Home Tulisan Bukan Menolak Menikah, Gen Z Takut Jadi Korban Pernikahan yang Salah 
Tulisan

Bukan Menolak Menikah, Gen Z Takut Jadi Korban Pernikahan yang Salah 

Share

Oleh: Anggi Safira Putri Siregar, Fadia Mutiara Husna

Coba perhatikan teman-teman Gen Z di sekitarmu, berapa banyak yang mengatakan ingin menikah, tetapi tidak sekarang? Kamu akan menemukan pernyataan tersebut lebih banyak dari yang kamu kira. Generasi Z yang kerap disebut Gen Z lahir pada tahun 1997-2012, kini Gen Z semakin menunjukkan perbedaan dalam memandang pernikahan. Pertimbangan karier, kestabilan finansial, hingga kesiapan mental menjadi alasan yang sering disebut.

Namun, dibalik semua alasan itu, ada satu kekhawatiran yang jarang diucapkan mereka, bahwa Gen Z takut mengalami kegagalan pernikahan seperti yang mereka lihat dari keluarga atau lingkungan sekitar. Survei Populix yang dirilis pada tahun 2023 mengungkap fakta yang cukup mengejutkan,  mayoritas Gen Z sebenarnya tidak anti-menikah, tetapi sebanyak 61% Gen Z Indonesia mengaku berencana menikah, tetapi tidak dalam waktu dekat. Bahkan 21% dari mereka mengaku tidak memiliki niat untuk menikah sama sekali.  

Kekhawatiran ini sebenarnya tidak muncul begitu saja. Dalam perspektif sosiologi keluarga, sosialisasi paling awal didapatkan dari keluarga. Seorang anak pertama kali belajar tentang relasi, cinta, peran, dan perilaku dasar untuk hidup bermasyarakat bukan dari buku atau bahkan dari media sosial, tetapi dari apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari di rumah. Mereka yang tumbuh di tengah konflik yang tak pernah selesai, pernikahan yang retak, atau orang tua yang tinggal serumah tetapi tidak saling berbicara, tanpa sadar menyerap satu asumsi, yakni pernikahan bisa menjadi tempat pulang yang justru paling melelahkan. 

Dalam kajian sosiologi keluarga, kondisi ini disebut sebagai sosialisasi disfungsional atau sosialisasi yang tidak berjalan secara ideal, di mana keluarga gagal menjalankan fungsinya. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat memahami relasi sehat justru berubah menjadi sumber luka.

Hal ini membuat sikap Gen Z jauh lebih berhati-hati. Bagi mereka, komitmen bukan hanya sekedar janji saja, tetapi soal kesiapan mental, stabilitas finansial, dan cara komunikasi yang sehat. Gen Z bukan anti-cinta. Mereka hanya tidak mau terburu-buru masuk ke dalam sebuah ikatan yang pernah mereka saksikan sendiri berkemungkinan hancur berantakan. Mereka lebih memilih untuk menyelesaikan trauma diri sendiri dahulu atau bisa disebut self-healing, belajar mengenal diri sendiri, agar kelak keluarga yang mereka bangun tidak mewarisi beban yang sama.

Dalam sosiologi keluarga, ada yang disebut rantai trauma antar generasi, yaitu pola keluarga yang tidak sehat dan terus berulang dari satu generasi ke generasi-generasi berikutnya, hal ini akan terus berlanjut jika tidak ada yang memilih untuk berhenti dan mengubahnya. Fenomena inilah sebenarnya yang sedang dilakukan banyak Gen Z. Bukan anti-nikah, tetapi justru berusaha menjadi pemutus rantai trauma (cycle breakers) yang masih berlanjut, agar generasi selanjutnya tidak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak stabil. Mereka ingin menjadi orang tua yang lebih baik dan memastikan bahwa pernikahan bukan sekadar status, tetapi ruang yang benar-benar sehat untuk bertumbuh. 

Oleh karena itu, daripada menghakimi Gen Z sebagai generasi yang terlalu banyak menuntut, cobalah pahami bahwa mereka hanya ingin membangun standar kesejahteraan keluarga yang lebih sehat. Bagi Gen Z, jauh lebih baik menunggu waktu yang tepat dan benar-benar siap secara mental dan finansial  daripada terburu-buru, lalu terjebak dalam siklus penderitaan yang tidak kunjung usai. Pada akhirnya, sosiologi keluarga mengajarkan kita satu hal, yaitu kualitas sebuah keluarga bukan diukur dari seberapa cepat ia terbentuk, tapi dari seberapa sehat ia bertumbuh.  

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Sosiologi Keluarga untuk Kesejahteraan Sosial dengan Dosen Pengampu Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. dan Ibu Dra. Berlianti, M.SP.

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.