Home Tulisan Dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap Pedagang Kantin dan UMKM di Sekitar Sekolah
Tulisan

Dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap Pedagang Kantin dan UMKM di Sekitar Sekolah

Share

Oleh: Rafa gustino, Gita Renata Br Karo, Syukur Kurniawan Hondro, Marthin Simbolon, Kanzara audriana mahendra, Hartika maharani siregar, Muhammad Raihan siregar

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang mulai digulirkan secara masif di Indonesia sejak awal 2025, bertujuan meningkatkan gizi siswa sekolah dasar dan menengah, terutama dari keluarga kurang mampu. Namun, kebijakan ini menimbulkan tantangan serius bagi pedagang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar sekolah, seperti kantin sekolah dan pedagang kaki lima penjual jajanan. Siswa lebih memilih makanan bergizi gratis yang disediakan sekolah sehingga permintaan jajanan tidak sehat atau camilan murah menurun. Hal ini mengubah ekosistem ekonomi lokal di sekitar sekolah, di mana UMKM sebelumnya bergantung pada siswa sebagai pelanggan utama.

Jenis data yang digunakan meliputi data primer dari wawancara langsung dengan pedagang dan data sekunder dari literatur, artikel, serta dokumen terkait untuk memperkuat analisis. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tiga tahap, yaitu reduksi data untuk menyaring informasi penting, penyajian data secara sistematis berdasarkan tema, serta penarikan kesimpulan untuk memahami dampak MBG terhadap pendapatan dan keberlangsungan usaha pedagang UMKM.

Penelitian ini melibatkan tiga pedagang UMKM di sekitar sekolah di Kota Medan dengan jenis dagangan berbeda, yaitu es teh (Tiara), jus buah (Dina), dan makanan ringan (Anggi). Hasil wawancara menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi siswa setelah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Siswa tidak lagi membeli makanan dan minuman pada jam istirahat pertama karena sudah kenyang sehingga jumlah pembeli pedagang berkurang. Tiara mengalami penurunan penjualan hingga 40–50%, Anggi sekitar 30–40%, sedangkan Dina relatif stabil karena konsumennya lebih beragam dan produknya tidak bersaing langsung dengan MBG. Pendapatan pedagang juga terdampak. Tiara mengalami penurunan dari Rp200.000–Rp300.000 menjadi sekitar Rp100.000 per hari, Anggi turun sekitar 30%, sedangkan Dina tetap stabil. Beberapa kendala yang muncul meliputi siswa yang sudah kenyang, persaingan dengan makanan gratis, serta keterbatasan modal untuk diversifikasi produk.

Analisis menunjukkan bahwa dampak MBG bergantung pada jenis produk dan strategi adaptasi pedagang. Produk yang mudah digantikan, seperti es teh dan makanan ringan, lebih terdampak, sedangkan jus memiliki permintaan yang lebih tidak elastis. UMKM yang mampu melakukan diversifikasi produk atau memiliki lebih dari satu segmen pasar, seperti Anggi, lebih mampu bertahan. Program MBG dapat dianggap sebagai negative demand shock bagi pedagang dengan dampak yang tidak merata, tergantung pada karakteristik usaha.

Dari sisi kebijakan, temuan ini menekankan perlunya keterlibatan UMKM lokal dalam program MBG, misalnya sebagai pemasok bahan baku atau mitra katering. Hal ini tidak hanya menjaga keberlangsungan ekonomi pedagang, tetapi juga mendukung gizi siswa secara berkelanjutan. Strategi adaptasi, fleksibilitas produk, serta dukungan kebijakan menjadi kunci agar MBG berhasil sekaligus memberdayakan ekonomi lokal.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti mampu meningkatkan gizi dan kesehatan siswa. Namun, program ini juga menurunkan pendapatan pedagang UMKM yang menjual produk yang mudah digantikan oleh MBG, seperti es teh dan makanan ringan. Pedagang dengan produk yang berbeda, seperti jus buah, cenderung tetap stabil karena memiliki konsumen yang lebih beragam. Dampak MBG sangat dipengaruhi oleh jenis produk, jumlah pelanggan, serta kemampuan pedagang dalam beradaptasi. Pedagang yang mampu menyesuaikan produk atau mencari pasar baru tetap dapat bertahan.

Secara keseluruhan, meskipun MBG berhasil meningkatkan status gizi dan prestasi siswa, dampaknya terhadap UMKM di sekitar sekolah menuntut adanya kebijakan yang adaptif untuk menjaga keseimbangan sosial dan ekonomi. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan pedagang menjadi kunci untuk mengubah tantangan menjadi peluang yang berkelanjutan.

Daftar Pustaka :

Badan Gizi Nasional. (2026). MBG disalurkan  lima hari sekolah. https://www.bgn.go.id/news/siaran-pers/mbg-disalurkan-lima-hari-sekolah

Kiftiyah, A., Palestina, F. A., Abshar, F. U., & Rofiah, K. (2025). Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam Perspektif Keadilan Sosial dan Dinamika Sosial – Politik. Jurnal Keindonesiaan, 5(1), 101-112  https://share.google/aGzqT8irA7OZ4gK4L

Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila dengan dosen pengampu Bapak Dr. Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.

Redaktur : Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.