Home Kabar Kampus Transisi ke E-Voting dan Minimnya Informasi, Pemira FISIP USU 2026 Dibayangi Berbagai Kendala
Kabar Kampus

Transisi ke E-Voting dan Minimnya Informasi, Pemira FISIP USU 2026 Dibayangi Berbagai Kendala

Share

Reporter: Tania Renata Panjaitan

Suara USU, Medan. Pelaksanaan Pemilihan Raya (Pemira) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara berlangsung pada Kamis, 16 April 2026. Pemilihan dilakukan melalui sistem pemungutan suara berbasis komputer, yang diawali dengan uji coba (trial error) e-voting.

Tengku Raihan, salah seorang mahasiswa FISIP yang juga menjadi panitia, menjelaskan bahwa uji coba tersebut bertujuan untuk mengenalkan sistem pemilihan kepada para pemilih.

“Trial error e-voting ini dilakukan supaya kita tahu sistem pemilihannya. Jadi, tahun depan bisa menggunakan cara ini lagi dengan lebih efektif,” jelas Raihan dalam wawancara.

Meski demikian, perubahan sistem pada tahun ini menimbulkan sejumlah kendala, baik dalam tahap persiapan maupun pelaksanaan. Raihan mengungkapkan bahwa kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap mekanisme baru menjadi salah satu hambatan utama.

“Selain itu, akses ke website Satu USU juga bisa jadi kendala,” tambahnya.

Sementara itu, Anggi (20), mahasiswi Ilmu Komunikasi, mengaku belum memperoleh informasi yang menyeluruh terkait Pemira USU 2026. Ia bahkan baru mengetahui adanya Pemira dari temannya.

“Aku baru tahu kalau ada Pemira waktu temanku buka website Satu USU dan kasih tahu aku,” ujarnya.

Minimnya informasi yang diterima juga berdampak pada kurangnya pengetahuan mahasiswa mengenai kandidat. Hal ini dinilai memengaruhi kualitas partisipasi pemilih, karena berpotensi membuat mahasiswa memberikan suara yang tidak selaras dengan preferensi atau nilai yang mereka miliki.

Terbatasnya pemahaman mahasiswa mengenai kandidat, teknik pemilihan, serta visi dan misi turut menjadi tantangan dalam pelaksanaan Pemira tahun ini.

Namun, di balik berbagai kendala tersebut, panitia memastikan bahwa sistem e-voting yang digunakan telah terintegrasi dengan sistem universitas dan dijamin keamanannya.

“Sistem e-voting ini sudah terintegrasi dengan sistem yang disediakan oleh pihak universitas. Kami juga telah berkoordinasi untuk memastikan setiap suara tercatat secara adil dan transparan,” tutur Raihan.

Optimalisasi sistem e-voting dinilai menjadi langkah penting dalam mewujudkan proses pemilihan yang lebih inklusif sekaligus meningkatkan kepercayaan mahasiswa terhadap mekanisme yang diterapkan. Upaya ini juga diharapkan mampu meminimalkan berbagai kendala, terutama terkait keterbatasan informasi dan pemahaman mahasiswa dalam proses Pemira.

Redaktur: Lucy Kezia Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.