Oleh: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak lagi sekadar berfungsi sebagai alat bantu dalam kehidupan sehari-hari. AI kini mulai menjelma sebagai ruang digital untuk mencurahkan perasaan. Fenomena curhat kepada AI menjadi sesuatu yang semakin mudah ditemui, terutama di kalangan generasi muda yang akrab dengan teknologi.
Kehadiran AI dalam ranah emosional ini menawarkan dua hal utama, yakni kemudahan dan kenyamanan. Pengguna dapat menyampaikan perasaan kapan saja tanpa rasa takut dihakimi. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar mengenai apakah AI benar-benar mampu menggantikan peran manusia dalam memahami emosi dan memberikan validasi perasaan.
Survei yang dilakukan oleh Kaspersky menunjukkan bahwa 3 dari 10 orang Indonesia menggunakan AI sebagai pendamping emosional. Selain itu, sebanyak 31 persen pengguna AI di Indonesia mempertimbangkan untuk berbicara dengan AI ketika sedang sedih, angka yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 29 persen. Tren ini didominasi oleh generasi Z dan milenial, sementara kelompok usia yang lebih tua menunjukkan minat yang lebih rendah, yakni hanya 19 persen responden berusia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan untuk curhat kepada AI ketika mereka merasa kesal. Data ini menunjukkan adanya perbedaan pola penerimaan teknologi antar generasi, khususnya dalam konteks penggunaan AI sebagai sarana emosional.
Tidak dapat dipungkiri, kemampuan AI dalam merespons setiap curahan perasaan membuat pengguna merasa didengar dan divalidasi. AI mampu memberikan respons dengan cepat, terstruktur, dan sering kali terasa relevan dengan kondisi pengguna. Hal ini menciptakan kesan bahwa AI memahami emosi manusia secara mendalam, meskipun pada saat yang sama memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana objektivitas AI dalam memahami kompleksitas emosi manusia secara utuh.
AZ, salah satu mahasiswi Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara (USU), mengungkapkan pengalamannya menggunakan AI sebagai tempat curhat. Ia mengaku pernah beberapa kali membagikan hal-hal personal kepada AI. Menurutnya, AI cukup tanggap dalam memberikan respons dengan gaya bahasa yang santai, seolah-olah sedang berbicara secara langsung. Selain itu, AZ juga menilai bahwa jawaban yang diberikan AI terasa logis dan mudah dipahami.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penggunaan tersebut tidak membuatnya bergantung secara emosional. “Tidak ada ketergantungan sama sekali, apalagi sampai menjadi kebiasaan. Ketergantungan itu terjadi karena seseorang terlalu sering curhat ke AI. Ini ditentukan juga dari bagaimana seseorang mengatur dirinya agar tidak berlebihan terhadap sesuatu. Saya sendiri hanya curhat beberapa kali karena iseng,” tuturnya.
Kemampuan AI dalam memahami bahasa manusia memang menjadi salah satu faktor utama yang membuatnya efektif sebagai “teman curhat”. Dalam Jurnal Ilmu Komunikasi berjudul “Fenomena Chatbot AI sebagai Teman Curhat: Implikasi pada Hubungan Antarpribadi di Era Digital”, disebutkan bahwa AI mampu menafsirkan konteks, nada, dan maksud komunikasi dengan cukup baik, sehingga memungkinkan AI merespons secara personal dan menyesuaikan gaya komunikasi dengan penggunanya.
Namun demikian, penggunaan AI sebagai tempat curhat tetap perlu disikapi secara bijak. Di balik kemudahan yang ditawarkan, terdapat sejumlah potensi risiko yang perlu diperhatikan, seperti ketergantungan emosional, ancaman terhadap privasi, hingga berkurangnya kemampuan komunikasi sosial secara langsung.
Beberapa hal penting perlu diperhatikan dalam penggunaannya. Pertama, AI sebaiknya digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti. Meskipun AI dapat menjadi tempat awal untuk meluapkan perasaan, berbagi cerita dengan orang-orang terdekat seperti keluarga dan sahabat tetap menjadi hal yang penting. Kedua, pengguna perlu menetapkan batasan agar penggunaan AI tidak berlebihan dan memicu ketergantungan emosional. Ketiga, penting untuk tetap bersikap kritis terhadap respons yang diberikan AI, dengan menjadikannya sebagai referensi, bukan keputusan utama. Keempat, aspek privasi harus menjadi prioritas dengan tidak membagikan informasi pribadi secara berlebihan. Terakhir, pengguna perlu menyadari kapan harus mencari bantuan profesional, terutama jika menghadapi tekanan emosional yang serius.
Pada akhirnya, penggunaan AI sebagai tempat curhat merupakan pilihan masing-masing individu. Namun, pemanfaatannya perlu dilakukan secara bijak agar tidak menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan nyata. AI dapat menjadi ruang alternatif untuk berbagi perasaan, tetapi peran manusia dalam memberikan empati dan pemahaman tetap tidak tergantikan.
Redaktur: Debora Gracia Nauli
Leave a comment