Home Entertaiment 1984, Film Representasi Rezim Totaliter
EntertaimentFilm

1984, Film Representasi Rezim Totaliter

Share
(Sumber: Prime Video)

Reporter: Indira Rivany Azizah

Suara USU, Medan. 1984 atau turut dikenal dengan sebutan ‘Nineteen Eighty-Four’ merupakan sebuah film drama distopia yang rilis pada tahun 1984. Film yang disutradarai oleh Michael Radford ini merupakan adaptasi dari sebuah novel tahun 1949 karya George Orwell dengan tajuk yang sama. Film ini merupakan sebuah gambaran yang sangat kuat tentang sebuah masyarakat totaliter yang menakutkan di mana kebebasan individu benar-benar terkikis dan pemerintah memiliki kendali penuh atas setiap aspek kehidupan warganya.

Film ini mengikuti kehidupan Winston Smith (John Hurt) yang berlatar belakang dunia dystopian tahun 1984, hampir 40 tahun setelah berakhirnya perang dunia kedua serta beberapa tahun pasca terjadinya insiden Pulau Hiroshima dan Nagasaki. Winston Smith merupakan seorang pria yang menjalani kehidupan yang kotor di negara totaliter bernama Oseania di bawah pengawasan ketat dari polisi pikiran. Perjalanan Winston terjadi di kota London, ibu kota wilayah Airstrip One yang sebelumnya Britania Raya. Winston hanya seorang pegawai rendahan Partai Komunis di Kementerian Propaganda. Ia tinggal disebuah apartemen kecil yang kumuh dan bekerja setiap hari di bilik kantor bersama puluhan orang lainnya di Kementerian Kebenaran.

Sebagai pegawai Kementerian Kebenaran, Winston memiliki pekerjaan yang ironis, tugas utama departemennya ialah memalsukan sejarah sesuai dengan partai dan tokoh tertinggi yang disebut Big Brothers. Tugas Winson sama seperti banyak orang di kantornya, adalah ‘menghapus’ siapa pun yang pernah berselisih dengan pemerintah dari sejarah resmi, mengubah artikel lama agar sesuai dengan kebijakan partai yang baru dan menciptakan berita palsu demi mendukung propaganda partai.

Pekerjaan yang dilakukan Winston sangat kontras dengan pikiran-pikiran kritis yang mulai tumbuh dalam dirinya. Ia mulai meragukan kebenaran yang selama ini ia yakini dan berusaha untuk memberontak melawan sistem. Winston merasa tertekan dan kesepian hidup di bawah rezim totaliter dan merasa terasing dari orang-orang di sekitarnya karena ketakutan akan pengawasan dan hukuman jika mengungkapkan pikiran yang berbeda.

Hingga suatu hari ia bertemu dengan pegawai partai yang lain bernama Julia. Pertemuan ini membawa angin segar bagi Winston. Setelah sekian lama merasa terisolasi dan terkekang, ia akhirnya menemukan seseorang yang memiliki perasaan yang sama. Julia menjadi simbol harapan dan pemberontakan bagi Winston. Pertemuan mereka menjadi awal dari sebuah hubungan rahasia yang penuh risiko, namun juga memberikan mereka sedikit kebebasan dan kebahagiaan di tengah kehidupan yang penuh tekanan.

Namun kebahagiaan mereka tak berlangsung lama, Winston dan Julia ditangkap oleh polisi pikiran karena tindakan-tindakan mereka yang dianggap sebagai pengkhianatan terhadap partai. Mereka berpikir independen dan meragukan partai, menulis jurnal rahasia yang berisikan pemikiran dan perasaan sebenarnya terkait totaliter, memiliki hubungan cinta dan merencanakan pemberontakan melalui pikiran pikiran kritis mereka untuk bebas. Mereka kemudian disiksa secara fisik dan mental untuk membuat mereka mengakui kesalahan dan mengkhianati satu sama lain. Tujuan akhir dari penyiksaan ini adalah untuk menghancurkan semangat perlawanan mereka dan memaksa mereka untuk tunduk pada partai.

Winston dan Julia merupakan korban dari sebuah sistem yang represif dan kejam. Keduanya dihukum sebab memiliki keberanian untuk menjadi diri sendiri dan mempertanyakan kebenaran yang dipaksakan kepada mereka. Kisah mereka merupakan sebuah peringatan akan bahaya kepemimpinan yang totaliter dan pentingnya kebebasan individu.

Meskipun ditulis pada tahun 1949 dan dirilis pada tahun 1984, film ini masih sangat relevan hingga masa kini. 1984 menjadi sebuah peringatan akan bahaya sistem yang totaliter, pentingnya kebebasan individu, dan betapa pentingnya kita untuk terus berpikir kritis. Nah! sobat Suara USU, tertarik menonton perjalanan Winston dan Julia mecari kebebasan?

Redaktur: Fathan Mubina

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.