Reporter: Ghefira Mannawa Salwa
Suara USU, Medan. Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sumatera Utara (USU), Riski Samuel Manurung, berhasil meraih penghargaan sebagai salah satu karya terbaik dalam ajang Digital Innovation 2026 yang diselenggarakan oleh Kamadiksi KIPK Universitas Diponegoro. Ajang tersebut mengangkat tema “Heritage in Style: Elevansi Budaya Indonesia di Tangan Generasi Z”.
Digital Innovation 2026 dilaksanakan pada 20 Juni hingga 7 Agustus 2026. Kompetisi tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas melalui karya literasi dan seni digital yang mengangkat kekayaan budaya Indonesia.
Dalam ajang tersebut, Riski mengangkat karya puisi berjudul “Akar Cahaya” yang menggambarkan hubungan generasi muda, khususnya Generasi Z, dengan warisan budaya Indonesia di tengah perkembangan teknologi.
“Makna puisi ‘Akar Cahaya’ ini menggambarkan tentang hubungan generasi muda (Gen Z) di zaman sekarang dengan warisan budaya Indonesia. Generasi muda harus berperan penting dalam menjaga dan melestarikan budaya bangsa Indonesia di tengah perkembangan zaman teknologi yang berkembang pesat,” jelas Riski.
Pemilihan judul “Akar Cahaya” juga memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan pesan dalam puisi tersebut.
“Kata ‘Akar’ menggambarkan warisan budaya yang menjadi dasar bangsa, kata ‘Cahaya’ menggambarkan generasi muda yang membawa harapan bagi budaya bangsa,” tuturnya.
Ketertarikan Riski mengikuti kompetisi tersebut berangkat dari minatnya terhadap dunia kepenulisan. Ia juga ingin mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya melalui kegiatan perlombaan.
“Saya tertarik dalam dunia kepenulisan dan ingin mencoba mengembangkan kemampuan soft skill yang dimiliki melalui kegiatan perlombaan tersebut,” ujar Riski.
Sebelum menyusun karya, Riski memperbanyak membaca berbagai karya sebagai referensi untuk menambah wawasan sebelum mulai menulis. Ia juga mempelajari materi yang berkaitan dengan karya serta memahami persyaratan kompetisi melalui internet dan guide book yang disediakan panitia.
Setelah memahami materi dan ketentuan lomba, Riski mulai menyusun dan mengembangkan karya secara bertahap. Menemukan ide yang tepat dan sesuai dengan tema serta ketentuan kompetisi menjadi salah satu tantangan yang dihadapinya.
“Tantangan yang paling saya rasakan adalah bagaimana menemukan dan menghasilkan ide yang tepat sehingga menjadi sebuah karya yang sesuai dengan ketentuan dalam lomba,” katanya.
Selain menemukan ide, manajemen waktu menjadi tantangan lain selama proses pengerjaan. Untuk mengatasinya, Riski membuat perencanaan dan menentukan linimasa pengerjaan agar karya dapat diselesaikan sesuai dengan batas waktu yang ditentukan.
Setelah mengetahui karyanya terpilih sebagai salah satu karya terbaik, Riski mengaku senang sekaligus tidak menyangka. Pencapaian tersebut menjadi pengalaman yang mendorongnya untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan.
“Pencapaian ini menjadi salah satu pengalaman yang baik sekaligus memberikan motivasi kepada saya untuk terus berkarya, mengembangkan kemampuan saya, dan berani mencoba untuk terus berkembang secara positif,” tuturnya.
Menurut Riski, kreativitas dan kemampuan berinovasi semakin penting bagi mahasiswa di tengah perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk mengembangkan ide, ilmu, dan keterampilan sekaligus menghasilkan gagasan yang memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Ia berharap pencapaiannya dapat mendorong mahasiswa lain untuk berani mengikuti kompetisi dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki.
“Terus mencoba, belajar, dan beri usaha yang terbaik dalam setiap proses yang kamu lakukan. Setiap hasil yang baik selalu lahir dari usaha yang luar biasa. Tetap semangat dan terus berinovasi,” pungkasnya.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment