Oleh: Nur Padilah Ramadani
Suara USU, Medan. “In this economy” secara harfiah berarti “dalam kondisi ekonomi saat ini”. Namun, dalam percakapan sehari-hari dan budaya populer, ungkapan ini kerap digunakan sebagai keluhan atau sindiran terhadap biaya hidup yang semakin terasa mahal. Bagi mahasiswa yang harus mengatur uang saku secara mandiri, ungkapan tersebut bukan sekadar tren, melainkan realitas ketika kebutuhan terus berjalan, sementara kemampuan finansial memiliki batas.
Kondisi ekonomi memang perlu diperhatikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan (year-on-year), dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,97. Angka ini meningkat dibandingkan inflasi tahunan Juli 2026 yang berada di level 2,88 persen. Perubahan harga tersebut memang tidak berarti seluruh kebutuhan mahasiswa naik dengan persentase yang sama, tetapi menunjukkan bahwa harga barang dan jasa terus mengalami perubahan.
Karena itu, literasi finansial menjadi kemampuan penting yang perlu dimiliki setiap mahasiswa. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan OJK, LPS, dan BPS menunjukkan indeks literasi keuangan nasional sebesar 69,57 persen. Namun, kelompok pelajar/mahasiswa tercatat memiliki indeks literasi keuangan sebesar 62,72 persen, lebih rendah dibandingkan angka nasional. Data tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan belum otomatis membuat seseorang mampu mengelola keuangannya dengan baik.
Tantangan mahasiswa bukan hanya berasal dari perubahan harga. Perkuliahan yang semakin terdigitalisasi juga membuat sejumlah pengeluaran menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari, seperti paket data, hingga aplikasi pendukung kegiatan akademik. Di sisi lain, media sosial dapat menciptakan tekanan untuk mengikuti tren konsumsi. Keinginan membeli produk perawatan diri terbaru, nongkrong di kafe, atau mengikuti berbagai aktivitas bersama teman tidak selalu salah. Masalah muncul ketika gaya hidup tersebut tidak disesuaikan dengan kemampuan finansial. Di sinilah lifestyle creep dan Fear of Missing Out (FOMO) dapat membuat seseorang sulit membedakan kebutuhan dengan keinginan.
Kesadaran terhadap realitas “in this economy” seharusnya tidak berhenti sebagai keluhan. Justru, ungkapan tersebut dapat menjadi semacam rem bagi perilaku konsumtif. Sebelum mengeluarkan uang, mahasiswa perlu mempertimbangkan kembali apakah pengeluaran tersebut merupakan kebutuhan atau hanya keinginan sesaat. Misalnya, daripada menghabiskan Rp40.000 untuk kopi setiap kali istirahat, uang tersebut dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan akademik, mengikuti kegiatan yang meningkatkan keterampilan, atau ditabung. Bukan berarti mahasiswa harus menghilangkan seluruh hiburan, melainkan belajar menentukan batas yang sesuai dengan kondisi keuangan.
Mengelola keuangan juga membutuhkan kesadaran terhadap pola pemasukan dan pengeluaran. Riwayat transaksi pada mobile banking atau dompet digital dapat dimanfaatkan untuk melihat kebiasaan penggunaan uang. Dari sana, mahasiswa dapat menentukan prioritas antara kebutuhan pokok, kewajiban pembayaran, kebutuhan kuliah, dan pengeluaran lainnya. Dengan memiliki skala prioritas, mahasiswa dapat lebih bijak menentukan apakah suatu pengeluaran memang diperlukan atau masih dapat ditunda. Self-reward dan pengeluaran untuk hiburan tetap dapat dilakukan, tetapi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing.
Kesadaran finansial juga perlu dibangun dari pengeluaran kecil yang sering dianggap sepele. Pengeluaran yang dilakukan berulang kali dapat menjadi beban ketika diakumulasikan dalam satu bulan. Karena itu, mahasiswa perlu melihat kebiasaan konsumsi secara keseluruhan, bukan hanya mempertimbangkan besar-kecilnya satu transaksi. Penghematan dapat dilakukan tanpa mengorbankan kebutuhan utama, salah satunya dengan memanfaatkan fasilitas kampus seperti Wi-Fi dan kantin selama sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Fenomena “in this economy” bukan sekadar keluhan, melainkan pengingat bagi mahasiswa untuk lebih bijak dan cerdas dalam mengelola keuangan. Di tengah perubahan harga dan tuntutan gaya hidup, literasi finansial membantu mahasiswa menentukan prioritas, mengendalikan pengeluaran, serta membuat keputusan berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar gengsi. Menjadi mahasiswa yang melek finansial bukan berarti harus hidup tanpa kesenangan, tetapi mampu memastikan bahwa setiap pengeluaran memiliki alasan dan tidak mengorbankan kebutuhan yang lebih penting.
Redaktur: Debora Gracia Nauli
Leave a comment