Home Kabar Kampus Tim Delegasi FH USU Raih Prestasi di Ajang Atma Jaya Business Law Competition 2026
Kabar Kampus

Tim Delegasi FH USU Raih Prestasi di Ajang Atma Jaya Business Law Competition 2026

Share

Reporter: Ruth Jelita Laia

Suara USU, Medan. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH USU) kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional dengan meraih gelar Best Memorandum pada kategori Legal Opinion Competition serta 2nd Place Winner pada kategori Contract Drafting Competition dalam ajang Atma Jaya Business Law Competition (ABLC) 2026 yang berlangsung di Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Minggu (16/08/2026). Prestasi tersebut diraih setelah delegasi FH USU berhasil mengungguli berbagai tim mahasiswa hukum dari perguruan tinggi ternama di seluruh Indonesia lewat penguasaan argumentasi dan penyusunan draf hukum yang komprehensif.

Dalam kompetisi ini, FH USU mengirimkan dua tim delegasi, yaitu Tim Contract Drafting dan Tim Legal Opinion. Tim Contract Drafting beranggotakan Erica Cerelia Sitompul selaku ketua delegasi, Zio Safta Arroyan Ratta, Dhita Natannia Riaogi Sihombing, Mardina Anindhita Kusumadewi, Felesia Rotua Simanjuntak, dan Rivaldo Ferdinand T. Sementara itu, Tim Legal Opinion diketuai oleh Zepanya Reh Ulina Br. Bangun bersama rekannya, Gita Lucia Gultom. Keduanya berhasil membuktikan kompetensi akademis FH USU di hadapan dewan juri dan peserta dari berbagai universitas lain.

Atma Jaya Business Law Competition (ABLC) 2026 sendiri merupakan agenda kompetisi hukum bisnis tahunan yang diselenggarakan oleh Atma Jaya Business Law Society (ABLS) Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Ajang ini menjadi ruang bagi mahasiswa hukum untuk mengasah ketajaman analisis yuridis, merancang argumentasi hukum, serta menguji penerapan teori ke dalam praktik profesional. Tahun ini, ABLC berfokus pada dua cabang perlombaan utama, yakni Legal Opinion Competition dan Contract Drafting Competition.

Ketua Tim Contract Drafting, Erica Cerelia Sitompul, menjelaskan bahwa keikutsertaan timnya didasari keinginan untuk mendalami bidang perancangan kontrak. Bidang ini dinilai penting bagi mahasiswa hukum, tetapi belum banyak dibahas secara mendalam pada perkuliahan reguler. “Kompetisi ini juga menjadi kesempatan baik untuk menguji sejauh mana pemahaman kami terhadap hukum kontrak dapat diterapkan secara nyata,” ungkap Erica.

Dalam proses persiapan, tim membagi tugas sesuai keahlian tiap anggota, melakukan riset bersama, serta menyusun draf kontrak secara bertahap. Draf tersebut dievaluasi berulang kali sebelum hari perlombaan. Tim juga rutin berdiskusi dan berlatih presentasi untuk memastikan seluruh anggota memahami isi kontrak secara menyeluruh, tidak hanya bagian yang menjadi tanggung jawab personalnya.

Erica juga menyebutkan bahwa tantangan utama yang dihadapi adalah membagi waktu antara kegiatan akademik dan persiapan kompetisi. Untuk mengatasinya, tim membuat jadwal diskusi rutin dan saling mendukung agar persiapan dapat selesai tepat waktu.

Menurut Erica, kekompakan dan komunikasi menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan tim. “Kami rasa faktor utamanya adalah kekompakan tim dan komunikasi yang baik selama proses persiapan. Setiap anggota saling melengkapi dan terbuka terhadap masukan, sehingga hasil akhirnya merupakan kerja sama yang solid, bukan usaha individu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kompetisi ini memberi pelajaran mengenai pengelolaan waktu, cara berpikir kritis, penerimaan masukan, serta keberanian mencoba hal baru di luar kelas.

Sementara itu, Tim Legal Opinion, Zepanya Reh Ulina Br. Bangun dan Gita Lucia Gultom, menyampaikan bahwa cabang legal opinion tidak hanya menguji kemampuan memberikan pendapat hukum. Lomba ini menuntut peserta untuk mengidentifikasi masalah, menemukan dasar hukum, menganalisis fakta, hingga menawarkan solusi hukum yang dapat diterapkan.

Sebelum kasus posisi diterima, tim melakukan riset tema melalui literatur buku, jurnal terakreditasi, peraturan perundang-undangan, hingga aturan internasional. Setelah itu, tim membedah persoalan kasus secara menyeluruh dengan memetakan setiap pihak yang terlibat, hubungan hukum, kronologi transaksi, dan sengketa hukum yang ada. Setiap isu hukum kemudian dikorelasikan dengan dasar hukum yang relevan serta diuji kesesuaiannya dengan fakta kasus. “Proses inilah yang akhirnya membantu kami menghasilkan berkas yang sistematis dan applicable sehingga mendapatkan penghargaan Best Memorandum,” ujar Zepanya dan Gita.

Tantangan yang dihadapi Tim Legal Opinion terutama adalah kompleksitas kasus yang melibatkan banyak pihak dan ragam hubungan hukum, ditambah dengan batas waktu pengerjaan yang ketat. Tim mengatasi hal tersebut dengan mengevaluasi ulang pemetaan hubungan hukum para pihak, alur transaksi, dokumen pendukung, dan skema pembayaran agar berkas argumentasi tetap konsisten.

Zepanya dan Gita menilai keberhasilan meraih Best Memorandum bersumber dari pembagian peran yang efektif dalam tim, mulai dari riset, analisis hubungan hukum, penyusunan draf, hingga pengujian kelemahan argumen. “Kalau kami harus memilih satu faktor yang paling menentukan, kami akan mengatakan bahwa bukan siapa yang paling pintar dalam tim, tetapi seberapa baik kami bisa membuat semua orang berpikir bahwa kami satu tim,” jelas mereka.

Bagi seluruh delegasi FH USU, ABLC 2026 menjadi kesempatan mempraktikkan ilmu hukum di luar kelas, melatih kemampuan berargumen, dan bekerja sama di bawah tekanan. Zepanya dan Gita pun berpesan kepada rekan-rekan mahasiswa hukum agar tidak ragu mengikuti kompetisi serupa meski merasa belum berpengalaman. Kemampuan dinilai akan berkembang selama proses persiapan berjalan.

“Jangan takut bertanya, jangan takut berdiskusi, dan jangan takut menerima kritik. Dalam tim, jangan merasa bahwa argumentasi kita harus selalu benar. Justru ketika argumentasi kita dibantah oleh teman satu tim, kita mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya sebelum dibantah oleh lawan,” pungkas mereka.

Tim FH USU juga mengingatkan pentingnya memilih rekan yang mau berproses dan terbuka terhadap koreksi. “Orang hebat tidak tumbuh dari kemudahan, tetapi dari mereka yang mau berusaha, berjuang, dan tidak menyerah dalam menghadapi setiap proses,” tutup Zepanya dan Gita.

Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.