
Oleh: Rifatul Suaidah
Suara USU, Medan. Wacana pemagaran Gunung Rinjani yang bergulir pasca tragedi Juliana De Souza Pereira Marins, pendaki Brasil berusia 27 tahun yang jatuh di Cemara Nunggal dan ditemukan tewas di kedalaman 600 meter pada 21 Juni 2025, merupakan respons emosional yang keliru dan berpotensi menghancurkan esensi petualangan alam yang sejati. Usulan ini tidak hanya menunjukkan ketidakpahaman mendalam terhadap hakikat Mountaineering, tetapi juga mengancam kebebasan fundamental manusia untuk bereksplorasi dan berinteraksi langsung dengan alam liar.
Data statistik kecelakaan di Taman Nasional Gunung Rinjani periode 2016-2020 menunjukkan bahwa dari 104 kasus kecelakaan dan evakuasi yang tercatat, Jumlah kasus kecelakaan dan evakuasi di TN Gunung Rinjani paling tinggi terjadi pada tahun 2017 sebanyak 37 kasus dengan jumlah pengunjung sebanyak 82.779 orang, dan paling rendah terjadi pada tahun 2019 sebanyak 6 kasus kecelakaan dan evakuasi dengan jumlah pengunjung sebanyak 21.346 orang. Berdasarkan kalkulasi nilai persentase kecelakaan dari tahun 2016-2020 yaitu sebesar 0,04% dari total pengunjung pada tahun 2016 hingga 2020. Angka yang sangat rendah ini bahkan tidak mencapai 0,1% dari total kunjungan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah memberikan pendapat bahwa imajinasi kita tentang gunung tidak boleh disamakan dengan saat kita sedang di kantor. Beliau juga mengingatkan tentang pentingnya kesadaran serta persiapan diri saat berpetualang di alam bebas. Namun, tekanan publik yang reaktif tampaknya mengalahkan logika dan pemahaman yang sehat tentang manajemen risiko alam.
Pemagaran Rinjani akan menciptakan ilusi keamanan yang justru lebih berbahaya daripada kondisi alamiah gunung tersebut. Ketika pendaki merasa ‘dilindungi’ oleh pagar, mereka cenderung menurunkan kewaspadaan dan mengabaikan protokol keselamatan yang seharusnya menjadi prioritas utama, fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai risk compensation atau kompensasi risiko, di mana individu mengambil risiko lebih besar ketika merasa memiliki perlindungan tambahan. Alih-alih menciptakan keamanan sejati, pemagaran akan menghasilkan generasi pendaki yang bergantung pada infrastruktur buatan dan kehilangan kemampuan survival alamiah yang sesungguhnya dibutuhkan di gunung.
Lebih fundamental lagi, pemagaran akan mengubah karakter asli Gunung Rinjani dari sebuah tantangan alam yang membutuhkan skill, mental, dan persiapan matang menjadi destinasi wisata yang ‘dijinakkan’. Gunung seperti Rinjani memiliki daya tarik tersendiri bagi para pendaki karena pesona alamnya yang liar dan tantangan rute yang menguji kemampuan manusia. Ketika kita memasang pagar, kita pada dasarnya merampas hak generasi mendatang untuk merasakan pengalaman autentik berinteraksi dengan alam dalam bentuk paling murninya.
Pendakian gunung sejatinya adalah proses pembelajaran karakter yang tidak dapat digantikan oleh aktivitas lain, mengajarkan kita tentang tanggung jawab pribadi, perhitungan risiko, dan rasa hormat terhadap kekuatan alam. Ketika kita mulai ‘mengamankan’ setiap sudut alam liar dengan infrastruktur buatan, kita secara tidak langsung menciptakan generasi yang terbiasa bergantung pada sistem keamanan eksternal daripada mengembangkan kemampuan internal untuk membaca dan beradaptasi dengan kondisi alam.
Dari perspektif konservasi, pemagaran justru akan mengganggu ekosistem alami dan migrasi satwa liar yang hidup di kawasan tersebut. Data dari goodstats.id menunjukkan bahwa dari 11 insiden kecelakaan yang tercatat di Rinjani periode 2013-2024, sebagian besar disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem, kondisi fisik pendaki yang tidak memadai, dan kurangnya pengalaman, bukan karena ketiadaan pagar. Membangun pagar sepanjang jalur pendakian akan menghabiskan anggaran negara yang sangat besar tanpa mengatasi akar masalah sesungguhnya.
Solusi yang jauh lebih rasional dan efektif adalah peningkatan kualitas sistem peringatan dini, seperti yang sedang dikembangkan oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) bersama Geopark Rinjani dalam mengevaluasi dan menyusun langkah-langkah penguatan SOP keselamatan. Fokus seharusnya diarahkan pada peningkatan kualitas pemandu lokal, sistem peringatan cuaca real-time, dan program edukasi keselamatan yang berkelanjutan.
Selain itu, penerapan sistem perizinan yang lebih ketat dengan persyaratan sertifikat kesehatan dan pengalaman mendaki minimal dapat secara signifikan mengurangi risiko kecelakaan. Pendekatan ini tidak hanya lebih efektif, tetapi juga sejalan dengan prinsip konservasi yang mengutamakan keseimbangan antara keselamatan manusia dan kelestarian alam. Investasi pada sumber daya manusia dan teknologi akan memberikan dampak yang jauh lebih sustainable dan efektif.
Pemagaran Rinjani bukan hanya solusi yang salah secara teknis, tetapi juga merupakan pengkhiatan terhadap filosofi petualangan alam yang mengajarkan manusia untuk menghormati kekuatan alam sambil mengembangkan kemampuan adaptasi dan survival. Ketika kita mulai ‘memagar’ setiap tantangan alam, kita pada dasarnya menciptakan masyarakat yang lemah, bergantung, dan terputus dari akar alamiah kemanusiaan. Gunung Rinjani harus tetap menjadi destinasi petualangan yang autentik, menantang, tetapi dikelola dengan sistem keselamatan yang cerdas dan modern, bukan dijinakkan dengan pagar yang menghilangkan esensi petualangan sejati.
Redaktur: Nurur Rahmah
Leave a comment