
Oleh: Dwi Tariska Harahap, Salsabilla, Kezia Febe Sinamo, Natalia Lawolo, Ayu Putri Mariska, Intan Elvira Zahra, dan Denisa Dhafa Azzahra
Suara USU, Medan. Mata kuliah Community Organizing for Community Development (COCD) dengan pendekatan Problem-Based Learning (PBL) dirancang untuk membekali mahasiswa dalam menganalisis isu sosial melalui keterlibatan langsung di lapangan. Di bawah bimbingan dosen pengampu, Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kessos., mahasiswa dilatih untuk berinteraksi aktif dengan komunitas, menggali permasalahan nyata, dan merumuskan solusi kolaboratif bersama masyarakat.
Salah satu fokus utama dalam pembelajaran ini adalah penguatan nilai keagamaan serta peran organisasi kemahasiswaan dalam pembinaan spiritual. Di lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Sumatera Utara, Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Al-Falak menjadi salah satu organisasi keislaman yang konsisten menjalankan peran tersebut. Melalui kegiatan dakwah, kajian keislaman, dan pembinaan karakter Islami, UKMI Al-Falak berkontribusi dalam menumbuhkan nilai religius di kalangan mahasiswa.
Sebagai bagian dari implementasi metode PBL, tim mahasiswa yang terdiri dari Dwi Tariska Harahap (2307090038), Salsabilla (230801006), Kezia Febe Sinamo (230801080), Natalia Lawolo (230801020), Ayu Putri Mariska (231301064), Intan Elvira Zahra (231301061), dan Denisa Dhafa Azzahra (231301216) melakukan wawancara dengan Ketua Umum UKMI Al-Falak pada tanggal 22 Mei 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk memahami lebih jauh peran organisasi dalam pembentukan karakter mahasiswa, tantangan yang mereka hadapi, serta strategi yang diterapkan untuk menjaga keberlangsungan dakwah kampus. Lewat proses ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar langsung, tetapi juga turut mendokumentasikan praktik baik yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan komunitas berbasis nilai.
Memasuki masa transisi pascapandemi, banyak organisasi kemahasiswaan mengalami penurunan partisipasi aktif. Salah satunya adalah UKMI Al-Falak. Setelah meredanya pandemi COVID-19, antusiasme mahasiswa terhadap kegiatan keagamaan, khususnya program mentoring—yang menjadi pilar pembinaan spiritual dan karakter Islami—mengalami penurunan drastis. Dampak dari kondisi ini terlihat pada terhambatnya proses regenerasi kader dan berkurangnya kesinambungan aktivitas dakwah. (Amalia, 2022).

Dalam kepemimpinan Muhammad Rajaskana Syahputra untuk periode 2024–2025, UKMI Al-Falak berupaya menjaga eksistensi dan efektivitas peran dakwah dengan menyesuaikan strategi terhadap kebutuhan generasi digital. Dalam wawancara, ia mengungkapkan bahwa tantangan utama organisasi saat ini adalah minimnya keterlibatan kader dalam program mentoring. Untuk mengatasi hal tersebut, berbagai pendekatan kontekstual telah dilakukan, antara lain dengan memperkuat promosi melalui media sosial, memperbarui kurikulum mentoring agar lebih interaktif, serta menciptakan ruang-ruang dakwah yang inklusif dan dialogis, tidak terbatas pada bentuk formal.Perubahan pola pikir mahasiswa pascapandemi turut memengaruhi dinamika ini.
Banyak mahasiswa cenderung memilih kegiatan yang bersifat instan, fleksibel, dan langsung berkaitan dengan kepentingan akademik atau karier. Sementara itu, aktivitas dakwah sering dianggap monoton dan kurang relevan. Menyikapi situasi ini, UKMI Al-Falak mencoba berinovasi dalam pelaksanaan kegiatan, memperkuat komunikasi internal, serta mengembangkan sistem kaderisasi yang selaras dengan nilai-nilai kekinian. Strategi tersebut merupakan bentuk adaptasi terhadap realitas sosial sekaligus upaya menjaga keberlanjutan ruang dakwah sebagai sarana pembinaan ruhiyah dan intelektual mahasiswa Muslim (Hadi, 2021; Syaifuddin, 2020).
Kondisi ini menunjukkan pentingnya pendekatan pengorganisasian komunitas berbasis nilai dalam menghadapi dinamika sosial yang berubah cepat. Melalui kerangka analisis 5W1H, permasalahan utama yang muncul adalah penurunan partisipasi mahasiswa (what), dengan pihak yang terlibat adalah UKMI Al-Falak dan para kadernya (who). Isu ini berkembang dalam konteks pascapandemi, khususnya periode 2024–2025 (when), dan terjadi di lingkungan FMIPA Universitas Sumatera Utara (where). Akar permasalahan terletak pada pergeseran minat mahasiswa serta belum optimalnya adaptasi kegiatan (why), sedangkan solusi yang dilakukan meliputi strategi promosi digital, inovasi program, dan pembaruan sistem mentoring (how).
Dengan demikian, kajian ini tidak hanya menjadi sarana refleksi terhadap peran organisasi keagamaan di lingkungan kampus, tetapi juga memberikan kontribusi dalam pendokumentasian praktik-praktik inspiratif yang dapat dijadikan model pengembangan komunitas berbasis nilai di masa mendatang.
Di tengah arus sekularisasi dan liberalisasi pemikiran yang melanda kampus-kampus di Indonesia, Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Al-Falak Universitas Sumatera Utara (USU) tetap konsisten menjadi garda terdepan dalam pembinaan ruhiyah dan intelektual mahasiswa Muslim. Sebagai lembaga dakwah kampus yang bernaung di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU, UKMI Al-Falak memiliki peranan dalam membangun generasi Rabbani yang tangguh secara spiritual dan intelektual. (Universitas Sumatera Utara, 2023)
UKMI Al-Falak merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa Islam yang bernaung di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU, dan telah aktif pada tahun 2000 ke-tahun 2001 dengan fase transisi. Sebelumnya organisasi UKMI Al-Falak merupakan pecahan dari BEM yang memiliki salah satu divisi tentang syiar Islam. Pada tahun 2000 terbentuklah satu organisasi untuk mengkaderisasi mahasiswa Muslim yang dibentuk oleh Ust. Andi Pranata. Bukan hanya di FMIPA saja tetapi UKMI juga terdapat pada fakultas-fakultas yang berada di Universitas Sumatera Utara dengan background orientasi sejarah yang hampir sama. Organisasi ini mengembangkan berbagai program mentoring mingguan, kajian ilmiah, hingga pelatihan kepemimpinan Islami, dengan jumlah anggota mencapai lebih dari 50 mahasiswa.
Menurut Muhammad Rajaskana Syahputra selaku ketua umum UKMI Al-Falak periode 2024-2025, keberadaan UKMI bukan hanya untuk memperkuat pemahaman agama, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan, etika, dan kreativitas dalam berdakwah. Banyak kegiatan keagamaan yang dikakukan seperti kajian, pengkaderan atau dengan kata lain yaitu malam bina Islam. Meskipun begitu terdapat salah satu kegiatan yang fokus di lakukan yaitu mentoring. “Kegiatan yang paling sering dilakukan itu mentoring dimana kita di kumpulkan dalam satu lingkaran untuk sekedar sharing dengan para pementornya,” ujarnya dalam wawancara langsung. (Wawancara Rajaskana, 2025). Melalui program mentoring, kajian ilmiah, UKMI hadir sebagai pelindung nilai-nilai moral dan religius di tengah budaya akademik yang makin kompetitif. Dakwah kampus kini menjadi garda dalam menghadapi degradasi spiritualitas di lingkungan universitas. (Hadi, 2021).
Keberadaan UKMI Al-Falak bukan hanya sebagai sarana kegiatan organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai kaderisasi yang membentuk pribadi dan intelektual Muslim yag berkarakter. Kegiatan mentoring yang dilaksanakan terbukti efektif sebagai pembentuk pola pikir sistematis dalam keislaman dan dapat meningkatkan semangat dalam beribadah. Hal ini sejalan dengan temuan Syaifuddin (2020), bahwa kaderisasi dalam LDK mampu membentuk mahasiswa Muslim yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga stabil dalam kepribadian bahkan pemikiran Islam.
Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Al-Falak Universitas Sumatera Utara (USU) menghadapi sejumlah tantangan dalam menjalankan peran dakwah di lingkungan kampus yang semakin dinamis. Meski terus berkembang, realitas di lapangan menunjukkan bahwa UKMI Al-Falak menghadapi masalah berupa kurangnya regenerasi kader yang berkelanjutan. Salah satu persoalan krusial adalah terdapat pada penurunan partisipasi mahasiswa dalam kegiatan mentoring.
Mentoring yang tidak adaptif terhadap kebutuhan generasi digital menyebabkan kejenuhan dan kurangnya motivasi peserta dalam jangka panjang. Hal ini berdampak langsung pada jumlah kader yang bertahan hingga pengkaderan lanjutan. (Amalia, 2022). Dari hasil wawancara, Muhammad Rajaskana Syahputra selaku ketua menyampaikan harapan agar organisasi ini dapat mengembalikkan momentum dengan cara mempromosikan organisasi agar lebih banyak dikenal dan dimintai kembali oleh mahasiswa khususnya mahasiswa Muslim FMIPA USU.
UKMI Al-Falak FMIPA USU merupakan manifestasi nyata dari semangat dakwah kampus yang tidak hanya berorientasi pada penguatan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga pada pembentukan karakter intelektual mahasiswa Muslim yang tangguh, berakhlak mulia, dan visioner. Di tengah arus globalisasi, sekularisasi, dan liberalisasi pemikiran yang kian deras melanda lingkungan kampus, UKMI Al-Falak tetap konsisten menjadi benteng moral dan spiritual bagi mahasiswa, khususnya di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Perjalanan UKMI Al-Falak sejak awal berdirinya hingga kini menunjukkan adanya komitmen yang kuat dalam membina kader melalui kegiatan-kegiatan seperti mentoring, kajian ilmiah, pelatihan kepemimpinan Islami, serta pembinaan ruhiyah yang berkelanjutan. Kegiatan mentoring, sebagai program unggulan, telah terbukti mampu membentuk pola pikir islami yang sistematis, memperkuat pemahaman agama, serta meningkatkan semangat dalam beribadah dan berdakwah. Hal ini sejalan dengan pandangan para tokoh dan hasil penelitian yang menegaskan bahwa proses kaderisasi dalam Lembaga Dakwah Kampus (LDK) mampu mencetak pribadi-pribadi Muslim yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang dalam spiritualitas dan karakter kepemimpinan.
Namun demikian, dalam perjalanannya, UKMI Al-Falak juga tidak lepas dari tantangan, terutama terkait regenerasi kader yang mulai melemah dan rendahnya partisipasi dalam kegiatan mentoring. Ketidaksesuaian metode pendekatan terhadap generasi digital menjadi salah satu penyebab menurunnya antusiasme mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa inovasi dan adaptasi metode menjadi kebutuhan mendesak agar proses kaderisasi dapat tetap relevan dan diminati oleh generasi mahasiswa saat ini.
Oleh karena itu, dibutuhkan langkah-langkah strategis seperti digitalisasi dakwah, pendekatan yang lebih inklusif dan kreatif dalam kegiatan mentoring, serta promosi yang lebih aktif terhadap peran dan manfaat UKMI di tengah civitas akademika. Harapan yang disampaikan oleh ketua umum UKMI Al-Falak, Muhammad Rajaskana Syahputra, untuk mengembalikan momentum organisasi menjadi penting untuk diwujudkan dalam bentuk aksi nyata yang terstruktur dan terencana.
Dengan semangat pembaruan dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, UKMI Al-Falak memiliki peluang besar untuk terus menjadi pelopor dalam membentuk generasi Rabbani di lingkungan kampus. Keberlanjutan perjuangan dakwah kampus akan sangat bergantung pada kemampuan organisasi ini dalam menjawab tantangan zaman, menjaga idealisme, dan memperkuat peran strategisnya dalam membina mahasiswa Muslim yang berintegritas tinggi, cerdas, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan umat.
Artikel ini adalah publikasi Tugas Mata Kuliah Community Organizing for Community Development (COCD) dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kessos.,
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment