjabat sebagai Prior Jenderal Ordo Augustinian. Oleh karena itu banyak yang berharap Paus Leo XIV akan banyak menggaungkan isu-isu progressif dan dekat dengan orang-orang kecil.
Harapan-harapan umat Katolik hadirnya sosok baru yakni Paus Leo XIV semakin menambah semangat baru bagi setiap umat dan Gereja Katolik. Beliau bukan hanya pemimpin agama, tetapi juga orang yang mempunyai pengaruh untuk berperan dalam diplomasi dunia. Namun sebagai orang awam, kita hanya berdoa dan berharap agar kepemimpinan Paus Leo XIV membawa cahaya baru bagi dunia.
Redaktur: Axfeba Saragih
Leave a comment