SUARA USU
Kabar Kampus

Field Trip Berujung Sajam, Berikut Kronologi Ricuh Salah Satu Prodi di Vokasi USU  

Reporter: Tim Indepth Suara USU

Suara USU, Medan. Salah seorang dosen Fakultas Vokasi USU membawa senjata tajam (sajam) saat kelas di ruangan B-204 Gedung Baru Fakultas Vokasi. Melalui kronologi yang didapatkan, kejadian tersebut dilatarbelakangi oleh salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh mahasiswa senior D-III Perjalanan Wisata.

Kegiatan itu disebut sebagai Field Trip, yang dilaksanakan secara turun-menurun oleh pihak mahasiswa secara mandiri. Menurut Budi (nama samaran) yang terlibat langsung dalam pelaksanaan Field Trip, kegiatan ini merupakan orientasi studi secara mandiri yang dilakukan oleh jajaran senior dan alumni. Kegiatan tersebut dilakukan dengan tujuan pengenalan organisasi, etika dasar menjadi pemandu wisata, dan dasar-dasar menjadi pariwisatawan, sekaligus menempah mental mahasiswa baru yaitu stambuk 2023. Hal tersebut terlaksana selama 3 hari, mulai tanggal 24-26 November 2023 lalu.

Menurut keterangan saksi NN (nama samaran), terdapat orang tua mahasiswa yang menelpon dosen yang bersangkutan (SS). Diduga salah seorang mahasiswa mengikuti kegiatan orientasi dengan mengatasnamakan kegiatan mata kuliah dari dosen tersebut. Hal tersebut membuat sang dosen murka dan merasa dirinya terseret dalam kejadian ini. Dalam keterangan NN, orangtua tersebut mengatakan anaknya diperlakukan kurang pantas oleh para senior dalam kegiatan tersebut.

Dari keterangan saksi lain yang tim kami dapatkan, ternyata sang dosen memperoleh ancaman dari alumni yang mengikuti acara tersebut berupa pesan yang berisi kata-kata kasar dan umpatan.

Setelah diselediki, ternyata sang alumni merasa marah dan terancam, dikarenakan sang alumni mengetahui bahwa terdapat orangtua mahasiswa yang akan berniat melaporkan acara tersebut kepada Kaprodi.

Setelah ancaman tersebut, sang dosen mengambil tindakan dengan mengumpulkan mahasiswa D-III Perjalanan Wisata angkatan 2023, panitia Field Trip, dan membawa Kaprodi D-III Perjalanan Pariwisata pada Senin (27/11/2023) dengan tujuan meminta klarifikasi atas kejadian tersebut. Namun, karena sang dosen telah terbawa emosi, ia pun membawa sajam ke dalam kelas.

Terdapat pernyataan mengenai sajam yang dibawa oleh dosen tersebut, adapun pernyataannya adalah bahwa sajam tidak hanya dibawa pada hari itu saja melainkan selalu berada di dalam mobil dosen tersebut. Lalu pernyataan lain menyatakan sajam tersebut dibawa ke dalam kelas bukan untuk mengancam mahasiswa, melainkan sebagai simbol bahwasannya tidak perlu takut untuk mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya terjadi. Di sisi lain, ada pernyataan juga tidak bisa dipungkiri bahwasanya membawa sajam ke dalam ruangan kelas adalah hal yang salah.

Diketahui juga dalam rekaman yang tim kami terima, terdapat mahasiswa (E) yang meminta untuk sang dosen menyebutkan nama mahasiswa yang orang tuanya menelpon dosen tersebut. Bukannya dijawab oleh sang dosen, beliau malah mendekati E dengan mengatakan, “Teman kalian. Kau ngeri kali sama temanmu. Biar kau pukuli dia? Apa mau kau? Kalau lah aku sebut, mau kau apain? Kok kacau kali dia? Pingin kali dijebak temannya,” kata si dosen sambil mendekat dan menampar pipi si E.

Terdapat pernyataan lain bahwasannya dari beberapa saksi itu bukanlah menampar, melainkan hanya menepuk pipi mahasiswa yang bukan bertujuan untuk menyakiti namun bertujuan untuk menyadarkan mahasiswa yang bertanya atas pertanyaan yang dia lontarkan.

Di sisi lain, para panitia yang turut hadir dalam situasi tersebut mengatakan kalimat yang cukup membuat dosen tersulut emosi yang berapi-api. Seperti, “Keras kali bapak ini”, “Kan bisanya ngomong pak. Aku gak sor sama bapak”. Kata-kata tersebutlah yang membuat kericuhan antar panitia dan dosen yang bersangkutan.

Hal inilah yang membuat sang dosen menancapkan sajamnya ke meja bertujuan untuk mengkondusifkan suasana kelas, dikarenakan panitia yang berada di  ruangan kelas mencela saat dosen sedang berbicara. Sang dosen merasa tidak dihargai saat sedang berbicara kepada para maba, menyadarkan bahwa beliau adalah dosen mereka yang harus dihormati.

Sementara berdasarkan keterangan salah seorang mahasiswa di lokasi kejadian, penancapan sajam tersebut sudah dilakukan dosen sebelum panitia kegiatan sampai di lokasi.

Dari keterangan sejumlah saksi, diketahui antara pihak dosen dan mahasiswa telah berdamai dan saling memaafkan, terutama kepada E yang sempat berseteru dengan sang dosen.

Namun beberapa oknum ada yang kembali memviralkan masalah tersebut untuk menjatuhkan sang dosen di akun sosial media yang diduga memiliki dendam pribadi kepada sang dosen.

Sementara itu, keterangan salah satu peserta yang terlibat bernama TO (nama samaran) Mahasiswa Jurusan Perjalanan Wisata angkatan 23 yang turut terlibat dalam kejadian pengancaman dengan senjata tajam menceritakan bahwa awalnya mereka (kelas A dan B) dikumpulkan dalam satu ruangan di Fakultas Vokasi yaitu ruangan B-204.

“Jadwal kami dengan dosen tersebut itu jam 3 persis setelah jam kami dia nyambung ke kelas lain (masih mata kuliah yg sama namun kelas yg berbeda) nah karena satu dosen, kami disuruh ngumpul makanya kami bisa ngumpul jadi satu di ruangan itu,” ungkap TO.

Kejadian yang terjadi pada hari Senin 27 November 2023 yang sampai melibatkan seorang Kaprodi menurut TO sudah berlebihan. TO mengungkapkan harusnya dosen langsung saja berurusan dengan siswa yang mengatasnamakan sang dosen untuk mendapatkan izin mengikuti kegiatan Field Trip ini.

Kegiatan Field trip yang dibuat bertujuan untuk mempererat rasa kekeluargaan di Program Studi Perjalan Pariwisata sayangnya tidak semulus itu. Awalnya angkatan 23 dijanjikan akan pergi ke Samosir dan dikenai biaya sebesar Rp.400.000 karena dirasa cukup tinggi biaya berkurang menjadi Rp.250.000. Namun betapa terkejutnya mereka, bukanya ke Samosir seperti rencana awal mereka malah sampai di Berastagi. Mereka baru menyadari hal itu ketika sudah sampai di tempat, tidak ada pemberitahuan pengubahan lokasi dari pihak panitia.

Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, dimulai dari tanggal 24, 25 dan 26 November adapun selama 3 hari tersebut handphone mereka wajib dikumpulkan ke panitia dalam keadaan silent mode. Akan tetapi masih diizinkan untuk menghubungi orangtua dengan sebatas perantara panitia saja. Handphone dikambalikan tanggal 26 November di siang hari.

Saat Field Trip panitia yang bertanggung jawab adalah stambuk 21 dan 22 diluar itu terdapat alumni – alumni yang hadir untuk melihat situasi dan kondisi. Kegiatan disana termasuk berbagi pengalaman kegiatan tahun lalu (2022), barbeque dan makan bersama panitia serta perserta, disana mereka juga harus tidur disatu ruangan yang sama, hanya mereka yang sakit yang diizinkan di dalam kamar.

TO mengetahui kalau kegiatan ini tidak mendapat izin dari pihak Prodi, untuk antisipasi pihak panitia menyediakan surat izin untuk orang tua/wali mahasiswa tetapi disediakan hanya untuk mereka yang meminta saja. Kemungkinan besar orangtua/wali mahasiswa yang menelpon dosen tersebut adalah mereka yang sebenarnya tidak mendapat izin namun tetap nekat untuk pergi dan memilih berbohong.

Setelah kejadian ini, TO mengaku tidak ada perubahan signifikan dalam perkuliahan angkatannya. Terakhir kali dosen ini mengisi kelas hanya untuk absen melalui Zoom Meeting. “Kami sempat ada kelas, tapi dari zoom itupun cuma absen terus selelsai,” pungkasnya.

Redaktur: Anna F


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Ella, Wajah Baru Ketua Umum KBSI!

redaksi

Siap Melaksanakan Babak Baru, MPMF dan PEMA Fakultas Keperawatan USU Resmi Dilantik!

redaksi

Sediakan Wadah Untuk Mengekspresikan Diri, UKM Gamadiksi Adakan Panggung Seni Gamadiksi

redaksi