
Oleh : Lucy Kezia Simarmata
Suara USU, Medan. Jejeran makanan khas yang tersebar di berbagai provinsi yang ada di Indonesia tak jarang memiliki asal muasalnya tersendiri. Sama halnya seperti peradaban yang bertonggakan sejarah, makanan khas Jawa yang satu ini tak lepas dari sejarahnya.
Jika kita kembali berjalan mundur ke belakang, hidangan ini memiliki sejarah panjang. Pada era penjajahan Jepang, tiwul digunakan sebagai alternatif atau pengganti nasi ketika rakyat pribumi tidak cukup mampu untuk membeli beras. Khususnya pada masyarakat di daerah-daerah tertentu di Jawa, seperti Wonosobo, Gunungkidul, Pacitan, dan Blitar.
Di tengah keberagaman kuliner tradisional yang ada di nusantara tercinta, tiwul hadir sebagai simbol ketahanan dan kreativitas masyarakat Jawa. Tiwul terbuat dari bahan-bahan yang sebenarnya tergolong sederhana, namun tetap memerlukan ketelatenan dalam pengolahannya.
Tiwul pada dasarnya terbuat dari singkong yang telah difermentasi yang tentunya diproses lagi dengan sebuah teknik pengolahan pangan hingga menghasilkan bahan baku bernama tepung gaplek. Tepung gaplek menjadi bahan dasar kuliner khas Jawa ini. Sebelum dikukus, tepung gaplek ditumbuk terlebih dulu. Beberapa bahan pangan lainnya hadir untuk melengkapi tiwul. Setelah ditumbuk, selanjutnya tepung dikukus bersamaan dengan sedikit gula. Tiwul atau tiwul biasanya juga disajikan dengan kelapa parut yang dapat ditambahkan dengan sedikit garam.
Namun, seiring berjalannya waktu masyarakat semakin kreatif dalam cara menghidangkan kuliner ini. Beberapa bahan seringkali ditambahkan untuk menciptakan sensasi rasa yang sempurna. Contohnya seperti ketan hitam, atau jagung yang telah dipipil. Tak berhenti di situ, beberapa daerah kerap mengkreasikan tiwul menjadi olahan modern seperti tiwul goreng atau olahan dessert berbahan dasar tiwul. Dengan begitu, makanan khas Jawa ini akan terus lestari dan tidak akan hilang dari peradaban kuliner Indonesia.
Tiwul menawarkan rasa yang unik, sensasi manis alami dari singkong akan berhasil tercicipi saat mengunyah makanan ini. Selain itu, aroma dan rasa yang gurih parutan kelapa akan membuat tiwul menjadi semakin iconic. Rasanya sederhana seperti jajanan tradisional pada umumnya, cocok untuk lidah yang rindu cita rasa alami dan tidak terlalu kuat.
Jika berbicara tentang tekstur, tiwul cenderung empuk dan berbutir halus. Makanan tradisional yang satu ini tidak lengket seperti nasi, tiap butirnya terpisah dengan ukuran yang berbeda, ada yang halus ada sebagian yang kasar. Waktu pengukusan juga perlu diperhatikan saat sedang memproses pangan ini, pengukusan yang cukup akan membuat tiwul terasa lebih empuk. Tidak kering dan keras.
Tiwul memiliki gizi yang baik untuk dikonsumsi, karena terbuat dan berbahan dasar singkong tiwul kaya serat alami dan karbohidrat yang kompleks. Selain itu, memiliki kandungan gula yang lebih rendah jika dibandingkan dengan nasi. Tak cukup sampai di situ, tiwul menawarkan gizi lain yang tak kalah penting, tiwul tidak mengandung gluten sehingga cocok dan aman untuk penderita intoleransi gluten.
Aroma dari hidangan nusantara ini juga sangat unik, didominasi dengan aroma earthy (seperti tanah basah) dan manis alami. Apalagi jika ditambahkan kelapa parut dan gula merah, maka akan memperkaya aromanya.
Harga yang ditawarkan oleh hidangan ini juga sangat ramah di kantong. Tiwul yang sudah dan sudah diproses menjadi makanan jadi biasanya memiliki kisaran harga tiwul manis dengan kelapa gula merah dengan rentang Rp 3.000 sampai dengan Rp 7.000 per porsinya, jika dibeli di pasar tradisional. Harga bisa berbeda-beda tergantung pada ketersediaan singkong, bentuk produk, tempat penjualan, hingga kemasan atau branding.
Jika melihat fakta itu, maka tiwul termasuk makanan yang terjangkau dari berbagai kalangan, terutama jika dibandingkan dengan makanan berbasis gandum atau beras. Tiwul juga menjadi bahan pangan yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan lokal karena menggunakan sumber daya yang mudah diperoleh di dalam negeri.
Redaktur: Katrin Alina
Leave a comment