Home Kabar Kampus Mahasiswi USU Alami Pelecehan Verbal dan Ekshibisionisme di Kawasan Sumber
Kabar KampusNews

Mahasiswi USU Alami Pelecehan Verbal dan Ekshibisionisme di Kawasan Sumber

Share

Reporter: Deswina Listiani Matondang

Suara USU, Medan. Seorang mahasiswi Universitas Sumatera Utara (USU), L.N.P., mengaku mengalami dugaan pelecehan seksual verbal dan tindakan ekshibisionisme di sekitar Indomaret Sumber pada Jumat (03/04) sekitar pukul 18.00 WIB. Insiden tersebut terjadi saat korban berjalan pulang menuju kos bersama seorang temannya usai mengikuti ibadah Jumat Agung.

Sebelum kejadian, korban dan temannya sempat makan di salah satu tempat makan di kawasan Sumber. Saat itu, seorang pengamen datang seorang diri untuk mengamen di lokasi tersebut. Setelah selesai mengamen, orang tersebut pergi dan tidak menimbulkan kecurigaan.

Korban menuturkan bahwa saat berjalan menuju kos sambil berbincang, ia mendengar seseorang memanggil dari arah sekitar Indomaret Sumber. Ketika menoleh, korban melihat sosok yang sebelumnya ditemui sebagai pengamen tersebut sedang duduk sambil memperlihatkan alat kelaminnya serta melontarkan ucapan yang mengarah pada pelecehan seksual.

“Dia memanggil saya dua kali. Saat saya menoleh, saya melihat dia sedang duduk sambil memperlihatkan alat kelaminnya dan melontarkan pertanyaan tidak senonoh terkait tubuhnya,” ungkap korban.

Korban mengaku terkejut karena kejadian tersebut berlangsung secara tiba-tiba di ruang publik yang cukup ramai. Menurut pengakuannya, ia langsung merasa gemetar dan ketakutan hingga secara refleks berteriak atas tindakan yang dialaminya.

Respons korban membuat terduga pelaku segera melarikan diri dan bersembunyi. Teriakan korban sempat menarik perhatian beberapa orang di sekitar minimarket, tetapi korban mengaku tidak ada warga yang menghampiri atau memberikan bantuan secara langsung saat kejadian berlangsung.

Korban mendeskripsikan terduga pelaku sebagai laki-laki berkulit gelap dengan penampilan dekil, berambut gondrong yang diikat, memiliki tinggi sekitar 165 sentimeter, dan kerap membawa ukulele saat mengamen di kawasan tersebut.

Akibat kejadian itu, korban mengaku mengalami syok dan ketakutan, terutama ketika harus melewati kawasan yang sama pada sore hingga malam hari. “Saya merasa gemetar dan takut setelah kejadian itu. Sampai sekarang saya masih merasa trauma ketika harus melewati lokasi tersebut, terutama pada sore atau malam hari,” ungkapnya.

Korban juga mengaku sempat kembali melihat orang yang sama pada Selasa (21/04) saat pulang membeli makanan. Menurut pengakuannya, orang tersebut sedang duduk bersama temannya di depan Indomaret Sumber dan kembali memanggil dirinya. Meski tidak melakukan tindakan serupa, korban tetap merasa tidak aman dan memilih segera meninggalkan lokasi.

Sejak kejadian tersebut, korban mengaku menjadi lebih waspada ketika harus keluar malam, termasuk untuk keperluan sehari-hari seperti membeli makanan.

“Sekarang saya jadi lebih takut ketika keluar malam, meskipun hanya untuk membeli makanan. Saya berharap tidak ada lagi orang lain yang mengalami kejadian seperti ini,” katanya.

Korban berharap adanya penertiban terhadap individu-individu yang kerap berkumpul dan mengamen di kawasan tersebut apabila dinilai mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat sekitar.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa dugaan pelecehan seksual di ruang publik, termasuk tindakan ekshibisionisme dan catcalling, masih dapat terjadi di sekitar lingkungan kampus. Dampaknya tidak hanya menimbulkan rasa takut sesaat, tetapi juga memengaruhi rasa aman dan aktivitas sehari-hari korban.

Mahasiswa maupun warga sekitar diharapkan lebih peduli terhadap situasi serupa dan tidak ragu membantu apabila melihat seseorang mengalami gangguan di ruang publik. Selain itu, pengawasan di titik-titik yang dinilai rawan di sekitar kawasan kampus juga dinilai penting untuk meningkatkan rasa aman bagi mahasiswa dan masyarakat.

Redaktur: Debora Gracia Nauli

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.