
Oleh: Dea Alya Chantika Sianipar
Suara USU, Medan. Di dalam kehidupan setiap anak, keluarga adalah lingkungan pertama dan paling berpengaruh. Dari keluarga lah anak belajar banyak hal, mulai dari berbicara, bersikap, hingga mengenai apa itu benar dan salah. Keluarga bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tempat anak membentuk jati diri. Sayangnya, di zaman sekarang banyak keluarga mulai kehilangan momen kebersamaan karena kesibukan, kemajuan teknologi, dan minimnya waktu luang bersama anak.
Anak-anak saat ini menghadapi berbagai tantangan yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Media sosial, game online, pergaulan bebas, dan lingkungan sekitar bisa membuat anak terpengaruh dan mudah terbawa arus. Jika tidak didampingi dengan baik, anak bisa terjebak dalam masalah seperti kecanduan gadget, kenalan remaja, bahkan putus sekolah. Karena itu, peran keluarga sebagai pembimbing dan pelindung sangat penting dalam membantu anak bertahan di tengah derasnya pengaruh luar. Di Jawa Tengah, misalnya, Dinas Pendidikan mencatat lonjakan kasus anak yang kecanduan game selama masa pandemi. Akibatnya, prestasi menurun, dan banyak dari mereka mengalami perubahan perilaku (CNN Indonesia, 2022).
Di salah satu kota besar di Indonesia, seorang siswa SMP dilaporkan putus sekolah karena terjerumus ke pergaulan yang salah. Ia lebih sering nongkrong hingga larut malam dan akhirnya kehilangan semangat untuk belajar. Orang tuanya tidak mengetahui apa yang terjadi karena jarang berbicara dengan anaknya dan mengira semuanya baik-baik saja. Ini menjadi contoh nyata bahwa tanpa komunikasi dan perhatian dari keluarga, anak bisa kehilangan arah.
Fungsi keluarga seharusnya menjadi tempat pertama anak mengenal norma, sopan santun, dan cara bersikap. Lewat kedekatan emosional dan komunikasi yang hangat, orang tua bisa menjadi contoh dan tempat anak merasa aman. Ketika anak merasa dihargai dan didengarkan, mereka lebih terbuka dan tidak mudah lari ke hal-hal negatif. Sebaliknya, jika suasana di rumah dipenuhi ketegangan, kurangnya kehangatan emosional, dan anak merasa tidak didengarkan, maka rumah tak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk bertumbuh. Dalam situasi seperti ini, anak cenderung mencari pelarian ke luar, entah melalui pergaulan, dunia maya, atau aktivitas yang dianggap bisa memberi pelampiasan. Sayangnya, tidak semua pelarian itu aman dan justru bisa menjerumuskan anak ke lingkungan yang salah.
Peran setiap anggota keluarga sangat menentukan bagaimana seorang anak tumbuh dan berkembang. Ayah dan ibu bukan hanya perlu hadir secara fisik di rumah, tetapi juga secara emosional menjadi sosok yang bisa diajak bicara, tempat anak merasa aman, dan sumber kasih sayang yang tak tergantikan. Terkadang, hal sederhana seperti mendengarkan cerita anak tentang harinya di sekolah, menemani belajar, atau memberi pelukan hangat di saat mereka sedih bisa memberikan dampak besar bagi kesehatan emosional mereka. Namun, sayangnya, tidak semua anak mendapat dukungan seperti itu di rumah. Di Aceh, seorang anak SD diketahui menjadi pendiam dan mulai menarik diri dari lingkungan sekolah karena sering menyaksikan pertengkaran orang tuanya setiap malam (Kompasiana, 2023). Ketegangan yang ia saksikan di rumah terbawa hingga ke kelas, memengaruhi perilaku dan semangat belajarnya. Ia tidak membawa buku atau tugas yang tertinggal, tetapi luka emosional yang tidak terlihat, dan ini yang sering kali luput dari perhatian.
Selain orang tua, pekerja sosial juga berperan penting dalam membantu keluarga yang tengah menghadapi masalah seperti tekanan ekonomi, konflik rumah tangga, atau pola asuh yang keliru. Dengan pendampingan yang tepat, pekerja sosial bisa menjadi jembatan solusi, membantu orang tua memahami cara mendidik yang lebih sehat, serta mencegah anak terjerumus ke dalam perilaku menyimpang.
Membentuk anak yang baik di masa kini memang penuh tantangan, namun bukan hal yang mustahil. Kuncinya ada pada kesadaran keluarga untuk hadir secara utuh, tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga emosional. Rumah yang hangat, komunikasi yang terbuka, dan kehadiran orang tua dalam setiap fase tumbuh kembang anak akan menciptakan pondasi yang kuat bagi masa depan mereka.
Jika keluarga mampu menjalankan perannya dengan baik, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berempati, mempunyai prinsip, dan mampu menghadapi tantangan zaman. Dan jika ada hambatan, tak perlu ragu mencari bantuan. Karena membesarkan anak bukan hanya urusan keluarga, tetapi juga bentuk tanggung jawab bersama demi kesejahteraan sosial yang lebih luas.
Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Sosiologi Keluarga untuk Kesejahteraan Sosial dengan Dosen Pengampu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. dan Dra. Berlianti, M.SP.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment