Home Tulisan Budaya Patriarki dan Beban Ganda Perempuan Bali dalam Perspektif Sosiologi Keluarga
Tulisan

Budaya Patriarki dan Beban Ganda Perempuan Bali dalam Perspektif Sosiologi Keluarga

Share

Oleh: Earlene Aretha Purba, Elisabeth Kezia Mendrofa, Aurelia Laura Utami Manao, Nadine Agita Sinuhaji

Bali selama ini dikenal sebagai simbol harmoni, baik dalam kehidupan sosial, budaya, maupun keluarga. Namun, di balik citra tersebut, terdapat realitas yang jarang disorot secara kritis oleh masyarakat, yakni beban ganda yang dialami perempuan dalam sistem keluarga yang masih kental dengan budaya patriarki. Fenomena ini tidak hanya menjadi isu gender semata, tetapi juga berkaitan erat dengan kesejahteraan sosial keluarga secara keseluruhan.

Dalam perspektif sosiologi keluarga, setiap anggota keluarga memiliki peran dan fungsi yang saling melengkapi. Idealnya, pembagian peran tersebut bersifat adil dan fleksibel, mengikuti perkembangan zaman serta kebutuhan keluarga. Namun, dalam kenyataannya, Perempuan di Bali malah sering sekali memikul tanggung jawab yang lebih besar dalam keluarga.

Di Bali, perempuan tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga yang mengurus anak, suami, dan pekerjaan rumah, tetapi juga aktif dalam kegiatan ekonomi. Banyak perempuan Bali yang bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, baik di sektor formal maupun informal. Mirisnya, meskipun telah berkontribusi secara ekonomi, tanggung jawab dalam rumah tangga tetap dibebankan juga kepada mereka.

Lebih dari itu, perempuan Bali juga memiliki kewajiban adat dan keagamaan yang cukup kompleks. Mereka terlibat dalam berbagai upacara adat, persiapan sesajen, hingga kegiatan sosial di lingkungan adat Banjar. Keterlibatan inipun merupakan bagian penting dari identitas budaya Bali, tetapi di sisi lain juga menambah beban kerja yang harus ditanggung oleh perempuan.

Kondisi ini mencerminkan adanya double burden atau beban ganda, di mana kaum perempuan harus menjalankan peran dalam ranah domestik, publik, dan sosial budaya secara bersamaan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berdampak pada kelelahan fisik dan mental, menurunnya kualitas hidup, serta berpotensi mengganggu keharmonisan keluarga.

Dari sudut pandang kesejahteraan sosial, keluarga yang sejahtera tidak hanya diukur dari aspek ekonomi, tetapi juga dari kualitas relasi antaranggota keluarga, keadilan dalam pembagian peran, serta terpenuhinya kebutuhan emosional dan psikologis.

Budaya patriarki yang masih mengakar menjadi salah satu faktor utama yang melanggengkan ketimpangan ini. Laki-laki sering diposisikan sebagai pencari nafkah utama, sementara perempuan dianggap bertanggung jawab atas urusan rumah tangga, meskipun realitasnya peran tersebut telah mengalami pergeseran. Sayangnya, perubahan peran perempuan tidak selalu diikuti dengan perubahan peran laki-laki.

Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya pembagian peran yang lebih adil dalam keluarga. Kesetaraan bukan berarti menghapus nilai-nilai budaya, melainkan menyesuaikannya agar tetap relevan dengan kondisi sosial saat ini. Laki-laki perlu didorong untuk lebih terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak, sehingga terciptanya keseimbangan dalam keluarga.

Selain itu, pendidikan dan sosialisasi mengenai kesetaraan gender juga menjadi kunci penting. Baik melalui lembaga pendidikan, media massa, maupun komunitas adat, nilai-nilai keadilan dan kerja sama dalam keluarga perlu terus ditanamkan. Dengan demikian, keluarga tidak hanya menjadi tempat reproduksi budaya, tetapi juga ruang untuk membangun relasi yang lebih sehat dan setara.

Pada akhirnya, harmoni keluarga yang sesungguhnya tidak hanya terlihat dari luar, tetapi juga dirasakan oleh setiap anggotanya. Beban ganda yang dialami perempuan seharusnya menjadi refleksi bersama untuk menciptakan sistem keluarga yang lebih adil. Dengan pembagian peran yang seimbang, kesejahteraan sosial keluarga pun dapat terwujud secara lebih nyata dan berkelanjutan.

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Sosiologi Keluarga untuk Kesejahteraan Sosial dengan Dosen Pengampu Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. dan Ibu Dra. Berlianti, M.SP.

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.