Home Kabar Kampus EXPRESS 3.0 Suara USU Ajak Publik Berani Suarakan Realitas Indonesia
Kabar Kampus

EXPRESS 3.0 Suara USU Ajak Publik Berani Suarakan Realitas Indonesia

Share

Reporter: Nurur Rahmah

Suara USU, Medan. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara USU kembali menghadirkan pameran seni dan karya jurnalistik tahunan melalui EXPRESS 3.0, yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 Desember 2025, di Cannu Coffee and Eatery, Jalan Darussalam, Kota Medan. Pameran ini menjadi ruang bagi para seniman, jurnalis muda, dan masyarakat umum untuk mengungkapkan gagasan serta kegelisahan mengenai situasi sosial Indonesia melalui berbagai medium karya. Tahun ini, panitia mengangkat tema Echoes From The Dark, sebuah ajakan untuk berani menyuarakan hal-hal yang sering kali tenggelam dalam gelapnya berbagai persoalan yang menimpa Indonesia.

Pemilihan tema ini bukan tanpa alasan. Menurut panitia, kondisi Indonesia akhir-akhir ini dinilai berada dalam situasi yang penuh tantangan. “Kami berangkat dari melihat keadaan Indonesia sekarang. Banyak bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, khususnya di Sumatra. Selain itu, tahun ini juga dipenuhi demonstrasi, krisis kemanusiaan, dan polarisasi sosial. Dari situ pasti ada sinar, gema, atau suara-suara yang tidak terdengar,” jelas Febby, Ketua Panitia EXPRESS 3.0. Melalui pameran ini, panitia ingin memberikan ruang bagi suara-suara tersebut agar dapat diuarkan dan dilihat oleh publik.

Berbagai bentuk karya seni dipamerkan, mulai dari fotografi, lukisan, hingga tulisan yang bersandar pada interpretasi masing-masing kreator terhadap tema Echoes From The Dark. Videografi yang ditampilkan memuat dokumentasi mengenai demonstrasi yang berlangsung sepanjang tahun, rekaman bencana alam, serta potret kondisi sosial di berbagai daerah. Karya-karya ini tidak hanya menyajikan visual, tetapi juga narasi yang kuat tentang keresahan yang dirasakan masyarakat.

Selain karya utama, panitia menambahkan beberapa ruang interaktif seperti Pojok Mengenang, sebuah sudut khusus yang didedikasikan untuk mengenang para jurnalis yang hilang dan tidak kembali dalam menjalankan tugasnya. Ada pula Hope Wall, sebuah dinding harapan tempat anak muda menuliskan aspirasi dan impian mereka untuk Indonesia yang lebih baik. Tidak ketinggalan, Dinding Bersuara menjadi wadah bagi pengunjung menuliskan hal-hal yang selama ini tidak terdengar—mulai dari kritik sosial, pengalaman pribadi, hingga pesan solidaritas.

Rangkaian acara semakin lengkap dengan adanya talkshow yang menghadirkan Irawanto dari KPR Sumut untuk membahas isu ketidakadilan yang dialami buruh, perempuan, dan masyarakat desa. Talkshow ini menjadi salah satu segmen penting karena membuka ruang diskusi mengenai realitas sosial yang selama ini jarang terangkat di ruang publik. Pada malam harinya, pengunjung juga disuguhkan berbagai penampilan seni mulai dari Friday Feeling Music, Khalist, Rooftop and The Epiphany, The Big Boy dengan penampilan rap, solo vokal dari Alifah Audrey dan Nikita, hingga pembacaan puisi oleh Adilla Juli dan Innasya Tahara.

Ketua Panitia, Febby Juanita, berharap pameran ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi seni, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kesadaran sosial. “Kami berharap teman-teman bisa lebih aware terhadap keadaan Indonesia saat ini. Dari sini, siapa pun yang ingin menyuarakan sesuatu tetapi takut, dapat mengekspresikannya lewat lukisan, videografi, ataupun fotografi,” ujarnya.

Melalui EXPRESS 3.0, Suara USU kembali menegaskan peran seni dan jurnalisme sebagai medium yang kuat untuk menyampaikan kenyataan, suara, dan harapan bahkan dari tempat-tempat yang paling gelap sekalipun.

Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.