Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
USU News

Cinta Dan Misteri

Penulis : Saraswani Al Safina

Ujian Tengah Semester


Saatnya bagi saya untuk kembali bergelut dengan materi-materi yang telah diberikan dosen, mencoba untuk menghafal setiap kata agar nantinya dapat mencapai nilai sempurna.

Bumi Adisastra, pria yang sudah saya kenal lebih dari 3 tahun itu tengah sibuk dengan seporsi kentang goreng yang masih hangat. Tak Ia hiraukan laptop yang menampilkan tugas dihadapannya, tak juga Bumi mengalihkan atensinya pada saya.

“Kentang goreng lebih menarik dari pada saya ya, Mi?”celetuk saya.

Pria itu buru-buru melihat kearah mata saya. Lalu senyum bulan sabitnya kembali terbit, menghanyutkan saya kedalamnya.


Jika saya boleh jujur. Bumi, saya terlalu lemah saat melihat diri mu tersenyum. Saya rasanya akan pingsan saat kamu tertawa. Tidak akan pernah bosan dan jenuh menatapnya. Kalaupun ada Rintik Sedu atau penulis terkenal lainnya yang berdiri di depan saya, saya tidak akan peduli selama saya masih bisa melihat senyummu.


Entah punya sihir apa hingga setiap ia tersenyum, hati saya yang siap tempur akan meleleh seketika. Saya takut sudah terlanjur jatuh sangat dalam pada pesonanya. Saya tidak siap jika suatu saat akan kehilangan senyum itu. Tuhan, jangan engkau pisahkan saya dari candu bernama Bumi Adisastra. Karena saya tak akan pernah sanggup.


Setelah tersenyum tipis, Ia kembali bergelut dengan laptop dan kentang gorengnya. Kembali membuat saya merasa seperti pajangan. Tapi tak mengapa, asal Ia bersedia untuk selalu ada disisi saya maka semua akan baik-baik saja.

“Kinar?”

Tiba-tiba sebuah suara muncul, seorang pria berwajah tak asing tengah berdiri di samping saya. Matanya terlihat sipit, senyumnya berkolaborasi dengan lesung pipitnya yang nampak dalam.

“Kinar masih ingat saya kan? Saya Bimdra, teman SMA kamu.”ujarnya bersemangat.

Saya menepuk kening pelan. Bagaimana bisa saya melupakan Bimdra? Pria baik yang selalu ada disamping saya saat SMA.

“Ya ampun, Bimdra.” Kata saya padanya

Secara spontan saya bangkit dari duduk saya, dan menyambut lengannya yang seperti hendak memeluk saya. Terlalu bahagia bertemu seorang pujangga hati dari masa lalu.


Bimdra Deravian, pria berwajah oriental itu tidak banyak berubah sejak 6 tahun yang lalu saya jumpai. Hanya wajah yang semakin tampan, dan suara bertambah berat yang saya lihat berbeda. Setelah pelukan singkat itu, Bimdra sedikit berbasa-basi dan meminta nomor ponsel saya yang baru. Sebelum akhirnya seorang pria yang terlihat mirip dengannya datang dan mengajak Bim pulang.


Tolong jangan serbu saya dengan beragam pertanyaan. Saya akan mengenalkan Bimdra pada kalian, tapi nanti disaat yang tepat.

“Kita pulang.”perintah Bumi, saat Bimdra sudah melangkah keluar dari restoran.

Saya menatap bingung wajah Bumi yang terlihat lebih suram dari sebelumnya. Tangannya nampak terburu-buru memasukkan laptop dan buku-buku yang berserakan di atas meja. Bahkan kentang goreng yang sedari tadi menjadi temannya, Ia tinggalkan begitu saja.

Saat Bumi sudah berlalu dari restoran, saya baru sadar dan dengan kilat membereskan barang yang saya bawa. Mesin mobil sudah hidup saat saya sampai didepan sedan hitam kepemilikan Bumi.

“Kenapa? Lingga sakit lagi?”tanya saya lumayan panik.

Bukan tak berdasar, keterburu-buruan seorang Bumi biasanya dihadirkan oleh adik semata wayangnya. Gadis kecil yang akan tiba-tiba saja jatuh sakit, jangankan Bumi. Saya yang sudah mengenal Lingga cukup lama, masih sama khawatirnya sampai sekarang. Namun, hening. Hingga beberapa menit Bumi hanya diam ditempatnya sembari menatap keluar jendela.
“Tadi itu siapa?”tanya Bumi tanpa mengalihkan wajah kearah saya.
“Namanya Bimdra, pria yang sebelumnya pernah saya ceritakan.”

Setelah jawaban itu, keadaan mobil kembali hening. Bumi menjalankan mobilnya, dengan tenang hingga tiba di depan rumah saya. Ia kembali bersuara saat saya bersiap untuk dari mobil, tangannya menarik lengan saya dengan lembut.
“Saya cemburu.”lirihnya, kepala Bumi nampak menunduk.

Pria yang biasanya sedingin es itu mengungkapkan isi hatinya didepan saya. Jangankan untuk berbicara dari hati ke hati, mengobrol dengan Bumi saja mungkin bisa dihitung dengan jari. Padahal waktu yang kami lalui bisa dibilang tidak sebentar.

Saya mengulas senyum, lalu menyambut tangannya yang masih menggenggam lengan saya. Malam itu, akhirnya saya tau bahwa selama ini saya tidak menjalani hubungan secara sepihak. Karena pria dingin itu ternyata juga mencintai saya.


Redaktur Tulisan : Putri Narsila

0 0 vote
Article Rating

Related posts

Aliansi Mahasiswa USU Bergerak Gelar Aksi Stop Pelecehan Seksual

suarausu

Bus USU Tak Beroperasi saat Wisuda, Apa Kata Mahasiswa?

REDAKSI

Perbaikan “New Normal” Kebijakan Baru Di tengah Goncangan COVID-19 Akankah Berjalan Efektif?

REDAKSI
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

COVID 19

[covid-data]