Oleh: Lucy Kezia Simarmata
Suara USU, Medan. Karya-karya musikus legendaris Indonesia, Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far yang lebih akrab dikenal sebagai Ebiet G. Ade, selalu memiliki resonansi mendalam, terutama saat masyarakat Indonesia menghadapi cobaan. Ketika bencana alam melanda, satu komposisi miliknya yang secara otomatis terlintas dan sering diputar adalah “Berita Kepada Kawan”. Popularitas abadi lagu ini erat kaitannya dengan citra sang penyanyi yang secara konsisten mengangkat isu-isu lingkungan hidup, tragedi kemanusiaan, dan penderitaan kelompok terpinggirkan. Lebih dari sekadar balada kesedihan, esensi lagu “Berita Kepada Kawan” menyiratkan ajakan tulus bagi para pendengar untuk senantiasa merenungi kuasa Ilahi dan menghargai lingkungan alam semesta.
Pria kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, ini meniti karier sebagai seorang seniman yang dikenal vokal menyuarakan berbagai topik penting dalam lagu-lagunya. Sejak akhir dekade 1970-an hingga saat ini, musikalitas Ebiet G. Ade kerap memotret suasana dan kondisi kehidupan di Indonesia. Sebagian besar karyanya lahir dari pena sendiri. Nama panggung “Ebiet G. Ade” sendiri berasal dari pengalaman masa kursus bahasa Inggrisnya; sang guru kesulitan menyebut “Abid” dan kemudian memanggilnya “Ebiet”, sementara inisial “G” diambil dari nama tengahnya, Ghoffar.
Di antara koleksi lagunya, “Berita Kepada Kawan” merupakan mahakarya yang secara spesifik menyoroti isu musibah. Lagu yang menjadi trek pembuka dalam album keduanya, Camelia II, ini dirilis pada Desember 1979. Kisah di balik terciptanya lagu ini merupakan respons emosional Ebiet terhadap tragedi nyata yang melanda tanah kelahirannya. Saat terjadi bencana Kawah Sinila di Dataran Tinggi Dieng yang melepaskan gas beracun dan merenggut sekitar 150 korban jiwa, Ebiet yang kala itu berada di Yogyakarta merasakan kegelisahan yang mendalam. Perasaan bercampur aduk tersebut ia tuangkan ke dalam catatan pribadinya. Kegelisahan inilah yang akhirnya melahirkan untaian lirik puitis dan penuh perenungan dalam “Berita Kepada Kawan”.
Komposisi ini menyampaikan rasa duka mendalam masyarakat Indonesia terhadap musibah alam. Melalui metafora perjalanan yang menyedihkan, Ebiet menggambarkan penderitaan para korban dengan untaian kata yang menyentuh jiwa. Inti dari komposisi ini adalah seruan agar manusia lebih sensitif dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan kehidupan, sebuah pesan filosofis yang tetap relevan hingga kini.
Lagu ini menyajikan narasi yang mendalam dan berlapis, dimulai dengan perasaan kesepian penyanyi dalam perjalanan melalui daerah yang tandus dan dilanda bencana. Ketiadaan sahabat karib yang diharapkan duduk di sampingnya memperkuat rasa hampa, sementara pemandangan jalanan berbatu dan rerumputan yang mengering menjadi saksi bisu kesengsaraan.
Klimaks emosional terjadi ketika narator berinteraksi dengan korban secara langsung, yang diwakili oleh tangisan pilu seorang anak gembala. Pertanyaan sederhana yang dilontarkan mengungkap realitas brutal: anak tersebut telah kehilangan kedua orang tuanya, ditelan oleh bencana alam. Adegan ini secara pedih menggambarkan betapa banyak nyawa melayang, meninggalkan duka mendalam serta anak-anak yang menjadi yatim piatu. Rasa frustrasi dan isolasi kemudian mendorong penyanyi mencari jawaban kepada elemen alam: karang, ombak, dan matahari.
Namun, ia hanya mendapati keheningan. Keheningan ini menegaskan perasaan kesendirian dalam menanggung beban empati. Pada akhirnya, pandangan diarahkan ke langit sebagai bentuk kepasrahan dan pencarian spiritual. Momen inilah yang melahirkan bagian paling ikonik dan filosofis dari lagu tersebut.
Puncak perenungan hadir dalam pertanyaan retoris tentang penyebab musibah. Ebiet mengajukan dugaan bahwa penderitaan di bumi mungkin merupakan manifestasi kemarahan Ilahi atau bentuk penolakan alam terhadap perlakuan manusia. Ia mempertanyakan apakah Tuhan telah jemu melihat tingkah manusia yang terus-menerus berbuat salah, bahkan berbangga atas pelanggaran moral. Alternatifnya, alam semesta mungkin enggan lagi menjalin persahabatan. Ini merupakan ajakan tegas untuk melakukan introspeksi diri secara kolektif, menggeser fokus dari tragedi semata menuju tanggung jawab spiritual dan lingkungan.
Di era modern ini, meskipun tragedi yang mengilhami lagu tersebut terjadi di Dieng pada 1979, pesan yang dibawa “Berita Kepada Kawan” kembali menggema kuat di tengah bencana yang melanda wilayah Sumatera. Rentetan musibah seperti banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), Aceh, Tapanuli Selatan (Tapsel), hingga Tapanuli Tengah (Tapteng) menyisakan kesedihan mendalam, baik bagi korban langsung maupun masyarakat luas yang menyaksikannya melalui pemberitaan dan media sosial.
Tragedi demi tragedi di Sumatera kembali mengangkat lagu lawas tersebut ke permukaan. Dokumentasi dan kolase foto situasi darurat di lokasi bencana kerap diiringi alunan melankolis “Berita Kepada Kawan”. Lirik puitisnya yang mengungkap kebingungan dan kepasrahan atas takdir terasa sangat selaras dengan suasana batin kolektif saat ini.
Kutipan berbunyi, “Barangkali di sana ada jawabnya, mengapa di tanahku terjadi bencana, mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita,” menjadi begitu populer. Kalimat ini seolah mencerminkan pertanyaan besar yang muncul dari setiap sudut Sumatra yang dilanda banjir dan longsor: apa yang sebenarnya menyebabkan rentetan musibah ini, dan seberapa besar kontribusi perbuatan manusia dalam memicu kemarahan alam? Relevansi lagu ini terletak pada kemampuannya menyalurkan kebingungan dan duka kolektif, terutama ketika bencana yang terjadi berulang kali tidak lagi dipandang sebagai fenomena alam semata, melainkan juga akibat kelalaian dalam pengelolaan lingkungan.
Kejadian di Sumut, Sumbar, Tapsel, Tapteng, dan Aceh menggarisbawahi bahwa lagu ini melampaui batas waktu dan geografis. Meski berasal dari inspirasi bencana di Jawa, kini lagu tersebut menjadi soundtrack duka bagi masyarakat di berbagai daerah. “Berita Kepada Kawan” tidak hanya menjadi wujud kepedulian antarsesama, tetapi juga pengingat bahwa hubungan antara manusia dan alam merupakan subjek yang harus terus direnungkan dan dijaga. Keabadian karya Ebiet G. Ade membuktikan kepekaan sang musisi dalam merespons situasi sosial pada masanya, menjadikannya ikon yang tak lekang oleh waktu dan selalu relevan setiap kali bumi menunjukkan kemarahannya.
Redaktur: Alicia Reylina
Leave a comment