SUARA USU
Opini

Budaya Titip Absen di Kalangan Mahasiswa: Solidaritas atau Ancaman Kedisiplinan?

Oleh: Sella Ramadani

Suara USU, Medan. Solidaritas dalam titip absen di kalangan mahasiswa adalah fenomena yang dapat dilihat dari dua perspektif yang berbeda. Di satu sisi, solidaritas dapat membangun hubungan sosial yang erat di antara mahasiswa, menciptakan rasa kebersamaan dan dukungan antarsesama.

Namun, di sisi lain perlu diingat bahwa kehadiran di kelas adalah bagian integral dari proses pembelajaran. Mengandalkan solidaritas untuk titip absen dapat merugikan pembelajaran pribadi masing-masing mahasiswa.

Titip absen adalah tindakan tidak bertanggung jawab dan merugikan, titip absen bukan lagi masalah sepele, karena tindakan ini sudah mendarah daging dan menjadi kebiasaan dalam diri mahasiswa. Ini mencerminkan kurangnya komitmen terhadap pendidikan dan dapat menghancurkan integritas akademis. Mahasiswa seharusnya menghargai waktu dan peluang belajar agar mendapat pengalaman belajar, bukan mencari cara untuk menghindari kewajibannya sebagai mahasiswa.

Titip absen dalam lingkungan mahasiswa menciptakan dampak negatif yang signifikan. Praktik ini tidak hanya mencerminkan kurangnya tanggung jawab terhadap pendidikan, tetapi juga dapat mengakibatkan konsekuensi serius. Titip absen dapat merugikan kualitas pembelajaran mahasiswa. Dengan melewatkan pertemuan kelas, mahasiswa kehilangan kesempatan untuk memahami materi, berpartisipasi dalam diskusi, dan mendapatkan bimbingan langsung dari dosen.

Selain itu, titip absen menciptakan budaya ketidakdisiplinan di kalangan mahasiswa. Ini dapat merembet ke seluruh lingkungan akademis, mengurangi tingkat kedisiplinan secara keseluruhan. Ketidakpatuhan terhadap aturan kehadiran dapat menjadi contoh buruk bagi rekan mahasiswa dan menghancurkan norma serta nilai positif yang seharusnya ada di dalam lingkungan akademis.

Titip absen sebagai ancaman terhadap kedisiplinan memiliki dasar yang kuat. Disiplin dalam konteks pendidikan adalah kunci untuk mencapai tujuan akademis dan pengembangan pribadi. Titip absen bisa merusak disiplin mahasiswa karena mengajarkan bahwa keterlibatan pribadi dan tanggung jawab terhadap kehadiran di kelas bisa diabaikan.

Jika mahasiswa terbiasa mengandalkan orang lain untuk “titip absen,” mereka mungkin kehilangan kesempatan untuk mengelola waktu mereka sendiri.

Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memahami nilai kehadiran pribadi dalam pembelajaran dan pertumbuhan pribadi. Komunikasi terbuka dengan dosen, pengelolaan waktu yang baik, dan penanganan masalah yang mungkin muncul adalah kunci untuk mengatasi kecenderungan “titip absen” dan memastikan pengalaman kuliah yang lebih positif dan bermanfaat.

Redaktur: Yohana Situmorang


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Sistem Baru Satu USU Mewajibkan Pengisian Survei EDOM sebagai Syarat Melihat KHS

redaksi

Ujian Tengah Semester Pertama: Tantangan dan Pembelajaran Baru Bagi Mahasiswa Baru 2023

redaksi

Kebijakan Stabilisasi sebagai Solusi Lonjakan Harga Beras

redaksi