Oleh: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. Keuntungan besar dari eksploitasi alam kerap mengikis rasa hormat manusia terhadap alam itu sendiri. Fenomena ini direpresentasikan secara apik dalam buku karya Dian Purnomo yang berjudul Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut. Melalui buku setebal 288 halaman ini, Dian Purnomo mengemas isu eksploitasi alam dan perjuangan rakyat yang melawan dengan nada yang haru sekaligus reflektif, tanpa kehilangan ketegasan pesannya.
Buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini menghadirkan sosok perempuan jenaka dengan keberanian luar biasa sebagai tokoh utamanya. Tokoh tersebut bernama Shalom Mawira, yang lahir dan besar di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Kepergian ayahnya yang tak pernah kembali usai melaut membuat Shalom terbiasa dengan aktivitas menunggu. Ia menjaga tanah Sangihe dengan gigih dan merawat setiap jengkalnya agar sang ayah mampu menemukan jalan pulang, serta memastikan Sangihe tetap lestari sebagaimana saat ayahnya pergi dahulu.
Kepulauan Sangihe merupakan tanah yang menyimpan kekayaan melimpah, mulai dari potensi kelautan, pesisir, kekayaan daratan, hutan, hingga tambang. Masyarakatnya terbiasa hidup berdampingan dan bergantung sepenuhnya pada alam karena alam menyediakan semua kebutuhan mereka. Namun, kekayaan tersebut pula yang menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa alam bukanlah sekadar komoditas, melainkan ruang hidup yang harus dijaga dan dipertahankan. Sayangnya, bukan hanya warga lokal yang mengendus kekayaan tersebut. Perusahaan asing turut membidik peluang dari potensi emas yang terkandung di tanah mereka yang kaya.
Pihak-pihak yang memegang kendali kekuasaan berusaha mengeruk, mencemari, dan mengambil keuntungan dari tanah yang menghidupi masyarakat Sangihe. Perusahaan asing mulai melontarkan berbagai propaganda dan menggunakan trik-trik culas untuk menipu warga agar menyetujui proses pertambangan. Mirisnya, tidak semua masyarakat mampu menyadari bahwa persetujuan tersebut adalah awal kehancuran hidup mereka. Beberapa warga tergiur menerima uang kompensasi yang tak seberapa sebagai imbalan atas pembubuhan tanda tangan persetujuan.
Shalom memilih untuk menentang keras hal tersebut. Baginya, uang yang ditawarkan tidak akan pernah bisa menjamin keberlangsungan hidupnya. Ia bersatu dengan warga Sangihe lainnya untuk melawan meskipun harus mempertaruhkan segalanya. Waktu, tenaga, materi, rutinitas, hingga kebebasan seolah lenyap seketika demi perjuangan ini. Upaya perlawanan dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari aksi berbaring di aspal hingga mengikuti ritual adat “menambah nyawa”. Bahkan, Shalom dan dua warga lainnya sempat dijebloskan ke penjara, tetapi hal tersebut tidak memadamkan daya juang mereka.
“Emas bisa ditukar dengan apa saja. Tapi air, udara, dan tanah hanya bisa diganti dengan darah.” Kutipan tersebut memantik kesadaran tentang harga nyata yang harus dibayar. Masyarakat Sangihe menyadari bahwa mereka akan kehilangan identitas dan kehidupan jika menukar kekayaan tanah dengan rupiah yang fana. Meskipun kepercayaan terhadap institusi hukum perlahan memudar karena sering kali tidak memihak rakyat kecil, proses hukum tetap ditempuh. Aktivitas pertambangan tersebut terindikasi melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, tetapi entah mengapa pihak perusahaan tetap bisa lolos dari jeratan hukum. Realitas ini mempertegas dugaan adanya permainan uang dan kekuasaan di balik layar.
Ditinjau dari unsur sastranya, Dian Purnomo menggunakan gaya bahasa deskriptif dan emosional untuk menggambarkan penderitaan sekaligus keteguhan hati masyarakat. Penulisannya terasa realistis dan puitis saat memotret dampak kerusakan tambang di tengah harapan warga yang tersisa. Teknik penceritaannya pun sangat berfokus pada problematika sosial dan kehidupan nyata, yang bertujuan memancing empati pembaca terhadap perjuangan melawan penambangan ilegal maupun legal yang merusak ekosistem.
Salah satu aspek menarik sekaligus menantang dalam buku ini adalah penggunaan bahasa Sangihe dalam dialog antartokoh. Hal ini menjadi nilai tambah karena memperkaya kosakata daerah dan wawasan budaya pembaca. Namun, di sisi lain, pembaca yang belum familier mungkin akan sedikit kesulitan pada awalnya. Pembaca perlu beradaptasi dan lebih saksama dalam memahami setiap kalimat agar dapat mendalami jalan cerita secara utuh.
Secara keseluruhan, buku ini sangat penting dibaca oleh semua kalangan untuk menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan terhadap lingkungan. Karya ini memberikan pengingat bahwa tanah bukan sekadar tempat berpijak, melainkan sumber kehidupan utama bagi orang-orang dan ekosistem yang terbentuk di dalamnya. Sebagaimana kutipan dalam buku ini, “Cara termudah untuk menghancurkan sebuah bangsa tanpa perang adalah dengan menghancurkan kultur dan peradabannya.” Maka, melawanlah ketika alammu dirampas, melawanlah ketika moralmu diruntuhkan oleh keculasan, dan tetaplah bersatu sekalipun ketika hukum mengkhianati keadilan.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment