Home Kabar Kampus Empat Prodi Fakultas Teknik USU Berhasil Pertahankan Akreditasi Internasional IABEE
Kabar Kampus

Empat Prodi Fakultas Teknik USU Berhasil Pertahankan Akreditasi Internasional IABEE

Share

Reporter: Filemon Saing dan Suci Rahmawati Siregar

Suara USU, Medan. Empat program studi di Fakultas Teknik (FT) Universitas Sumatera Utara (USU), yaitu Teknik Kimia, Teknik Elektro, Teknik Industri, dan Teknik Mesin, telah mempertahankan akreditasi internasional dari Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) yang diakui melalui Washington Accord pada 01 April 2026.

Dekan FT USU, Prof. Dr. Ir. Fahmi, S.T., M.Sc., IPM, menyebut capaian ini sebagai hasil dari penerapan mutu pendidikan yang terus diperbaiki melalui sistem evaluasi berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa IABEE menekankan penerapan Outcome-Based Education (OBE), yakni pendekatan pembelajaran yang mengutamakan capaian hasil lulusan, bukan sekadar nilai ujian. Menurutnya, penilaian tidak berhenti pada angka A, B, C, atau D, melainkan pada kompetensi yang benar-benar dapat ditunjukkan oleh mahasiswa setelah menyelesaikan pembelajaran.

“Fokus utama di dalam capaian ini adalah membuktikan bahwa kurikulum, proses pembelajaran, dan kualitas mutu setara dengan standar internasional,” jelas Prof. Fahmi dalam wawancara bersama Suara USU (14/04/2026).

Setiap tahun, FT USU melakukan audit mutu internal untuk melihat apa yang masih menjadi kendala, lalu akan dirumuskan tindakan perbaikannya. Selain itu, Prof. Fahmi juga menegaskan bahwa tantangan mempertahankan akreditasi internasional lebih berat dibanding meraihnya. Menurutnya, empat program studi (prodi) tersebut menjadi bagian dari jajaran prodi internasional pertama di USU sejak 2017, sehingga perbaikan berkelanjutan menjadi kewajiban utama.

Adapun akreditasi IABEE menilai empat aspek utama, yaitu orientasi kompetensi lulusan, pelaksanaan pembelajaran, penilaian capaian pembelajaran, dan perbaikan berkelanjutan. FT USU juga menjalankan sistem penjaminan mutu internal melalui audit tahunan untuk memastikan setiap catatan perbaikan ditindaklanjuti.

Dalam penilaian IABEE, prodi juga dikategorikan ke dalam beberapa status, mulai dari accepted, concern, weakness, hingga deficiency. Kategori tersebut digunakan untuk melihat sejauh mana prodi memenuhi standar dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki, terutama melalui evaluasi berkelanjutan.

Pada Teknik Industri, Prof. Ir. Aulia Ishak, S.T., M.T., Ph.D., selaku Kepala Program Studi (Kaprodi), menjelaskan bahwa orientasi kompetensi lulusan disusun berdasarkan capaian pembelajaran yang terukur dan disosialisasikan kepada mahasiswa serta dosen. Hal ini sesuai dengan tuntutan IABEE terkait keterbukaan prodi dalam menjelaskan profil lulusan dan kompetensi yang ingin dicapai.

“Artinya, karena IABEE berfokus pada capaian akreditasi internasional berbasis Outcome-Based Education, maka pendekatan yang digunakan menekankan pada hasil pembelajaran, yaitu apa yang mampu dilakukan oleh lulusan kita,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kurikulum dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) disusun agar selaras dengan capaian pembelajaran lulusan dan capaian pembelajaran mata kuliah. Dalam proses itu, prodi juga melakukan pelatihan dan brainstorming kepada mahasiswa serta dosen agar seluruh pihak memahami kompetensi yang ditargetkan.

Selain itu, Prof. Aulia juga menyebut Teknik Industri USU memiliki posisi penting secara nasional, yakni karena prodi tersebut menempati peringkat pertama di Indonesia versi Scimago Ranking, yang disebutnya sebagai bagian dari penguatan mutu akademik yang terus dijaga.

Sementara itu, Kaprodi Teknik Elektro, Suherman, S.T., M.Comp., Ph.D., mengatakan bahwa profil lulusan prodi disesuaikan dengan bidang keahlian dosen yang ada, yakni tenaga listrik, telekomunikasi, dan komputer. Ia menjelaskan bahwa akreditasi IABEE juga menilai kecukupan dosen, fasilitas, laboratorium, serta pelaksanaan keselamatan kerja dan kesehatan kerja (K3).

“Kebetulan di Elektro ada yang bidang keahliannya di tenaga listrik, ada yang di telekomunikasi, ada yang di komputer sehingga kita putuskan profil lulusan yang bagaimana yang kita ajukan,” jelasnya.

Suherman menambahkan bahwa teknik elektro kini mengalami pergeseran fokus dari aplikasi lapangan ke penguatan riset dan kolaborasi internasional. Menurutnya, hal itu juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas lulusan agar lebih siap bersaing di tingkat global.

Di Teknik Mesin, Dr. Ir. M. Sabri, M.T., IPM., ASEAN Eng., sebagai Kaprodi menyampaikan bahwa prodi secara berkala mengadakan forum diskusi dengan industri dan alumni untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja. Kemudian, hasil masukan tersebut digunakan sebagai dasar evaluasi dan pembaruan kurikulum.

“Kita melakukan sejenis forum diskusi dengan berbagai pihak di industri internasional ya. Dari diskusi itu kita dapatkan sebenarnya apa keperluan dunia kerja terhadap lulusan Teknik Mesin,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa IABEE juga menilai peran lulusan pada lima tahun pertama setelah bekerja. Karena itu, Teknik Mesin terus memantau masukan dari alumni maupun pihak industri untuk memastikan lulusan tetap relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Dr. Sabri juga menjelaskan bahwa sejumlah peralatan laboratorium di Teknik Mesin dirancang dan dibuat sendiri oleh prodi, sedangkan alat yang lebih mutakhir dibeli untuk melengkapi kebutuhan praktikum dan penelitian. Ia menyebut cara itu menjadi bagian dari penguatan kemandirian fasilitas di prodi.

Dari Teknik Kimia, Nisaul Fadilah Dalimunthe, S.T., M.Eng., mengatakan bahwa kurikulum disusun dengan melibatkan pihak industri, praktisi, dan perwakilan pemerintah. Ia menegaskan bahwa keterlibatan itu dilakukan agar mahasiswa memahami kebutuhan nyata dunia kerja sekaligus memperkuat relevansi pembelajaran. Selain itu, dosen tamu dari industri juga dihadirkan agar mahasiswa mendapatkan gambaran langsung mengenai praktik di lapangan.

“Untuk menerapkan kurikulum itu kami melibatkan pihak industri, ada praktisi, dan juga perwakilan pemerintah dalam diskusinya,” ungkapnya.

Nisaul menambahkan, seluruh masukan dari luar menjadi bagian dari perbaikan berkelanjutan yang dijalankan melalui siklus Plan, Do, Check, Action (PDCA). Dengan demikian, akreditasi internasional tidak hanya menjadi pengakuan, tetapi juga dasar untuk menjaga mutu pendidikan secara terus-menerus.

Akreditasi internasional IABEE juga dinilai memberi nilai tambah bagi lulusan, karena kompetensi mereka terdokumentasi melalui capaian pembelajaran dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Dengan pengakuan Washington Accord, lulusan FT USU memiliki daya saing yang lebih luas untuk bersaing di tingkat nasional maupun global.

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.