Reporter : Debora Gracia
Suara USU, Medan. Aksi kejahatan jalanan dengan modus baru kembali meresahkan mahasiswa di Kota Medan. Seorang mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), F.A.P. (stambuk 2022), menjadi korban dugaan begal berkedok aparat saat melintas di kawasan Pajus pada Jumat (13/2/2026) malam.
Peristiwa bermula ketika F.A.P. mengantar seorang temannya pulang kerja dari kawasan Harmonika ke kos di samping Alfamart Pajus. Setelah itu, ia hendak kembali ke kosnya di Jalan Berdikari melalui rute yang biasa ia lewati. Ia mengatakan tidak memiliki firasat apa pun karena sudah sering melintasi jalur tersebut.
“Rute itu sering sekali saya lewati, jadi tidak ada firasat apa-apa sebelumnya,” ujarnya.
Sekitar pukul 23.30 WIB, saat berada di putaran balik di depan kuburan Kristen, ia tiba-tiba dihadang dua orang tak dikenal. Salah satu pelaku mencabut kunci sepeda motornya, sementara pelaku lainnya memiting kepalanya dari belakang dan berusaha memaksanya untuk dibawa menggunakan sepeda motor pelaku.
Korban sempat melarikan diri sambil berteriak meminta pertolongan. Namun, situasi berbalik ketika para pelaku berteriak kepada warga dan mengaku sebagai aparat yang tengah menangkap pelaku kejahatan. Ia menjelaskan bahwa teriakan tersebut membuat warga percaya dan mengira dirinya adalah pelaku tindak kriminal.
“Mereka teriak, ‘Kami polisi, tangkap anak itu, pemerkosa anak di bawah umur itu dia,’ sehingga massa mulai berkumpul dan mengira saya pelakunya,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, korban kembali ditangkap, dipukul di bagian perut, serta diancam menggunakan obeng. Seorang oknum berseragam tentara kemudian datang melerai dan membawanya menjauh dari lokasi.
Korban selanjutnya dibawa ke rumah kepala lingkungan (kepling) bersama para pelaku dan sejumlah warga. Dalam perjalanan, tas miliknya diambil oleh salah satu orang yang ikut serta dan isinya digeledah. Namun, setibanya di lokasi, kepling yang dimaksud tidak berada di rumah, sementara pelaku utama justru menghilang.
Ia kemudian diantar kembali ke kos oleh oknum tersebut bersama dua orang yang sebelumnya membawa tas dan sepeda motornya. Dalam perjalanan, korban diminta menyerahkan ponsel beserta PIN karena berada dalam kondisi tertekan.
Setibanya di kos, tas dan ponselnya dikembalikan. Ia mengaku sempat merasa telah ditolong hingga mengucapkan terima kasih, sebelum akhirnya melapor ke Polsek Medan Baru bersama temannya. Saat itulah ia menyadari tablet dan AirPods miliknya hilang dari dalam tas.
Korban mengungkapkan bahwa oknum yang sebelumnya menolongnya justru meminta sejumlah uang agar barangnya dapat ditanyakan kepada massa yang terlibat. Keesokan harinya, oknum tersebut kembali menghubunginya dan menawarkan bantuan untuk menemukan barang yang hilang dengan syarat memberikan uang pinjaman sebesar Rp15 juta. Ia menuturkan bahwa dirinya bahkan disebut sebagai anak orang kaya oleh oknum tersebut. “Dia bilang kalau sudah ditolong harus bisa menolong juga, bahkan menilai saya anak orang kaya. Padahal ayah saya jualan nasi goreng,” ungkapnya.
Merasa tertekan, korban menolak permintaan tersebut. Oknum itu kemudian mengajaknya bertemu di depan RS USU dan kembali mengulang permintaan uang dalam pertemuan tersebut. Korban datang bersama beberapa temannya yang berpura-pura tidak mengenalnya untuk mengamati situasi.
Kasus ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian sebanyak dua kali. Namun, hingga kini belum ada perkembangan terbaru. Korban juga menerima informasi dari seseorang yang mengaku sebagai pihak gadai dan meminta tebusan barang. Bersama polisi, ia sempat mencoba menjebak pelaku saat transaksi langsung, tetapi upaya tersebut gagal karena pelaku mengulur waktu dan barang bukti tidak terlihat.
Menurut korban, lokasi kejadian tidak tergolong sepi dan memiliki penerangan yang cukup, tetapi tidak dilengkapi kamera pengawas. Ia juga mengaku belum pernah mendengar kasus serupa sebelumnya di area tersebut.
Akibat kejadian ini, kondisi fisik dan psikologis korban sempat menurun. Ia mengaku mengalami ketakutan dan trauma selama beberapa hari terakhir hingga berdampak pada kesehatannya.
“Takut, trauma, kesehatan dan mental saya drop beberapa hari ini bahkan sampai sekarang,” katanya.
Ia pun mengimbau mahasiswa lain agar lebih berhati-hati saat beraktivitas pada malam hari, terutama ketika harus pulang sendirian. Ia menekankan pentingnya saling menjaga dan mengabari antar teman demi keamanan bersama.
“Usahakan saling peduli dengan teman, saling mengabari, dan kalau bisa jangan sendiri. Jaga terus barang bawaan kalian,” pesannya.
Kasus ini menambah kekhawatiran mahasiswa terhadap keamanan di sekitar kampus dan kawasan kos. Modus pelaku yang mengaku sebagai aparat dinilai berbahaya karena memanfaatkan kepercayaan masyarakat untuk melancarkan aksinya. Mahasiswa diharapkan meningkatkan kewaspadaan serta segera melapor apabila menemukan hal mencurigakan di lingkungan sekitar.
Redaktur : Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment