
Oleh: Syafira Sari
Suara USU, Medan.
Hari yang menjadi sejarah bagi banyak pihak
Di sebuah mimbar kayu yang tinggi dan menjadi pusat perhatian
Ia lantangkan sumpah dan janji-janji manisnya
Berjubah kata, bersenjata pasal kokoh namun rapuh
Sepasang bola mata yang buta namun bukan karena tirai
Melainkan karena pilih kasih yang mengakar disegala pihak yang hanya menekan
Berat sebuah timbangan yang condong sebelum gugatan dibuka
Arti hukum yang halus dibisiki ditelingamu, dibengkokkan dengan lembaran licik
Jutaan rakyat kecil kau tipu kau jerat dalam senyuman kecilmu dasar penguasa
Sementara kejujuran kini telah gugur tak berarti tanpa nisan
Kehadirannya yang dinanti, dibutuhkan namun bukan untuk melindungi
Tapi menghakimi dari balik lapisan kaca satu arah
Dimana suara yang lantang pun diredam olehnya
Oleh ketukan palu yang hanya berdentum untuk yang berduit
Lalu kami…? Kami bagaimana tuan?
Lihatlah kami! Dengarlah kami!
Beginikah sekarang keadilan yang telah bewajah ganda
Satu tersenyum di baliho
Satu lagi menangis di sudut lorong pengadilan
Menggigil, menunggu keajaiban yang tak kunjung lahir
Harapan yang hanya bisa diterbangkan namun tak membuahkan apapun
Berapa nyawa lagi yang harus pergi dengan sia-sia dan runtuh dengan begitu saja?
Sesederhana agar nurani tak lagi dikurung pasal
Berapa goresan luka lagi yang harus ku sulam tuan?
Agar hukum bisa kembali berani menatap cermin
Ketahuilah bahwa kami selalu menanti keadilan itu
Bila hukum tak lagi adil
Maka kini biarlah rakyat yang jadi hakim
Dan biarlah sekarang pena waktu yang mengukir sejarah
Tentang semua wajah keadilan yang palsu
Dan tak pernah benar-benar tau malu.
Redaktur: Zahra Salsabilla
Leave a comment