Oleh: Dea Asrianti Claudia Jawak
Suara USU, Medan. Manuk Nabinatur atau yang lebih dikenal sebagai Dayok Nabinatur merupakan hidangan adat khas masyarakat Simalungun, Sumatera Utara. Berbahan dasar ayam kampung, hidangan ini tidak hanya menyajikan cita rasa khas rempah, tetapi juga mengandung filosofi yang tercermin dari cara pengolahan, penataan, hingga penyajiannya. Manuk Nabinatur bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2016.
Nama Nabinatur berasal dari kata dalam bahasa Simalungun yang berarti “yang diatur” atau “yang ditata dengan teratur”. Sesuai namanya, ayam yang telah dimasak akan disusun kembali di atas pinggan menyerupai bentuk ayam ketika masih hidup. Penataan tersebut melambangkan keteraturan dalam kehidupan serta harapan agar kehidupan penerima hidangan berjalan terarah, harmonis, dan berkesinambungan.
Dalam sejarahnya, Manuk Nabinatur merupakan hidangan istimewa yang dahulu hanya diperuntukkan bagi raja dan kalangan bangsawan Simalungun. Proses pengolahannya pun memiliki aturan adat tertentu. Secara tradisional, orang yang bertugas memasak hidangan tersebut merupakan laki-laki. Namun, seiring perkembangan zaman, aturan tersebut mulai berubah. Manuk Nabinatur kini dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat dan keterampilan memasaknya juga diwariskan kepada perempuan.
Meskipun tidak lagi terbatas pada kalangan tertentu, kedudukan Manuk Nabinatur sebagai hidangan adat tetap dipertahankan. Hidangan ini biasa disajikan dalam berbagai peristiwa penting, seperti pesta pernikahan, syukuran memasuki rumah baru atau mambangun jabu, upacara kematian sayurmatua, pembaptisan anak, hingga ketika orang tua melepas anak untuk merantau atau menghadapi ujian dan tahapan penting dalam kehidupan.
Dalam pembuatannya, ketelitian menjadi hal utama karena setiap bagian tubuh ayam harus tetap lengkap. Ayam kampung muda terlebih dahulu dibersihkan, kemudian dibumbui dengan berbagai rempah, seperti andaliman, kulit jeruk khas Batak, cabai merah, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lengkuas, serai, dan daun jeruk. Seluruh bumbu dihaluskan dan ditumis hingga harum sebelum dimasukkan ke dalam bagian dalam ayam.
Ayam yang telah dibumbui kemudian direbus atau dikukus hingga matang dan bumbu meresap. Dalam proses pemotongan, tidak boleh ada bagian tubuh yang hilang. Kepala, leher, sayap, paha, dada, hingga jeroan harus dipertahankan sebelum seluruh bagian tersebut ditata kembali menyerupai bentuk ayam utuh.
Kelengkapan bagian tubuh ayam tersebut memiliki makna tersendiri. Kepala yang berada di bagian atas melambangkan pemimpin atau sesepuh yang menjadi panutan dan tempat meminta nasihat. Sayap menggambarkan kekuatan, perlindungan, serta semangat dalam mencapai cita-cita. Paha melambangkan keteguhan pendirian, keberanian, dan kewibawaan. Sementara itu, hati dan ampela yang ditempatkan di bagian tengah menjadi simbol ketulusan dan pusat kehidupan.
Pemilihan ayam jantan kampung sebagai bahan utama juga bukan tanpa makna. Ayam jantan dianggap melambangkan kegagahan, semangat bekerja, dan sikap pantang menyerah. Nilai tersebut menjadi gambaran karakter yang diharapkan dimiliki oleh orang yang menerima hidangan.
Selain proses memasak dan penataannya, cara penyajian Manuk Nabinatur juga memiliki aturan tersendiri. Kepala ayam dihadapkan kepada penerima hidangan atau tamu kehormatan sebagai bentuk penghormatan. Pemberian hidangan biasanya disertai ungkapan, “Sai andohar ma songon paratur ni Dayok Nabinatur On,” yang secara umum mengandung harapan agar kehidupan penerima berjalan teratur, sejahtera, dan diberkahi.
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa Manuk Nabinatur bukan sekadar makanan yang disajikan dalam acara adat. Setiap tahap pembuatannya mengandung pesan tentang keteraturan, tanggung jawab, penghormatan, dan kebersamaan. Tidak adanya bagian ayam yang boleh hilang juga menggambarkan pandangan bahwa setiap individu memiliki peran dalam kehidupan dan seluruhnya saling melengkapi.
Di tengah perkembangan kuliner modern dan arus globalisasi, keberadaan Manuk Nabinatur menjadi bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat Simalungun. Pengenalan tradisi kepada generasi muda melalui kegiatan budaya dan berbagai bentuk edukasi menjadi salah satu upaya agar pengetahuan mengenai hidangan ini tidak terputus.
Manuk Nabinatur pada akhirnya menunjukkan bahwa makanan tradisional dapat menjadi media untuk menyampaikan nilai dan doa dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sepiring ayam yang ditata dengan penuh ketelitian tidak hanya menghidangkan cita rasa, tetapi juga menyimpan harapan tentang kehidupan yang teratur, hubungan yang harmonis, serta keberlanjutan warisan budaya Simalungun.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment