
Reporter: Nikolas Supriyanto, Rizqi Putra Permono
Suara USU, Medan. Program studi S1 Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) resmi meluncurkan sebuah buku terjemahan pada Kamis (24/07) yang digelar secara daring melalui zoom meeting. Buku terjemahan berjudul “Jhon Anderson 1823: Misi ke Pantai Timur Sumatera” ini merupakan hasil kolaborasi antara USU dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Ikatan Alumni (IKA) USU, serta didukung pula oleh penerbit Widina Media Utama.
Buku ini diterjemahkan oleh Dr. Bonatua Silalahi, seorang peneliti kebijakan publik dari Universitas Trisakti sekaligus pengurus IKA USU Jakarta Raya. Karya klasik ini mengulas catatan perjalanan John Anderson pada awal abad ke-19 yang menjadi sumber primer penting dalam studi sejarah kolonial dan perdagangan di wilayah Pantai Timur Sumatera.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Dra T. Thyrhaya Zein, MA. selaku Dekan FIB USU menyampaikan, bahwa buku yang dibahas dalam diskusi bersama ini bernilai penting dalam kajian historis dan hubungan diplomatik. Buku ini menyumbangkan banyak pengetahuan terkait Pantai Timur Sumatera dan sangat penting untuk dikaji bersama lebih dalam.
Acara peluncuran ini turut dihadiri oleh jajaran penting akademik dan alumni, termasuk di antaranya Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU Prof. Dr. Dra. T. Thyrhaya Zein, M.A., Ketua dan Sekretaris Program Studi S1 Ilmu Sejarah, perwakilan IKA USU, para dosen dan akademisi Fakultas Ilmu Budaya, serta mahasiswa dari program studi S1 Ilmu Sejarah.
Dr. Muthia Amini., M.Hum. sebagai perwakilan dari Departemen Sejarah FIB UGM, dan Junaidi. S.S., MA. sebagai perwakilan dari Program Studi Ilmu Sejarah FIB USU tampil sebagai pembedah buku yang akan menjelaskan lebih mendalam terkait buku yang diterjemahkan ini.
Bonatua selaku penerjemah buku, menjelaskan bahwa buku ini sangat penting bagi peneliti seperti dirinya. “Saya sudah membaca beberapa karya lain seperti milik Pires dan Mendes Pinto, saya menemukan bahwa catatan milik John Anderson ini sangat lengkap dan bersifat primer. Saya merasa terhormat dapat menerjemahkan kedalam bahasa Indonesia,” ujar Bonatua.
Dalam hasil bedahnya, Mutiah menjelaskan bahwa catatan milik John Anderson merupakan sebuah catatan perjalanan yang sangat signifikan dan penting untuk dipahami karena menjelaskan seputar permasalahan Sumatera Timur. Buku ini juga menerangkan bagaimana penjelajah dari Inggris menjalin hubungan dengan penguasa-penguasa lokal sehingga menjadi sebuah catatan yang lengkap.
Junaidi, S.S., M.A., dosen Ilmu Sejarah FIB USU, menjelaskan bahwa literatur yang ditulis John Anderson sangat kaya akan informasi mengenai wilayah Pantai Timur Sumatera. Ia menuturkan bahwa Anderson adalah seorang pegawai dari East India Company (EIC) yang berasal dari Skotlandia. Sebelum menjelajahi dunia Melayu, Anderson telah mempelajari bahasa Melayu atas perintah pemerintah Inggris. Banyak informasi yang diperolehnya dari kawasan dunia Melayu kemudian ditulis dan diterjemahkan secara sistematis, menjadikannya sumber sejarah penting hingga kini. Atas kinerjanya tersebut, John Anderson dikirim oleh Pemerintah Inggris di Penang untuk melakukan misi ke Pantai Timur Sumatera pada tahun 1823, sebagai bagian dari kebutuhan politik dan ekonomi Inggris.
Peluncuran buku ini diapresiasi oleh beberapa audiens terutama mengingat bahwa penerjemah buku, Bonatua, bukan seorang sejarawan yang memiliki basis keilmuan sejarah. Namun, kemampuannya dalam menerjemahkan sebuah karya sejarah cukup menarik dan menunjukkan bagaimana buku-buku sejarah penting untuk multidisiplin ilmu. Dengan semangat kolaboratif antara akademisi lintas kampus dan alumni, peluncuran buku ini diharapkan membuka ruang baru bagi riset sejarah berbasis sumber kolonial, serta memperkaya khazanah keilmuan sejarah Indonesia.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment