SUARA USU
Entertaiment Film

The Creator: Perang Manusia dan Robot di Masa Depan

The Creator: Pertarungan Manusia dan Robot di Masa Depan – Suara USU
The Creator: Pertarungan Manusia dan Robot di Masa Depan – Suara USU

Oleh: Zahra Zaina Rusty/Nadira Arfan

Suara USU, Medan. Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan merupakan topik yang banyak diperbincangkan di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Timbul banyak pertanyaan seperti, apakah kecerdasan buatan dapat menggantikan peran manusia di masa yang akan datang? Atau bahkan justru manusia berhasil bersaing dan tetap mempertahankan eksistensinya sebagai sumber daya yang memadai masa sekarang dan masa depan?

Tahun 2060 menjadi saksi perang epik antara manusia dan kecerdasan buatan dalam film “The Creator” yang memicu diskusi mendalam tentang kemungkinan kecerdasan buatan mengancam eksistensi manusia di masa depan. Saat kita menapaki era modern 2023, kehadiran kecerdasan buatan merasuk ke berbagai sektor dari dunia informatika hingga industri memantik bayangan masa depan yang penuh kemajuan.

Amerika Serikat yang sebelumnya menjadi tonggak perkembangan kecerdasan buatan, mendapati dirinya menolak kehadiran teknologi yang pernah mereka pelopori. Insiden traumatis di salah satu negara bagian meletupkan dendam, memicu perang yang mengorbankan banyak nyawa, baik manusia maupun robot.

Dalam puncak kepedihan perang, suara Asia bersuara, menyampaikan bahwa bahkan robot kecerdasan buatan memiliki “hati” lebih dari NOMAD Amerika Serikat, yaitu sebuah organisasi militer yang dibentuk khusus untuk memerangi kecerdasan buatan. Walaupun warga sipil tak terlibat langsung merasakan kepahitan konflik, robot menunjukkan tekad untuk membantu mereka menghindari resistensi NOMAD.

Kisah dalam film ini dimulai dari bencana besar di Los Angeles yang disebabkan oleh robot kecerdasan buatan. Di masa depan, kecerdasan buatan lebih mendominasi kehidupan sosial lebih dari manusia. Barat memberikan respons dengan melarang robot secara total, sedangkan Timur terus mengembangkan teknologi hingga robot menyerupai manusia.

Konflik mencapai puncaknya dalam perang antara Barat dan Timur, dengan Amerika melawan negara Asia yang menjadi pusat penciptaan robot. Joshua, mantan agen pasukan khusus, direkrut oleh NOMAD untuk memburu Nirmata, arsitek robot yang mengembangkan senjata misterius dengan potensi mengakhiri perang dan kehidupan manusia.

Dalam perjalanan melintasi garis musuh, Joshua menemukan bahwa senjata pemusnah sejatinya adalah robot kecil bernama Alphie. Insiden tak terduga memisahkan tim elitnya, memaksa Joshua mencari istrinya yang diyakini telah tiada.

Dengan bantuan Alphie, Joshua menjelajahi wilayah Asia untuk menemukan cinta yang hilang. Namun upaya ini membawanya pada tindakan ilegal yang mengakibatkan dirinya dianggap sebagai pengkhianat oleh NOMAD dan perlawanan robot.

Melalui film ini, mahasiswa sebagai generasi muda dapat memahami pentingnya pengembangan teknologi dengan tanggung jawab serta menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelangsungan eksistensi manusia. Selain itu, kisah ini mengajarkan kita untuk tidak cepat menyimpulkan sesuatu karena setiap tindakan memiliki konsekuensi, meskipun terkadang kita terlalu egois dan selalu menanggap diri kita benar dan mengabaikan kisah dari sisi lainnya.

Redaktur: Grace Silva


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Hi Hello (Day6), Aku dan Kamu Menjadi Kita 

redaksi

 Mantappu Jiwa: Kisah Semangat Jerome Polin dari Matematika ke YouTube

redaksi

Album ‘Merakit’: Langkah Kedua Dari Perjalanan Karier Seorang Yura Yunita

redaksi