Home Kabar Nasional UTBK 2025 Kembali Tercoreng, Modus Baru Kecurangan Marak Terjadi
Kabar Nasional

UTBK 2025 Kembali Tercoreng, Modus Baru Kecurangan Marak Terjadi

Share
Ilustrator: Erika Anggraini

Reporter: Debora Gracia Nauli Siregar

Suara USU, Medan. Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2025 kembali tercoreng oleh berbagai praktik kecurangan yang merusak integritas seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Walaupun panitia telah menerapkan prosedur pengawasan ketat, sejumlah peserta masih berhasil menyelundupkan alat bantu curang di dalam ruang ujian. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius terhadap efektivitas sistem pengawasan dan kredibilitas proses seleksi nasional.

Salah satu cuitan akun @utbk_snpmb dari platform media sosial X, mengungkap modus kecurangan yang terjadi tahun ini ialah penggunaan kamera tersembunyi yang disamarkan dalam behel gigi. Dengan bantuan teknologi canggih, peserta dapat merekam soal ujian dan mengirimkannya ke pihak luar untuk mendapatkan jawaban secara real-time. Selain itu, terdapat laporan peserta yang berhasil membawa ponsel ke dalam ruang ujian dan melakukan siaran langsung (live streaming) selama ujian berlangsung. Ironisnya lagi, beberapa pengawas ujian dilaporkan melakukan siaran langsung di platform media sosial seperti TikTok saat ujian berlangsung, yang menunjukkan kurangnya profesionalisme dan pengawasan yang ketat.

Tindakan kecurangan tersebut menuai kontra dari netizen. Netizen beramai-ramai melayangkan kritik atas kasus kecurangan di UTBK 2025.

“Gimana korupsi di Indonesia mau hilang, kalo tes masuk perguruan tinggi aja banyak yang curang wkwk,” tulis pengguna X @al******.

“Parah banget yaa.. Lagian buat apa sih prestasi dipupuk dari sebuah kebohongan,” tulis pengguna X @riy*********.

Kecurangan dalam UTBK bukan hal yang baru lagi. Dilansir dari liputan6.com, pada UTBK 2023, Universitas Sumatera Utara (USU) menemukan tujuh peserta yang melakukan kecurangan dengan menggunakan alat komunikasi tersembunyi di tubuh mereka. Meski kasus ini sudah dilaporkan ke pihak berwenang, USU memutuskan untuk tidak melanjutkan proses hukum setelah mediasi dengan para peserta. Namun, USU berharap pihak kepolisian dapat membongkar kasus ini karena diduga melibatkan sindikat bimbingan belajar yang terorganisir.

Contoh kasus lainnya dapat diambil dari kasus SIMAK UI 2024. Terdapat banyak oknum yang melakukan kecurangan tes yang dilakukan secara online. Peserta menggunakan kesempatan tersebut sebagai peluang untuk mencari jawaban dari internet. Dikutip dari SINDOnews Edukasi, Darmaningtyas sebagai pengamat pendidikan, menyarankan penghapusan jalur seleksi mandiri di perguruan tinggi negeri (PTN) karena dianggap membuka celah korupsi. Menurut beliau, jalur mandiri lebih mengutamakan calon mahasiswa yang sanggup membayar uang pangkal lebih tinggi, sehingga membuka ruang untuk komersialisasi pendidikan.

Untuk mencegah kecurangan, berbagai universitas sebenarnya telah menerapkan aturan ketat. Dengan memastikan setiap peserta diperiksa identitasnya, melarang membawa alat komunikasi ke dalam ruang ujian, dan menggunakan metal detector untuk mendeteksi apabila ada perangkat terlarang yang disembunyikan oleh peserta. Namun, entah mengapa masih saja ada yang lolos dari prosedur ketat tersebut.

Eduart Wolok, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2025, juga memastikan timnya akan terus menindak serius pelaku kecurangan. Pihaknya akan proaktif mendeteksi segala bentuk kecurangan yang dapat terjadi.

Kecurangan dalam UTBK adalah masalah serius yang memerlukan perhatian dan tindakan nyata dari semua pihak terkait. Tidak hanya merugikan peserta lain yang berjuang dengan jujur, tetapi juga mencoreng integritas sistem seleksi masuk perguruan tinggi. Peserta yang berhasil lolos melalui kecurangan berpotensi membawa kebiasaan buruk tersebut ke jenjang pendidikan tinggi, yang dapat berdampak negatif pada dunia akademik dan profesional. Masyarakat dan institusi pendidikan perlu bersama-sama menegakkan integritas dan kejujuran dalam proses seleksi. Penerapan sanksi yang tegas dan transparan terhadap pelaku kecurangan, serta peningkatan pengawasan dan edukasi tentang pentingnya integritas akademik, menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.

Redaktur: Axfeba Saragih

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.