Home Opini Harga Emas Meroket, Masyarakat Dilanda FOMO Investasi
Opini

Harga Emas Meroket, Masyarakat Dilanda FOMO Investasi

Share

 

Sumber: Pinterest

Oleh: Cynthia Ma

Suara USU, Medan. Setelah sempat mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, harga emas akhirnya kembali stabil.

Dilansir dari situs resmi Pegadaian (20/04/25), harga emas Antam tetap berada di angka Rp2.034.000 per gram. Merek lainnya seperti UBS juga masih berada di angka yang sama, yakni Rp1.993.000 selama dua hari berturut-turut. Hanya emas Galeri24 yang terpantau mengalami penurunan sebesar Rp25.000, dari Rp1.989.000 menjadi Rp1.964.000.

Jika dibandingkan dengan bulan April 2024, harga emas Antam telah melonjak sekitar 48,3% dari posisi sebelumnya di Rp1.325.000 per gram.

Kenaikan harga ini tidak lain dipicu oleh gejolak perdagangan dan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China, yang menyebabkan ketidakpastian ekonomi global. Akibatnya, banyak masyarakat Indonesia yang memilih emas untuk bermain aman ketika investasi lain dipandang berisiko.

Selama bulan April 2025, Direktur Utama PT Pegadaian, Damar Latri Setiawan, mencatat adanya peningkatan transaksi Tabungan Emas hingga empat kali lipat. Dalam wawancaranya bersama Antara (19/04/25), ia bahkan memproyeksikan lonjakan tersebut bisa mencapai sepuluh kali lipat seiring tingginya minat masyarakat.

Meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebetulnya patut diapresiasi. Di tengah berbagai ketidakpastian ekonomi, kesadaran untuk mulai berinvestasi menunjukkan langkah awal yang positif menuju kemandirian finansial. Emas pun dipilih sebagai instrumen yang relatif aman, terutama untuk tujuan jangka panjang.

Namun, penting untuk diingat bahwa meskipun emas termasuk safe haven, aset ini tetap tunduk pada hukum pasar. Harga emas sangat bergantung pada kondisi fundamental global dan rentan terhadap berbagai sentimen seperti suku bunga, inflasi, nilai tukar, serta ketegangan geopolitik. Artinya, investasi emas tetap memerlukan pengetahuan dan perencanaan, bukan sekadar mengikuti tren.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan penduduk Indonesia mencapai 65,43% pada tahun 2024. Meskipun angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, masih terdapat sekitar 35% masyarakat yang belum memiliki pemahaman yang cukup tentang produk dan layanan keuangan.

Ketimpangan ini menjadi perhatian serius, terutama ketika akses terhadap produk keuangan semakin luas. Banyak yang tergoda membeli emas hanya karena harga naik atau karena teman dan influencer sudah lebih dulu membeli. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) pun semakin kuat, membuat investasi berubah dari aktivitas strategis menjadi ajang ikut-ikutan.

Padahal, perlu dipahami bahwa investasi emas tidak selalu memberikan keuntungan instan. Menurut analis pasar uang Ariston Tjendra dalam pernyataannya kepada Kumparan (18/4/25), selisih antara harga beli dan harga jual kembali (buyback) bisa mencapai Rp100.000 hingga Rp150.000 per gram. Jika seseorang menjual emas saat harga belum cukup naik, mereka justru bisa mengalami kerugian.

Hal ini juga ditegaskan oleh perencana keuangan Mike Rini, yang menyebut bahwa untuk meraih untung dari emas, investor harus sabar menunggu hingga harga buyback-nya lebih tinggi dari harga beli. Sedangkan waktu yang tepat untuk menjual itu belum tentu bisa diprediksi. Maka dari itu, emas lebih cocok untuk investasi jangka panjang, bukan sebagai respons spontan terhadap tren sesaat.

Ironisnya, di tengah akses informasi yang makin luas, masyarakat justru sering kali tidak benar-benar mencari tahu sebelum bertindak. Hanya karena melihat orang lain untung, lalu ikut membeli emas tanpa tahu cara kerjanya. Mentalitas ikut-ikutan ini seakan tak pernah hilang, terus berganti wajah mulai dari tren skincare, saham, hingga kini emas.

Sudah saatnya masyarakat berhenti menjadikan tren sebagai kompas utama dalam mengambil keputusan keuangan. Emas bukan jimat yang selalu mendatangkan untung, dan investasi bukan sekadar soal “yang penting ikut.” Kalau keputusan diambil hanya karena takut ketinggalan, maka kerugian hanya tinggal menunggu waktu.

Redaktur: Alicia Reylina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.