Home Film Gangubai Kathiawadi, Suara dari Bordil
Film

Gangubai Kathiawadi, Suara dari Bordil

Share

Oleh: Siti Farhatun Nafis Azhari

Suara USU, Medan. Gangubai Kathiawadi adalah biografi dramatis karya Sanjay Leela Bhansali yang mengangkat kisah nyata seorang perempuan dari Kamathipura, Mumbai, yang bangkit dari marginalisasi menjadi simbol pemberdayaan.

Kawasan Kamathipura sendiri dikenal sebagai salah satu distrik prostitusi tertua di Mumbai yang sudah berkembang sejak masa kolonial Inggris. Pada era 1960-an, kawasan ini menjadi titik temu urbanisasi cepat, kemiskinan, dan sistem patriarki yang kuat. Banyak perempuan datang ke kota dengan harapan mendapatkan pekerjaan, namun terjebak dalam perdagangan manusia atau relasi eksploitatif yang menutup jalan keluar dari dunia prostitusi.

Pada masa itu di India, pekerja seks hidup dalam posisi yang serba kontradiktif. Mereka tidak diakui secara sosial, namun tetap menjadi bagian dari ekonomi kota. Akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan perlindungan hukum sangat terbatas, sementara stigma melekat tidak hanya pada perempuan, tetapi juga pada anak-anak mereka. Dalam situasi inilah kisah Gangubai memperoleh bobotnya, bukan sekadar cerita individu, melainkan potret perjuangan perempuan di tengah sistem yang membatasi pilihan hidup mereka. Film ini menekankan transformasi perempuan terpinggirkan menuju kemandirian melalui pendidikan sebagai kunci utama. Dengan durasi 152 menit, film ini menyajikan narasi kuat tentang hak-hak dasar di tengah stigma sosial.

Sanjay Leela Bhansali membangun dunia Kamathipura era 1960-an melalui set rekayasa di studio Mumbai, menciptakan lorong-lorong gelap bordil yang penuh cahaya lilin dramatis dan warna etnis yang lembut. Sinematografi ini tidak hanya menjadi suguhan visual dengan tone kelam, tetapi juga mendukung transisi lambat karakter utama dari pasrah menjadi berkuasa. Musik latar dan dialog yang indah memperkuat nuansa etnik Bombay, meski sebagai soundtrack kurang memorable, kecuali “Dholida”.

Alia Bhatt menghidupi Gangubai dengan transformasi total, mulai dari suara serak khas, langkah percaya diri, hingga sorot mata penuh amarah dan kerinduan, menjadikannya salah satu penampilan terbaik selama kariernya. Ia menyampaikan berbagai spektrum emosi, dari trauma hingga keberanian, dalam diksi dan dialek yang autentik, membuat penonton terenyuh tanpa terasa berlebihan. Pemeran pendukung seperti Ajay Devgn sebagai mafia Rahim Lala dan Shantanu Maheswari sebagai Afsaan menambah kedalaman cerita.

Film ini menyoroti perjuangan Gangubai melawan penggusuran bordil oleh pihak sekolah yang mengklaim adanya pengaruh negatif. Namun, ia berargumen dengan cerdas, “Jika tempat kami membawa dampak buruk, mengapa sekolah tidak membawa dampak baik bagi kami?” Ia memperjuangkan hak pendidikan anak-anak bordil dan menolak diskriminasi, di mana siswa dicemooh guru soal “tarif ibu mereka”. Ini menjadi puncak transformasi tokoh Gangubai: dari korban trafficking yang dijual kekasihnya sendiri, ia bangkit sebagai pemimpin 4.000 perempuan pekerja seks, menuntut upah layak, akses kesehatan, dan pemutusan pelacuran anak. Pendidikan digambarkan sebagai harga mutlak untuk memberdayakan perempuan marginal, memutus siklus kemiskinan dan stigma, relevan bagi konteks Indonesia, di mana perempuan rentan sering terjebak tanpa akses belajar.

Film Gangubai Kathiawadi menyampaikan pesan kuat tentang martabat perempuan melalui salah satu kutipan ikonisnya, “Kalau perempuan adalah sumber kekuasaan, kekayaan, dan kecerdasan, mengapa laki-laki masih merasa lebih unggul?” Pidato tersebut menyerang standar ganda patriarki yang mudah menyalahkan pekerja seks, tetapi menutup mata terhadap para pelanggan.

Secara moral, cerita ini mengajak penonton untuk berempati kepada kaum marginal atau mereka yang terpinggirkan serta melihat pentingnya solidaritas antarperempuan. Gangubai digambarkan rela mengorbankan mimpi pribadinya demi memperjuangkan kehidupan yang lebih layak bagi perempuan lain di sekitarnya, menunjukkan bahwa siapa pun bisa menjadi pembela hak asasi.

Sebagai narasi yang berpusat pada perempuan, film ini juga mengkritik sistem sosial yang membuat pekerja seks terjebak dalam kondisi tersebut. Pelacuran digambarkan bukan sebagai pilihan bebas, melainkan akibat dari keterbatasan pendidikan dan peluang hidup. Tokoh Gangubai dalam Gangubai Kathiawadi tidak digambarkan sebagai sosok suci maupun sepenuhnya jahat, melainkan sebagai manusia biasa yang sempat naif, tetapi memiliki keteguhan dan keberanian yang kuat. Transformasinya dari korban menjadi perempuan yang berdaya ditampilkan secara meyakinkan, terutama melalui keberaniannya menemui Jawaharlal Nehru demi memperjuangkan hak dan martabatnya.

Meski demikian, pendekatan estetis ala Sanjay Leela Bhansali menyisakan ruang perdebatan. Keindahan visual yang kuat, tata artistik yang megah, dan romantisasi penderitaan dapat memunculkan pertanyaan etis. Apakah film ini benar-benar membebaskan narasi pekerja seks, atau justru mengemas penderitaan mereka menjadi tontonan yang lebih mudah diterima?

Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah apakah pemberdayaan yang ditampilkan bersifat simbolik atau benar-benar struktural. Apakah perubahan yang dihadirkan hanya berpusat pada figur heroik Gangubai, atau membuka jalan perubahan sistem yang lebih luas bagi perempuan lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat film ini lebih dari sekadar tontonan. Film ini mengajak penonton melihat lebih dalam, melampaui visual dan perasaan, untuk menghadapi realitas keadilan sosial.

Pada akhirnya, Gangubai Kathiawadi memperlihatkan bahwa dari ruang yang paling terbuang pun, suara bisa tumbuh menjadi perlawanan.

Redaktur: Lucy Kezia Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.