Reporter: Dhita Luna dan Dinda Sajidah
Suara USU, Medan. Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi (PdSI), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sumatera Utara (USU), menggelar kuliah umum bertajuk “Perpustakaan Multikultural di Era Digital: Membangun Ekosistem Informasi yang Inklusif” secara daring pada Senin (31/8). Kegiatan ini menjadi langkah prodi dalam membekali calon pustakawan untuk melayani masyarakat yang beragam di tengah perkembangan teknologi digital.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Pengelolaan Perpustakaan Universitas Padjadjaran (Unpad), Dr. Ute Lies Siti Khadijah, S.Sos., M.Si., sebagai narasumber, Ketua Program Studi PdSI FIB USU, Drs. Dirmansyah, M.A., dan Wakil Dekan I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Kealumnian FIB USU, Dr. Zulfan, S.S., M.Hum. Acara dipandu oleh Septa, S.Hum., M.Hum., sebagai pembawa acara dan Dr. Laila Hadri Nasution, S.Sos., M.P., sebagai moderator.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan doa oleh Muhammad Rasyid Ridlo, M.Hum., dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Program Studi PdSI FIB USU, Drs. Dirmansyah, M.A., sebelum kuliah umum dibuka secara resmi oleh Dr.Zulfan.
Dalam sambutannya, Dirmansyah menekankan bahwa peran perpustakaan modern tidak lagi sekadar menjadi tempat peminjaman buku. Pustakawan masa kini perlu mampu melayani pengguna dengan latar belakang yang beragam, mulai dari budaya, pengalaman hidup, kelompok sosial, hingga bidang keilmuan. Pemahaman mengenai multikulturalisme tersebut dinilai menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja.
Setelah sambutan dan pembukaan, rangkaian acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Dr.Ute. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan pada peran perpustakaan, termasuk dalam menjaga peradaban dan memori kolektif masyarakat. Pustakawan tidak hanya dituntut mengelola informasi, tetapi juga memiliki peran dalam mendokumentasikan warisan budaya takbenda yang belum terdokumentasi.
Dr.Ute memberikan contoh melalui riset mengenai tradisi lisan mantra “Jangjawokan” di Jawa Barat. Karena tidak memiliki bukti tertulis, tradisi tersebut berisiko hilang apabila tokoh adat yang mewariskannya meninggal dunia. Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian ketika generasi muda dinilai lebih akrab dengan budaya populer luar negeri dibandingkan tradisi lokal.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Dr.Ute memaparkan sejumlah pemanfaatan teknologi dalam pelestarian budaya. Upaya tersebut meliputi digitalisasi naskah kuno di Indramayu, Garut, dan Sumedang, pembuatan wisata budaya virtual melalui digital storytelling untuk bangunan bersejarah di Jakarta, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk merangkum metadata ratusan foto wayang golek secara otomatis di Desa Jelekong.
Namun, pemanfaatan teknologi dalam pelestarian budaya juga menghadirkan tantangan, khususnya terkait etika dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) komunal. Menurut Dr.Ute, persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan ahli hukum agar pemanfaatan teknologi tetap memperhatikan hak masyarakat sebagai pemilik budaya.
Sementara itu, Dr. Zulfan menyoroti ancaman terhadap keberlangsungan budaya lokal di tengah perkembangan teknologi dan maraknya disinformasi. Ia menegaskan bahwa kekayaan ragam budaya Indonesia perlu dikelola melalui sistem informasi yang tepat agar tidak hilang dan tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penjelasan tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung secara interaktif. Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama di ruang virtual.
Bagi pihak prodi, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan daya kritis. Dirmansyah berharap kuliah umum tersebut dapat mendorong lahirnya penelitian, tulisan, maupun gagasan inovatif dari mahasiswa dalam menghadapi multikulturalisme di era digital.
“Tentu kami berharap akan lahir penelitian, tulisan, maupun gagasan inovatif dari mahasiswa tentang bagaimana menghadapi multikulturalisme di era digital. Dengan situasi multikultural dan keadaan yang sangat digital ini, kita mau mendengar ide-ide dari mahasiswa karena bagaimanapun ini bakalan jadi tempat kerja mereka nantinya. Kita berharap ide ini datang dari mereka,” pungkas Dirmansyah.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment