Home Kuliner Bajigur Warisan Kehangatan dari Tanah Pasundan
Kuliner

Bajigur Warisan Kehangatan dari Tanah Pasundan

Share
Sumber: Freepic

Oleh: Sandrina Nasution

Suara USU, Medan. Bajigur merupakan minuman tradisional khas Sunda yang telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Jawa Barat sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Minuman ini dikenal luas sebagai penghangat tubuh, terutama dinikmati saat cuaca dingin atau hujan. Terbuat dari gula aren, santan, jahe, dan rempah lainnya, Bajigur menyuguhkan rasa manis, gurih, dan hangat yang khas, menjadikannya simbol kehangatan sekaligus kebersamaan.

Minuman ini awalnya dikenal di kalangan petani kopi di wilayah Priangan. Para petani yang bekerja sejak pagi hari atau saat hujan sering kali merasa kedinginan, sehingga mereka merebus air gula aren dan menambahkan jahe untuk menghangatkan tubuh. Seiring waktu, resep tersebut berkembang dengan penambahan santan dan rempah-rempah lain, hingga menjadi Bajigur seperti yang dikenal saat ini.

Bajigur tak hanya berfungsi sebagai minuman penghangat tubuh, tetapi juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Masyarakat Sunda kerap menikmati Bajigur secara bersama-sama setelah bekerja di sawah, membangun rumah, atau dalam momen gotong royong. Minuman ini menjadi bagian dari tradisi, lambang persaudaraan dan solidaritas.

Asal-usul nama “Bajigur” masih diperdebatkan. Salah satu versi menyebut istilah ini berasal dari frasa “bakal digugu” atau “bakal ditiru” karena manfaat dan rasanya yang digemari banyak orang. Versi lain menyebutkan nama tersebut terinspirasi dari bunyi “jreg-jreg” sendok yang mengaduknya. Ada pula kisah rakyat yang menyebutkan Bajigur awalnya hanya dikonsumsi oleh para juragan atau bangsawan, mengingat bahan-bahannya yang dahulu tergolong mewah. Namun, resepnya menyebar luas dan menjadi milik rakyat jelata.

Dari segi rasa, Bajigur menyuguhkan perpaduan manis legit dari gula aren dan gurih lembut dari santan kelapa. Jahe dan pandan menambah aroma harum serta sensasi hangat, sementara tambahan kopi atau sedikit garam sering digunakan untuk menciptakan keseimbangan rasa. Teksturnya kental dan lembut, namun tetap ringan dan lembut di tenggorokan.

Secara visual, Bajigur tampil menggoda dengan warna cokelat keemasan. Hidangan ini kerap disajikan bersama kolang-kaling atau potongan roti tawar, memperkaya tampilan dan rasa. Aroma rempah yang khas dari uapnya mampu membangkitkan selera, membawa kenangan akan suasana pedesaan yang damai.

Selain nikmat, Bajigur juga memiliki manfaat kesehatan. Jahe dipercaya mampu menghangatkan tubuh, meredakan masuk angin, serta melancarkan pencernaan. Gula aren mengandung indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan gula pasir, menjadikannya pilihan pemanis yang lebih sehat. Sementara santan kelapa mengandung asam laurat yang bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Bajigur mudah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari warung kaki lima hingga kafe bergaya tradisional. Harganya pun terjangkau, berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 15.000, tergantung lokasi dan isian tambahan. Dengan harga ramah di kantong dan rasa yang otentik, Bajigur menjadi pilihan favorit lintas generasi.

Minuman ini cocok dinikmati siapa pun dan kapan pun, terutama saat udara dingin. Mahasiswa dapat menjadikan Bajigur sebagai teman begadang yang menyehatkan, sementara keluarga dapat menikmatinya dalam suasana santai di sore atau malam hari. Bagi wisatawan, Bajigur adalah pintu masuk yang manis untuk mengenal budaya dan kearifan lokal masyarakat Sunda.

Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.