Oleh: Tania Renata Panjaitan
Pada abad ke-3 sebelum Masehi, Library of Alexandria berdiri dengan megah di Kota Alexandria, Mesir, yang saat itu menjadi pusat intelektual dan perdagangan terkemuka. Perpustakaan yang didirikan pada masa pemerintahan Ptolemy I ini diyakini menyimpan beragam ilmu pengetahuan, mulai dari matematika, astronomi, filsafat, hingga sastra dari berbagai peradaban. Library of Alexandria menjadi ruang para cendikiawan dan pusta pembelajaran bagi masyarakat untuk mengetahui berbagai aspek pengetahuan yang berkembang di dunia.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Tan Malaka, “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.” Kutipan tersebut menegaskan bahwa literasi sangat penting bagi perkembangan manusia, begitu pula dengan pembangunan Library of Alexandria yang hadir sebagai pusat pengembangan pengetahuan yang mendorong gerakan perubahan melalui aktivitas literasi.
Library of Alexandria dibangun atas dasar dorongan keinginan untuk mewujudkan ambisi Alexander Agung dalam memusatkan pengetahuan dunia dan menjadikan tempat tersebut sebagai pusat budaya dan ilmu pengetahuan.
Dengan ambisi yang begitu kuat, lahirlah tujuan untuk mengumpulkan seluruh buku yang pernah ditulis manusia pada masa itu untuk disimpan di Library of Alexandria. Sesuatu yang penuh kemustahilan, tetapi tetap dijalankan dengan cara setiap kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan Alexandria wajib menyerahkan naskah yang mereka bawa. Setiap buku-buku asli disimpan di perpustakaan, sementara salinannya dikembalikan. Sejak saat itu, ribuan gulungan papirus mulai terkumpul. Konon, jumlahnya mencapai 400 ribu hingga 700 ribu manuskrip.
Tak sekadar menjadi tempat yang mengumpulkan begitu banyak pengetahuan, Library of Alexandria juga merupakan bangunan penuh sejarah yang menjadi tempat para ilmuwan dari berbagai negara saling bertukar pikiran. Di sana, hadir tokoh-tokoh besar, seperti Euclid, seorang matematikawan Yunani yang merumuskan geometri, serta Eratosthenes, seorang ilmuan yang menghitung keliling bumi dengan hampir sempurna. Selain itu, para filsuf turut hadir mendiskusikan terkait hakikat hidup.
Namun, apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika sebuah perpustakaan yang menyimpan begitu banyak pengetahuan dalam berbagai bidang tersebut justru lenyap? Tentu, bukan hanya bangunan yang hilang, tetapi berbagai literatur yang ada di dalamnya juga turut musnah. Ironisnya, peristiwa yang tak pernah diharapkan itu benar-benar menimpa Library of Alexandria.
Terdapat berbagai teori yang dikemukakan mengenai bagaimana Library of Alexandria runtuh. Ada yang menyebutkan bahwa perpustakaan tersebut terbakar saat Julius Caesar berperang. Ada pula yang berpendapat bahwa Library of Alexandria mengalami kehancuran secara bertahap yang diakibatkan konflik politik dan agama hingga abad ke-4 atau ke-7 Masehi. Namun, hingga kini belum ada bukti yang benar-benar dapat memastikan teori mana yang paling tepat.
Meskipun sejarah tentang lenyapnya Library of Alexandria ini masih simpang siur, ada satu hal yang pasti, yakni perpustakaan yang pada masanya diagungkan sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia itu telah runtuh. Musnahnya Library of Alexandria bukan sekadar tentang bangunannya, melainkan juga tentang musnahnya berbagai pemikiran, eksperimen, dan gagasan yang mungkin mampu mengubah arah sejarah manusia, tetapi telah lenyap sebelum sempat disalin dan diwariskan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan tidak akan abadi jika manusia lengah menjaganya.
Di era modern ini, ancaman serupa tentu dapat terjadi. Bisa jadi bukan karena kobaran api yang menghanguskan bangunan, melainkan ketidakpedulian, rendahnya minat baca, serta kebiasaan menerima informasi tanpa benar-benar memahami isinya. Jika manusia berhenti mencatat, membaca, dan merawat pengetahuan, maka tragedi serupa bisa saja terulang dalam bentuk yang berbeda.
Peristiwa Library of Alexandria menyisakan tanggung jawab bagi manusia masa kini untuk menjaga keberlangsungan ilmu pengetahuan. Setiap pengetahuan yang diperoleh tak boleh hanya dibiarkan mendekam dalam perpustakaan, tetapi juga turut dibagikan dan diwariskan.
Semegah apa pun suatu peradaban, akan tetap runtuh jika manusia berhenti peduli dengan ilmu. Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah peradaban dikenang bukan hanya bangunan megah ataupun kekuasaan yang luas, melainkan juga gagasan, pemikiran, dan pengetahuan yang diwariskan. Saat manusia berhenti belajar dan menjaga ilmu, saat itulah kemunduran perlahan dimulai. Tragedi Library of Alexandria menjadi bukti bahwa kehilangan pengetahuan berarti kehilangan masa depan yang mungkin jauh lebih baik dari yang pernah kita bayangkan.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment