
Oleh: Nikolas Supriyanto
Suara USU, Medan. Buku dengan judul “Agama Saya adalah Jurnalisme”, tentu akan menarik perhatian pembaca. Bagaimana mungkin jurnalisme menjadi sebuah agama, sedangkan keduanya merupakan bentuk yang berbeda. Namun, buku ini bukan ingin mengajak pembaca untuk membandingkan atau mengaitkan jurnalistik dengan kultus agama. Buku ini hadir sebagai bentuk kritik, catatan pengalaman, dan karya jurnalistik dari seorang Andreas Harsono. Andreas Harsono pernah bekerja sebagai wartawan The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan Pantau (Jakarta). Selain itu, Andreas juga pernah menerima Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard. Dalam dunia kepenulisan, sebelumnya Andreas telah menyunting buku dengan judul “Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat”, serta buku terjemahan bertajuk “Sembilan Elemen Jurnalisme” karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Andreas Harsono juga dikenal sebagai sosok jurnalis yang tajam. Ia merupakan salah satu jurnalis yang ambil bagian dalam mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sebuah lembaga independen jurnalistik yang lahir karena keresahan akan situasi Indonesia pada masa penghujung Orde Baru.
Buku ini merupakan kumpulan kolom opini dan feature karya Andreas Harsono yang dimuat dalam berbagai media. Karya-karya Andreas Harsono ini kemudian disatukan dan dipadukan dengan catatan pengalaman dirinya selama menjalani program Nieman Fellowship on Journalism. Buku karyanya ini ditulis selama ia berada di Indonesia hingga di Amerika Serikat. Kemudian, tulisan-tulisan yang terpisah itu digabungkan dalam satu buku dan mengambil empat topik penting dalam dunia jurnalistik yakni, laku wartawan, penulisan, dinamika ruang redaksi, dan peliputan. Keempat topik yang dibahas dalam buku ini sangat penting andilnya dalam perjalanan di dunia jurnalistik.
Penulis membuka pembahasan dalam buku ini dengan meringkas buku karya Bill Kovach tentang sembilan elemen jurnalisme. Dalam bagian ini disampaikan bagaimana seorang jurnalis dituntut agar mampu menguasai ilmu pengetahuan sehingga ia mampu menuliskan karya yang independen dan objektif. Jurnalis juga harus mampu mendekati sumber primer, bukan semata keterangan dari orang atau keterangan resmi dari sebuah lembaga. Jika data semacam ini dijadikan tumpuan dalam penulisan berita, dapat dipastikan informasi akan bias. Seorang jurnalis juga dituntut untuk mampu menjaga sikap dan memahami tanggungjawabnya sebagai seorang jurnalis yang independen. Menghindari pemberian, perlakuan khusus, dan sebagainya sangat penting bagi seorang jurnalis karena menurut Bill Kovach yang dituliskan Andreas, jurnalis atau wartawan adalah makhluk asosial.
Penulis juga mengkritisi bagaimana media di Indonesia tidak menerapkan poin-poin penting yang mampu menunjukkan media tersebut independen, jujur, dan objektif. Beberapa contoh kritikan Andreas dalam buku ini adalah media Indonesia yang tidak menerapkan byline dalam pemberitaan yang dibuat. Byline atau penyebutan nama jurnalis dalam sebuah berita sangat penting karena akan memaksa sang jurnalis untuk bekerja ekstra hati-hati. Namun, media Indonesia tidak memiliki aturan pakem dalam penggunaan byline tersebut. Buku karya Andreas ini juga mengkritisi bagaimana media Indonesia tidak memisahkan pemberitaan bersifat iklan dengan pemberitaan murni. Hal ini disebut dengan wall fire atau pagar api. Pemberitaan yang disertai dengan iklan tidak akan dapat disebut dengan berita. Oleh karena itu, seharusnya bagian marketing tidak mengurusi dapur redaksi untuk menghindari hal demikian terjadi.
Dalam bukunya, Andreas juga menjelaskan bahwa media sudah selayaknya dan sepantasnya memahami bahwa pemberitaan tidak cukup hanya berimbang. Jika berimbang dijadikan tujuan, maka dipastikan menimbulkan kebingungan. Pemberitaan yang berimbang dengan hanya memuat keterangan dari dua pihak yang bermasalah, atau memuat kesaksian pelaku dan korban, memang akan berimbang, tetapi justru membingungkan pembaca. Suatu berita harus bertumpu pada data yang pasti, sehingga seorang jurnalis harus mampu mengejar data tersebut.
Buku ini sangat layak jika dibaca oleh seorang jurnalis maupun orang-orang yang tertarik dengan dunia jurnalistik. Dalam buku ini kita dapat memahami sudut pandang baru bahwa pemberitaan bukan sekedar informasi yang disampaikan pada publik saja, tetapi juga terdapat nilai, tanggung jawab, dan etika yang harus ditunjukkan dalam sebuah pemberitaan. “Agama Saya adalah Jurnalisme”, menjadi bahan bacaan dengan nuansa baru yang cocok dibaca para jurnalis yang tengah berkecimpung di dunia pemberitaan. Membentuk media yang independen, terhindar dari bias, dan bertumpu pada dasar-dasar yang jelas, menjadi tujuan yang sekiranya dapat diraih melalui pemahaman dari buku karya Andreas Harsono yang satu ini.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment