Oleh: Latifa Rahma Husna
Suara USU, Medan. Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi adalah BBM yang disalurkan untuk kendaraan dengan spesifikasi tertentu, sudah mendaftar pada aplikasi ‘My Pertamina’ dan masuk dalam kategori kendaraan yang telah ditentukan. Seperti mobil dengan kapasitas Maksimal 2.000cc dan motor berkapasitas 150cc dengan maksimal pengisian 10 Liter menyesuaikan dengan Barcode Pertamina.
Sebelumnya BBM Subsidi disalurkan secara manual menggunakan Tangki Dispenser (Pompa SPBU). Namun, seiring waktu, sistem manual ini mulai dipertanyakan efektivitasnya. Banyak ditemukan oknum-oknum yang menyalahgunakan BBM subsidi, sehingga penyalurannya tidak lagi tepat sasaran. Untuk mengatasi hal ini, Pertamina mulai menerapkan penggunaan mesin EDC, menggunakan Barcode sebagai upaya digitalisasi, dengan harapan BBM subsidi benar-benar bisa sampai kepada konsumen yang berhak dan telah disetujui oleh pihak pertamina.
Secara umum Mesin EDC (Electronic Data Capture) pertamina merupakan alat transaksi non-tunai yang mencatat dan mengontrol pengisian BBM secara digital untuk memastikan penyaluran BBM subsidi bisa disalurkan tepat sasaran pada konsumen yang dituju. Dengan menunjukan Barcode atau QR code yang telah terdaftar kepada petugas SPBU untuk dilakukan scanning penyaluran BBM subsidi.
Mesin EDC sendiri belum sepenuhnya terhubung dengan sistem kecerdasan buatan (AI), namun telah berperan penting dalam digitalisasai SPBU baik memantau penjualan secara real time, dengan sistem EDC yang terconnect dengan pusat serta dapat meningkatkan transparansi, dengan pencatatan secara otomatis sehingga memudahkan dalam monitoring BBM Subsidi dan pelaporag keuangan melalui media non-tunai.
Sistem penyaluran BBM subsidi sendiri dilakukan dengan menunjukan QR code yang telah terdaftar pada pramuniaga atau operator yang nantinya akan dilakukan pengimputan jenis transaksi, dan dilanjutkan dengan pengisian BBM subsidi melalui mesin EDC tersebut. Hal ini juga diperlukan jaringan yang stabil agar tidak terjadi kemacetan pada saat masa transaksi, dimana Mesin EDC telah terconnect pada sistem pusat. Jika terjadi kendala pada jaringan operasional, maka akan segera ditindaklannjuti dengan menghubungi pihak telkom maupun pertamina sendiri.
Sebagian masyarakat mengeluhkan proses pengisian BBM yang kini terasa lebih lama karena harus “diketik-ketik” terlebih dahulu oleh petugas. Stigma seperti ini muncul bukan tanpa alasan—kebanyakan karena belum terbiasa dengan sistem baru. Dulu, pengisian BBM dilakukan langsung lewat dispenser tanpa sistem terintegrasi. Kini, dengan hadirnya mesin EDC yang sudah terhubung ke sistem pusat, setiap transaksi tercatat secara digital. Meskipun terlihat lebih lambat di awal, sistem ini justru dirancang untuk menciptakan transparansi dan ketepatan dalam penyaluran subsidi ke depannya.
Yohan Taufik Hamzah selaku Site SPBU TAC Tanjung Morawa juga menyampaikan apresiasi ke berbagai pihak, baik konsumen maupun operator SPBU. Sistem ini memang dirancang untuk mempermudah proses transaksi dan memastikan penyaluran BBM subsidi berjalan lebih akurat. Ke depannya, sistem ini diharapkan bisa semakin optimal, terlebih dengan mulai diterapkannya layanan self-service di beberapa SPBU, yang memungkinkan konsumen mengisi BBM secara mandiri. Meski begitu, perubahan ini tentu berlangsung secara bertahap. Oleh karena itu, dibutuhkan pemahaman dan kesabaran dari masyarakat, mengingat para operator SPBU juga masih dalam proses adaptasi.
Artikel ini merupakan publikasi program kerja Duta Berkarya Sumatera Utara 2025.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment