Home Kabar Kampus Angkat Isu Kekerasan Seksual, Mahasiswa FKG USU Juara 1 TSArt 2026
Kabar Kampus

Angkat Isu Kekerasan Seksual, Mahasiswa FKG USU Juara 1 TSArt 2026

Share

Reporter: Suci Rahmawati Siregar

Suara USU, Medan. Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Universitas Sumatera Utara (USU) dalam ajang TSArt: Sparking Impact, Art in Motion for the Goals. Tim yang beranggotakan Muhammad Rifqi Aditya, Aisyah Nur Rahmaniah, dan Samuel Tito Nicholas berhasil meraih Juara 1 Kategori Poster Edukasi Sosial dalam kompetisi yang berlangsung pada 17 Juli–1 Agustus 2026. Prestasi tersebut diraih melalui karya berjudul “Berani Bersuara, Putus Rantai Kekerasan Seksual” yang mengangkat isu kekerasan seksual. Karya tersebut disusun dengan bimbingan drg. Kholidina Imanda Harahap, M.DSc., sebagai dosen pendamping.

Melalui karya tersebut, tim mengedukasi masyarakat untuk tidak menyalahkan korban serta bersama-sama memutus rantai kekerasan seksual. Pesan tersebut disampaikan melalui perpaduan elemen visual dan informasi edukatif dalam poster.

Salah satu anggota tim, Samuel Tito Nicholas, menjelaskan bahwa poster tersebut menampilkan sosok perempuan yang terbelenggu rantai di antara bayangan gelap dan efek kaca pecah. Visual tersebut menggambarkan rasa takut, suara yang terbungkam, serta trauma yang dialami korban kekerasan seksual. Sementara itu, simbol rantai yang terputus menjadi gambaran upaya untuk menghentikan siklus kekerasan.

Pesan tersebut juga diperkuat dengan panduan aksi “PUTUS” yang memberikan langkah bagi masyarakat dalam menghadapi atau mendampingi korban kekerasan seksual.

“Di saat yang sama, kami menghadirkan simbol rantai yang terputus dan panduan aksi PUTUS, mulai dari memahami tujuan, mengutamakan keselamatan, mendampingi tanpa menghakimi, mengupayakan bantuan hukum atau medis, hingga menjaga kerahasiaan,” jelas Samuel.

Menurut Samuel, seluruh elemen tersebut diarahkan untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap korban dan mendorong lingkungan yang lebih aman bagi penyintas.

“Pesan utamanya adalah mengajak masyarakat berhenti menyalahkan korban dan bersama-sama memutus siklus kekerasan tersebut,” lanjutnya.

Dalam proses pembuatannya, tim terlebih dahulu melakukan observasi terhadap persoalan kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan riset menggunakan sejumlah sumber resmi, di antaranya Komnas Perempuan, World Health Organization (WHO), dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). Hasil riset tersebut menjadi dasar bagi tim dalam menyusun konsep dan mengembangkan desain visual poster.

“Dari awal kami melakukan observasi terhadap permasalahan yang ada, kemudian riset menggunakan sumber-sumber resmi. Setelah itu, kami merumuskan konsep, membuat sketsa awal, dan masuk ke tahap eksekusi visual,” jelas Samuel.

Selain menentukan informasi yang tepat, tim juga menghadapi tantangan dalam merangkum materi yang cukup padat ke dalam satu poster. Berbagai informasi, mulai dari definisi, statistik, bentuk kekerasan, hingga langkah yang dapat dilakukan masyarakat, harus disampaikan secara ringkas tanpa membuat tampilan poster terlalu penuh.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim menerapkan hierarki visual yang tegas dan menggunakan warna kontras, seperti merah dan putih, untuk menonjolkan informasi penting. Pemilihan elemen visual juga tetap diarahkan pada pesan perlindungan dan empati terhadap penyintas.

Keikutsertaan dalam TSArt didorong oleh keinginan tim untuk menguji kemampuan sekaligus mengejar prestasi di tingkat nasional. Kompetisi tersebut juga menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengasah keterampilan desain visual dan kemampuan berpikir kritis dalam mengangkat persoalan sosial.

“Selain ingin membawa pulang gelar juara dan membanggakan nama almamater, kami juga ingin menunjukkan bahwa mengejar prestasi bisa dilakukan sekaligus dengan membawa dampak sosial yang nyata bagi masyarakat,” ujar Samuel.

Menutup wawancara, Samuel berpesan agar mahasiswa tidak ragu memanfaatkan kemampuan dan media yang mereka kuasai untuk menyuarakan isu-isu penting di tengah masyarakat.

“Jangan pernah ragu menggunakan bakat dan media yang kalian kuasai untuk menyuarakan isu yang penting. Pilihlah topik yang benar-benar kalian pedulikan, lakukan riset yang mendalam, dan bangun kerja sama tim yang solid,” pesannya.

Redaktur: Erni Yuli Simatupang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.