Home Tulisan Dinamika Empati dan Stigma dalam Fenomena Konten Viral
Tulisan

Dinamika Empati dan Stigma dalam Fenomena Konten Viral

Share

​Oleh: Ayu Dame Diana Panjaitan, Adven Michael Lamhosma Sinambela, Novi Sintiya Matanari, Shinta Phrameswari Hartono, Tiara Ratu Balquis, Rachel Clara V Siahaan, Virnie Maria Putri Sibuea, Santa Sinaga

Di era digital saat ini, menyaksikan konten viral di media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Secara umum, laporan Digital 2026: Indonesia mencatat bahwa rata-rata penggunaan internet masyarakat mencapai lebih dari tujuh jam setiap harinya. Dari durasi yang panjang tersebut, porsi terbesar digunakan untuk mengakses media sosial, bahkan kelompok anak muda bisa menghabiskan waktu hingga enam jam sehari menurut data GoodStats. Dalam durasi yang intens tersebut, hampir mustahil bagi pengguna untuk tidak terseret ke dalam pusaran konten viral, mulai dari video kecelakaan hingga cerita pilu yang tiba-tiba muncul di beranda. Fenomena ini sering kali memicu respons emosional mendalam yang menciptakan rasa sesak di dada bagi para penontonnya sebelum mereka kembali menggulir layar.

​Di satu sisi, fenomena viral memang mampu memicu solidaritas sosial yang kuat, mulai dari pemberian dukungan moral hingga penyaluran bantuan materi. Namun di sisi lain, ruang digital ini juga membuka celah bagi munculnya stigma negatif, seperti tindakan menyalahkan korban (victim blaming) dan komentar yang tidak beretika. Kasus Audrey, siswi SMP asal Pontianak yang sempat viral beberapa waktu lalu, menjadi salah satu contoh nyata dari fenomena ini. Di balik gelombang tagar #JusticeForAudrey, kolom komentar justru dipenuhi oleh penghakiman massa yang bahkan mempertanyakan perilaku korban itu sendiri. Pola komunikasi di media sosial yang bebas dan anonim cenderung membuat orang lebih mudah menghakimi tanpa memahami konteks secara utuh, sehingga berdampak negatif pada kondisi psikologis korban.

​Berangkat dari fenomena tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) mencoba untuk membedah permasalahan ini secara lebih mendalam. Mereka mengumpulkan data dari 103 responden yang mayoritas merupakan mahasiswa dan anak muda untuk meninjau pengaruh konten viral terhadap empati serta perilaku di dunia digital. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa jauh konten-konten tersebut benar-benar memengaruhi tindakan nyata kita sebagai pengguna. Hasil yang ditemukan dari riset ini tergolong cukup mengejutkan, sekaligus memberikan sedikit titik terang yang melegakan. Melalui pendekatan ini, diharapkan pola perilaku masyarakat di ruang digital dapat terpetakan secara lebih objektif.

​Hampir sembilan dari sepuluh responden mengaku merasakan kesedihan yang mendalam ketika melihat korban tragedi yang viral di media sosial. Angka tersebut menunjukkan konsistensi yang sangat tinggi, yakni berada pada kisaran 85 hingga 87 persen. Para responden juga menyatakan bahwa mereka mampu membayangkan penderitaan yang dialami oleh para korban tersebut. Namun, cerita berubah drastis ketika mereka ditanya mengenai tindakan nyata yang dilakukan untuk membantu. Hanya sekitar separuh dari responden yang pernah benar-benar membagikan informasi atau memberikan bantuan konkret kepada korban, sementara sisanya memilih untuk diam atau sekadar melanjutkan aktivitas scrolling.

​Para peneliti mengategorikan kondisi ketimpangan ini sebagai empathy gap, yaitu adanya jarak antara apa yang dirasakan dengan apa yang dilakukan. Kita mungkin merasa tersentuh secara emosional, tetapi perasaan tersebut tidak selalu bertransformasi menjadi sebuah tindakan. Di sisi lain, tingkat kesadaran mengenai etika berkomunikasi sebenarnya sudah tergolong cukup tinggi di kalangan responden. Lebih dari 80 persen responden sepakat bahwa memberikan komentar negatif merupakan tindakan yang tidak etis karena dapat memperburuk kondisi psikologis korban. Selain itu, sekitar tiga perempat responden mengaku tidak pernah terlibat dalam memberikan komentar jahat di ruang digital.

​Namun, realitas yang terjadi di kolom komentar konten viral sering kali menunjukkan pemandangan yang berbeda dari pengakuan tersebut. Penghakiman masih terus muncul dan berkembang secara masif seiring dengan tersebarnya sebuah konten. Temuan yang menarik dalam riset ini justru terletak pada pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku individu. Ternyata, empati digital bukan sepenuhnya merupakan persoalan karakter pribadi masing-masing individu secara terpisah. Bagaimana orang-orang di sekitar kita berperilaku di media sosial, baik dengan ikut menghakimi atau justru membela korban, memiliki pengaruh besar terhadap tindakan yang akan kita ambil.

​Empati digital terbentuk dari kultur interaksi yang dibangun secara kolektif di dalam ruang interaksi daring. Jika lingkaran pertemanan kita terbiasa untuk diam saat melihat ketidakadilan, kita pun memiliki kecenderungan untuk ikut bersikap pasif. Sebaliknya, apabila lingkungan sosial kita aktif menunjukkan empati, kita akan lebih terdorong untuk melakukan tindakan serupa. Temuan ini sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, khususnya Sila Kedua dan Sila Ketiga. Kesadaran bahwa komentar jahat adalah tindakan yang salah mencerminkan nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, sedangkan dorongan untuk tidak menyalahkan korban merupakan wujud nyata dari Persatuan Indonesia di ruang digital.

Namun, selama empati hanya berhenti pada tataran perasaan dan tidak diaktualisasikan dalam tindakan, maka nilai-nilai tersebut belum benar-benar hidup dalam keseharian. Diperlukan langkah nyata agar nilai luhur bangsa tidak hanya menjadi semboyan hampa di ruang digital. Oleh karena itu, tantangan kita ke depan bukan hanya sekadar bertanya pada diri sendiri apakah kita sudah cukup peduli. Kita juga harus mempertimbangkan lingkungan digital seperti apa yang sedang kita ciptakan untuk orang-orang di sekitar kita. Dengan menciptakan ekosistem yang sehat, empati akan tumbuh menjadi sebuah aksi yang membawa perubahan positif bagi sesama.

​Daftar Pustaka

Agustiani, H. (2006). Psikologi Perkembangan: Pendekatan Ekologi Mamalia dalam Memahami Remaja. Bandung: Refika Aditama.

Badan Pusat Statistik. (2021). Statistik Telekomunikasi Indonesia 2020. Jakarta: BPS.

GoodStats. (2026). Laporan Survei Perilaku Media Sosial Anak Muda Indonesia. Jakarta: GoodStats Indonesia. 

Haidt, J. (2012). The Righteous Mind: Why Good People are Divided by Politics and Religion. New York: Vintage Books.

Kemp, S. (2026). Digital 2026: Indonesia. We Are Social & Meltwater

Notonagoro. (1975). Pancasila Secara Ilmiah Populer. Jakarta: Pantjuran Tudjuh.

Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila dengan dosen pengampu Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.

​Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.