Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Film

Geez dan Ann, Sebuah Pilihan Antara Cinta dan Cita-cita

Penulis: Mei Rosalina

Film Geez and Ann yang baru saja rilis 25 Februari kemarin cukup banyak menarik perhatian. Pasalnya, film ini menceritakan dilema-dilema yang dihadapi oleh anak muda, mulai dari masalah percintaan, jarak, sampai keluarga. Film yang disutradarai oleh Rizki Balki dan diproduksi oleh MVP Pictures ini diadaptasi dari novel karya Nadhifa Allya Tsana alias Rintik Sedu.

Film Geez and Ann bermula dengan adegan acara pentas seni disekolah Ann (Hanggini Purinda). Saat itu Ann bertugas sebagai panitia. Tak disangka, saat acara dimulai tiba-tiba listrik padam dan Ann langsung memperbaikinya. Ann berhasil, namun ia terjatuh dan ditangkap oleh Geez (Junior Roberts). Setelah acara selesai, Geez dan Ann pun mulai berkenalan.

Alur cerita film ini sebenarnya seperti kisah cinta anak muda biasanya. Namun, acting Hanggini dan Junior yang begitu natural membuat penonton ikut terjebak dalam suasana. Sayangnya, pada scene Geez bernyanyi terlihat jelas bahwa itu hanya sebuah lipsync dan cukup menggangu pandangan.

Semenjak bertemu Geez, Ann menemukan kebahagiaan yang selama ini belum pernah ia dapatkan dari lelaki manapun. Hari-hari Ann bersama Geez sangat berwarna sampai suatu saat, di hadapan Ann, Geez berbohong kepada Ibunya tentang Ann. Hubungan Geez dan Ann pun  mulai mendapatkan goncangan yang harus mereka dihadapi.

Dewi Rezer yang berperan sebagai ibunda Geez sangat mendalami perannya dengan baik, terlihat bahwa didalam mata ibu Geez ada dendam dan angkuh yang menyatu. Walaupun perannya cukup bagus, pada saat klimaks, Geez dan Ibunya tidak terlalu memberikan kesan yang nyata antara Ibu dan Anak.

Setelah Geez berangkat ke Berlin dan Ann menjalani kesehariannya yang cukup menyedihkan, muncul pemain-pemain baru di keseharian Ann. Cara masuk pemain pemain baru ini dirasa tak begitu pas dibarengi acting yang kurang, membuat ceritanya menjadi berbelit. Selain itu, pemeran figuran yang ada, baik saat film ini dimulai juga dirasa terlalu banyak dan kurang penting. Harusnya ada pengurangan pemain agar tidak mubazir dan sebagai gantinya dapat dipilihkan pemain yang lebih handal.

Setelah menyelesaikan kuliah nya di Berlin, Geez pulang ke Indonesia bersama komitmen yang ia jaga demi Ann. Disini Ann dan Geez dipertemukan kembali dengan acting dan emosi yang cukup baik.

Film yang berdurasi 105 menit ini walaupun tidak semaksimal film-film kelas atas, tetap memberikan pesan dan pelajaran baik bagi anak muda dan orang tua. Sebagai anak yang mempunyai cita dan cinta, hendaknya kita tidak lupa bahwa prioritas kita adalah belajar. Boleh saja dibarengin dengan cinta selagi bisa dipertanggungjawabkan.

Film ini cocok dinikmati oleh anak-anak muda yang sedang menjalin hubungan jarak jauh, sebagai pelajaran untuk saling menjaga komitmen. Juga cocok ditonton oleh siapapun yang sedang berusaha menjalankan keinginan dan kebahagiaan orang tua. Film ini pas banget untuk mengisi waktu luang!

Redaktur: Yulia Putri Hadi

Related posts

Generasi 90an: Melankolia, Kehilangan dan yang Tak Tergantikan

redaksi

June & Kopi, Film yang Menceritakan Persahabatan Anjing dan manusia

redaksi

Merasakan Kembali Lebaran, Lewat Film Mencari Hilal!

redaksi