
Reporter: Katrin Alina & Cynthia Ma
Suara USU, Medan. Di tengah kritik terhadap Pelaksanaan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025, Direktorat Prestasi Mahasiswa dan Hubungan Kealumnian (Ditmawalumni) Universitas Sumatera Utara (USU) memberikan klarifikasi tegas. Mereka memastikan bahwa pelibatan mahasiswa dalam PKKMB tetap menjadi bagian penting dan tidak diabaikan.
Direktur Ditmawalumni, Rahma Yurliani, menjelaskan bahwa berbagai elemen mahasiswa dilibatkan secara aktif, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USU, BEM fakultas, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Bahkan, Menwa, Pramuka, dan mahasiswa berprestasi juga dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Sepuluh anggota Menwa dan sepuluh Pramuka membantu tim inti. Sementara di tingkat fakultas sudah ada skema 1 banding 25: satu kakak tingkat membimbing 25 mahasiswa baru. Mahasiswa berprestasi juga akan tampil dalam pembukaan acara, dan UKM turut serta. Itu semua bagian dari mahasiswa yang terlibat,” jelasnya saat diwawancarai Suara USU, Rabu, 23 Juli 2025.
Tudingan pembatasan kuota panitia mahasiswa, menurut Ditmawalumni, merupakan kekeliruan. Angka 20 orang dari BEM USU hanyalah bentuk tawaran awal yang telah dikomunikasikan secara terbuka dalam forum resmi. Tak ada keputusan sepihak, dan forum tersebut bahkan tidak direspons dengan sanggahan oleh pihak BEM saat itu.
“Kami sudah membuka ruang, dan terkait 20 panitia itu pun sudah dikomunikasikan dalam forum resmi. Pihak BEM tidak memberikan sanggahan dan justru menyatakan masih ingin menyesuaikan konsepnya dengan panitia. Jadi komunikasi itu sudah berjalan dengan baik. Tapi begitu keluar forum, nadanya berubah,” jelas Bambang Riyanto, perwakilan dari Ditmawalumni kepada Suara USU, Rabu, 23 Juli 2025.
Situasi persiapan yang terkesan mendadak, diakui Rahma, terjadi karena petunjuk teknis dan pelaksanaan (juklak dan juknis) dari kementerian baru diterima awal Juli 2025. Artinya, kampus memang tidak bisa bertindak sebelum panduan dari pusat keluar.
“PKKMB ini kan tidak bisa terlepas dari pusat. Maka untuk bergerak di level kampus, kita harus menunggu juklak dan juknis dari pusat. Itulah mengapa kesannya agak mepet, ya karena kita baru dapatnya awal Juli. Selama belum ada panduan itu, kami belum bisa mulai bergerak,” tegasnya.
Ditmawalumni pun menjelaskan bahwa pelaksanaan PKKMB melibatkan koordinasi dengan banyak pihak, mulai dari penyesuaian jadwal rektor, waktu perkuliahan, hingga pelibatan UKM, Dumas, dan mahasiswa jalur SBPU Talenta.
“Kalau tidak ada panduan, apa yang mau dibahas dalam rapat? Jadinya kita mengayal-ngayal. Kalau ternyata setelah kita susun, tapi arahan dari pusat berbeda, malah dua kali kerja nanti. Maka hal pertama yang saya lakukan ketika menerima panduan itu adalah langsung saya bagikan, lalu bicara dengan pimpinan. Setelah disetujui, barulah kita turunkan ke bawah,” tambah Rahma.
Ditmawalumni juga menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap kritik dan mendorong terwujudnya komunikasi dua arah yang disampaikan secara jernih, proporsional, dan tidak tergesa-gesa dibawa ke media sosial. Bagi mereka, kritik adalah bentuk kepedulian yang perlu disampaikan secara sehat dan konstruktif.
“Pada prinsipnya, Ditmawa ini rumahnya mahasiswa. Kami berupaya menjalin kolaborasi, bukan hanya dengan BEM, tetapi juga dengan elemen mahasiswa lainnya. Kritik itu penting, tapi kami berharap disampaikan melalui komunikasi dua arah yang jernih dan terbuka. Jangan sampai muncul kesan yang tidak utuh karena tidak semua orang paham konteks internal,” ujar Bambang.
Ia menutup dengan penegasan bahwa ruang komunikasi selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin berdiskusi. “Kalian bisa datang, kita diskusi. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Kami pun tidak anti kritik. Pak Rektor juga tidak anti kritik. Kritik itu obat pahit, tapi perlu untuk memperbaiki,” pungkasnya.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment