SUARA USU
Sosok

Mengenang Sosok Bunda Teresa, Biarawati yang Mengabdikan Hidupnya Melayani Tuhan dan Sesama

Oleh: Joy Natalia Sidabutar

Suara USU, Medan. Gonxha Bojaxhiu, yang akrab kita kenal sebagai Bunda Teresa, lahir pada 26 Agustus 1910 di Skopje, Makedonia. Nama “Gonxha” sendiri memiliki arti sebagai “kuncup mawar” atau “kuncup kecil”. Agnes, demikian dia dipanggil setelah dibaptis, menghadapi kehidupan bersama Ibu dan tiga saudaranya setelah sang Ayah meninggalkan mereka saat Agnes berusia 8 tahun. Ibunya, dengan penuh kasih sayang, mengurus anak-anaknya di lingkungan Katolik yang hangat.

Pada masa kecilnya, Agnes terpesona oleh kisah-kisah kehidupan misionaris dan pelayanan mereka di Benggala. Saat berusia 12 tahun, dia yakin dan berkomitmen untuk hidup yang religius, merasa dipanggil untuk melayani orang miskin. Keputusan akhirnya diambil pada 15 Agustus 1928, saat berdoa di kuil Madonna Hitam di Letnice, tempat yang sering dikunjunginya untuk berziarah. Pada usia 18 tahun, Agnes akhirnya meninggalkan rumahnya untuk bergabung dengan Kesusteran Loreto di Irlandia sebagai misionaris, dan sejak itu, dia tidak pernah melihat Ibu dan saudara perempuannya lagi.

Setahun setelahnya, Agnes bergabung dengan Biara Ordo Suster-suster Loretto di Irlandia sebagai postulan untuk mempelajari bahasa Inggris. Selanjutnya, dia melanjutkan pendidikan novisiatnya di Darjeeling, India. Saat itu, dalam memilih nama religiusnya, ia awalnya memilih Thérèse de Lisieux, yang merupakan Santa Pelindung para misionaris. Namun, karena nama itu sudah dipilih oleh salah satu biarawati di biara, Agnes memutuskan untuk menggunakan pengejaan Spanyol, yaitu Teresa.

Selama periode 11 tahun, dari 1929 hingga 1948, Bunda Teresa mengajar mata pelajaran Geografi di Sekolah Menengah Atas Santa Maria di Kolkata. Panggilan Tuhan terus berkobar dan terdengar melalui peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Suster Teresa. Pada tahun 1944, panggilan Tuhan untuk melayani orang miskin di jalanan Kolkata semakin menguat. Namun, karena kondisi makanan dan beban kerja yang berat pada saat itu, Suster Teresa jatuh sakit dan tidak mampu lagi melanjutkan tugas mengajar, sehingga dia dikirim ke kaki pegunungan Himalaya.

Pada 10 September 1946, Teresa merasakan “panggilan” ketika sedang bepergian dengan kereta api. Pada saat itu, dia mendengar kata-kata “saya haus”. Sejak saat itu, dia memutuskan untuk meninggalkan biara dan memberikan bantuannya kepada orang-orang miskin dengan hidup bersama mereka. Keputusan ini dianggap sebagai sebuah perintah, dan Teresa yakin bahwa kegagalan untuk memenuhi panggilan tersebut akan menghancurkan imannya. Satu-satunya yang diperlukan hanyalah mengucapkan “ya” terhadap panggilan Tuhan.

Pada tanggal 8 Desember 1948, ia memulai tugas misionarisnya bersama orang miskin dengan mengadopsi kewarganegaraan India. Ia menghabiskan beberapa bulan di Patna untuk mendapatkan pelatihan medis dasar di Rumah Sakit Keluarga Kudus, sebelum akhirnya berani memasuki daerah kumuh. Upayanya dengan cepat menarik perhatian pejabat India, termasuk perdana menteri yang mengungkapkan apresiasinya. Meskipun tahun pertamanya penuh dengan tantangan, tanpa penghasilan dan harus memohon makanan serta perlengkapan, semuanya terbayarkan setelah puluhan tahun melayani dengan rahmat, tekad yang kuat, dan kebijaksanaan ilahi. Semakin banyak orang yang tertarik untuk terlibat dalam pelayanan Bunda Teresa di tengah-tengah orang miskin.

Pada 7 Oktober 1950, Teresa mendapatkan persetujuan dari Vatikan untuk memulai kongregasi keuskupan, yang kemudian berkembang menjadi Misionaris Cinta Kasih. Misi kongregasi ini adalah merawat “mereka yang lapar, telanjang, tunawisma, orang cacat, orang buta, penderita kusta, dan semua yang merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, diabaikan oleh masyarakat, orang yang dianggap sebagai beban dan dihindari oleh semua orang”. Setelah mendapat pengesahan dari Paus Pius ke XII, Kongregasi Misionaris Cinta Kasih mendirikan rumah pertama mereka yang dikenal sebagai Nirmal Hriday.

Selama bertahun-tahun, Bunda Teresa memberikan pelayanan tanpa pamrih, sehingga kongregasi ini tumbuh dan berkembang, dengan jumlah biarawati mencapai 4.000 orang di 123 negara. Mereka melayani orang-orang miskin dan sekarat di pemukiman kumuh di 160 kota di seluruh dunia.

Pada tahun 1979, Bunda Teresa dianugerahi Nobel. Saat acara penerimaan penghargaan, ia meminta pembatalan perayaan makan malam mewah dan mengusulkan agar dana yang telah dialokasikan untuk itu diberikan kepada kaum miskin di Kolkata. Pada tahun 1980, Bunda Teresa mendirikan rumah-rumah untuk korban kecanduan obat, pelacur, dan wanita cacat, serta mendirikan banyak panti asuhan dan sekolah untuk anak-anak miskin. Pada 15 Februari 1992, Putri Diana mengunjungi Bunda Teresa dan menyaksikan serta menyentuh secara langsung orang-orang miskin yang dilayani olehnya.

Dalam wawancara dengan Nodlaig McCarthy pada tahun 1974, Bunda Teresa menyampaikan pesan spiritual bahwa panggilan hidupnya adalah kelanjutan dari kerinduannya pada Kristus, diamanatkan untuk melayani mereka yang termiskin, tidak diinginkan, atau diabaikan, dengan membawa cinta, perdamaian, dan kegembiraan. Dalam percakapannya dengan Tom O’Connor, Bunda Teresa memberikan pesan spiritual untuk menghormati kehidupan yang belum lahir agar terhindar dari aborsi. Ia juga mendorong orang untuk mendatangi dan melihat orang-orang miskin di sekitar, serta memberikan sentuhan kasih kepada mereka. Kegembiraan dan saling mencintai dalam keluarga menjadi dorongan untuk saling berkorban dan mengajarkan pentingnya berdoa satu sama lain.

Pada 13 Maret 1997, Bunda Teresa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala Misionaris Cinta Kasih dan menyerahkan tanggung jawabnya kepada Suster Nirmala Joshi karena alasan kesehatan. Beliau meninggal dunia pada 5 September 1997 akibat penyakit jantung.

Setelah kematiannya, Bunda Teresa diumumkan menjadi beata dalam proses pengangkatan orang kudus Gereja Katolik, yang merupakan tahap pertama dalam proses tersebut. Paus Yohanes Paulus II memberikan gelar Beata Teresa dari Kolkata kepada beliau. Jenazah Bunda Teresa dipertahankan dengan tenang di Gereja St. Thomas, Kolkata, selama satu minggu sebelum upacara pemakamannya pada September 1997. Pemerintah India memberikan pemakaman kenegaraan sebagai tanda terima kasih atas jasa beliau kepada kaum miskin dari berbagai agama di India. Kematiannya ditangisi baik di masyarakat sekuler dan religius.

Redaktur: Tamara Ceria


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Mengenal Pierre Tendean, Pahlawan Revolusi Berdarah Prancis

redaksi

Djamin Ginting: Pahlawan Dibalik Nama Jalan Terpanjang di Indonesia

redaksi

Kilas Balik Sejarah, Ratu Kalinyamat “Perempuan Penguasa Pesisir Jawa”  

redaksi