
Oleh: Erika Anggraini
Suara USU, Medan. Jembatan Pensil merupakan film drama anak Indonesia yang di sutradarai oleh Hasto Broto. Film ini dirilis pada 7 September 2017 dan tayang di layar lebar. Para pemeran dalam film ini antara lain Didi Mulya, Deden Bagaskara, Alisia Rininta, Andi Bersama, Permata Jingga, Kevin Julio, Vickram Priyono, Roy Turaekhan, Nayla D. Purnama, Angger Bayu, Azka Marzuqi, Agung Saga, dan Meriam Bellina.
Dengan durasi 1 jam 31 menit, Jembatan pensil menyajikan kisah kehidupan anak-anak di pelosok Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Film ini mengangkat perjuangan Ondeng, Inal, Azka, Nia, serta Yanti dalam menempuh pendidikan. Mereka bersekolah di SD Towea, sekolah sederhana yang beralaskan pasir dan berdinding kayu, milik seorang guru yang di panggil Pak Guru.
Setiap hari, mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh dan melewati jembatan rapuh yang membahayakan nyawa. Ondeng, seorang anak dengan keterbelakangan mental, dan Inal, anak tuna netra, tetap semangat mengejar cita-cita mereka. Segala rintangan tidak menyurutkan tekad mereka untuk bersekolah.
Meskipun sebagian besar masyarakat sekitar kurang peduli terhadap pentingnya pendidikan, Ondeng dan teman-temannya memiliki cita-cita yang mulia. Ondeng ingin membuat sketsa kehidupan ayahnya yang seorang nelayan, serta sketsa jembatan impian. Ia berharap suatu saat bisa membangun jembatan yang layak agar teman-temannya dapat bersekolah dengan aman. Namun, musibah datang dan ia harus merelakan kepergiaan sang ayah.
Film ini menggambarkan realitas yang masih terjadi di pelosok Indonesia, minimnya sarana dan prasarana pendidikan, akses yang sulit, perlengkapan sekolah yang terbatas, dan kurangnya tenaga pengajar. Semua ini mencerminkan bahwa dunia pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata layak dan kurang mendapatkan perhatian dari pemangku kebijakan.
Banyak pesan moral yang dapat dipetik dari film ini. Semangat Ondeng dan teman-temannya dalam menuntut ilmu mampu menggugah hati penonton, terutama pelajar, agar lebih termotivasi untuk belajar. Film ini menyampaikan nilai-nilai luhur seperti persahabatan, kejujuran, kesetiaan, dan kerja sama. Melalui cerita dan karakter yang kuat, penonton diajak untuk menghargai pendidikan, bekerja keras, peduli terhadap sesama, dan menjunjung tinggi semangat gotong royong.
Jembatan Pensil layak menjadi tontonan inspiratif bagi siapa saja, khususnya generasi muda, agar lebih menghargai perjuangan dalam meraih ilmu dan masa depan yang lebih baik.
Redaktur: Nisya Augia
Leave a comment