SUARA USU
Uncategorized

Implementasi Nilai-Nilai Gotong Royong Dalam Membangun Solidaritas Sosial Pada Era Digital

Oleh: Karina/Diva/Gresia/Nazira/Vicky/Cedric/Samudera

Suara USU, Medan. Salah satu budaya yang tumbuh dan berkembang di kehidupan sosial masyarakat Indonesia adalah gotong royong. Gotong royong merupakan bentuk kerja sama yang kolaboratif demi mencapai suatu hasil dengan mudah dan efisien. Praktik ini timbul dari kesadaran kolektif dan semangat berpartisipasi dan bertanggung jawab atas hasil suatu pekerjaan, terutama yang dilakukan bersama-sama.

Konsep gotong royong antara lain adalah sebagai berikut:

1.     Kegiatan dinamis yang mencerminkan upaya bersama.

2.     Tindakan kolektif.

3.     Proyek bersama.

4.     Kerja sama yang didorong oleh semangat ketulusan, kesediaan, solidaritas, toleransi, dan saling percaya.

Nilai-nilai gotong royong antara lain adalah sebagai berikut:

1.     Kebersamaan.

2.     Persatuan.

3.     Rela berkorban.

4.     Tolong-menolong, dan

5.     Sosialisasi.

Jenis gotong royong antara lain adalah sebagai berikut:

1.     Gotong royong lingkungan seperti membersihkan sungai.

2.     Gotong royong sosial seperti mengunjungi teman yang sakit.

3.     Gotong royong ekonomi seperti bekerja sama dalam mengelola koperasi.

4.     Gotong royong agama seperti membersihkan tempat ibadah, dan

5.     Gotong royong pendidikan seperti membangun sekolah.

Secara garis besar, gotong royong memiliki tujuan memudahkan dan meringankan pekerjaan tertentu. Selain itu, gotong royong juga bertujuan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam memperkuat kebersamaan. Gotong royong dapat meringankan pekerjaan hingga lebih mudah untuk diselesaikan, menimbulkan rasa persatuan dan kesatuan, mengurangi pengeluaran, dan mempererat tali persaudaraan. Dapat dilihat bahwa praktik gotong royong memiliki banyak manfaat, mulai dari meningkatkan kebersamaan, hingga memelihara lingkungan. Semua hal tersebut membuktikan bahwa praktik gotong royong sangatlah penting untuk dipertahankan.

Pada era digital ini, kemajuan teknologi semakin cepat. Hampir semua aspek kehidupan mengandalkan teknologi dalam mencari informasi, menjalankan suatu kegiatan, dan memecahkan masalah. Selain memberikan dampak baik seperti mempermudah akses terhadap informasi, hiburan, pengetahuan, dan lain-lain, teknologi juga memiliki dampak negatif, seperti mengekspos anak yang masih berkembang dan penuh rasa ingin tahu dengan budaya barat yang memiliki individualisme yang tinggi. Hal-hal ini di kemudian hari akan membentuk kepribadian anak tersebut, sehingga dapat menggerus nilai-nilai budaya yang telah tertanam di masyarakat Indonesia sejak dulu. Di antaranya termasuk budaya gotong royong.

Tantangan gotong royong di era digital antara lain adalah sebagai berikut:

1.     Individualisme seperti terlalu fokus pada media sosial sehingga kurang bersosialisasi dengan tetangga.

2.     Kurangnya interaksi langsung seperti masyarakat yang lebih memilih berkomunikasi secara online daripada bertemu langsung.

3.     Hoaks dan misinformasi seperti beredarnya berita bohong mengenai suatu kegiatan gotong royong sehingga warga tidak ikut bertasipasi.

4.     Kesenjangan digital seperti warga yang tidak memiliki smartphone tidak mengetahui informasi gotong royong yang dibagikan via media sosial.

5.     Pergesaran nilai seperti warga yang lebih memilih menghabiskan waktu dan uang untuk kepentingan pribadi daripada membantu orang lain.

Meskipun memiliki banyak tantangan, gotong royong di era digital juga memiliki peluang seperti:

1.     Kolaborasi dan keterlibatan masyarakat, di mana gotong royong dapat digunakan untuk mengembangkan UMKM seperti yang dapat kita lihat pada aplikasi Tokopedia dan Bukalapak.

2.     Akses informasi dan pendidikan, di mana dengan adanya internet, informasi dapat diakses dengan cepat dan mudah dari mana saja dan kapan saja.

Di dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada mahasiswa berusia 17-25 tahun, kami mendapatkan fakta bahwa dalam enam bulan terakhir, mayoritas responden mengaku bahwa mereka jarang berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong di lingkungan sekitar mereka. Namun, mereka juga mengaku bahwa dalam enam bulan terakhir, mereka pernah dan lebih sering berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong secara online, mulai dari mengerjakan tugas kelompok bersama, merencanakan pesta ulang tahun seorang teman bersama, hingga mengumpulkan dana demi memberi pertolongan kepada korban bencana alam.

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa gotong royong merupakan budaya yang sangat penting dan sudah melekat pada masyarakat Indonesia sejak lama. Sayangnya, dengan berkembang pesatnya teknologi, nilai budaya tersebut terancam tergusur sepenuhnya dari masyarakat sebab era digital yang membawa sikap individualisme tinggi ke generasi baru masyarakat Indonesia. Hal ini dapat terjadi sebab kurangnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan teknologi sebaik mungkin. Seiring berjalannya waktu, jika kita dapat saling mengingatkan betapa pentingnya nilai budaya gotong royong dan betapa teknologi dapat membantu memerdekakan nilai tersebut lebih jauh, maka era digital justru dapat dan akan sangat membantu dalam mempertahankan dan mengembangkan praktik gotong royong.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Pengaruh Budaya Asing terhadap Masyarakat

redaksi

Penerapan E-Parking di Medan: Mempermudah atau Mempersulit?

redaksi

Menarik! Berikut Program di IPWL Mari Indonesia Bersinar

redaksi