Home Sosok Jejak Kasih Paus Fransiskus, Pemimpin yang Merangkul Dunia
Sosok

Jejak Kasih Paus Fransiskus, Pemimpin yang Merangkul Dunia

Share
Ilustrator: Emmi Simatupang

Oleh: Nikolas Supriyanto

Suara USU, Medan. Pada Senin (21/04), dunia menerima kabar duka dari Vatikan. Pemimpin tertinggi umat Katolik dunia, Paus Fransiskus meninggal dunia pada pukul 07.35 pagi waktu di Vatikan. Kabar ini diumumkan secara resmi oleh Kardinal Camerlengo, Kevin Farrel. Berita duka ini sontak mengejutkan. Mengingat baru sehari sebelumnya, Paus Fransiskus memberikan Berkat Urbi et Orbi dan meninggalkan pesan untuk perdamaian khususnya di Gaza dan daerah konflik lainnya setelah misa Paskah Pagi, Minggu (20/04). Seperti yang diketahui, Paus Fransiskus sudah berjuang melawan penyakit yang diderita sejak Februari 2025.

Paus Fransiskus atau yang memiliki nama asli Jorge Mario Bergoglio merupakan pemimpin tertinggi takhta suci Vatikan sejak Tahun 2013. Di bawah kepemimpinannya, ia membawa banyak perubahan progresif Gereja Katolik. Ia menjadi teladan tertinggi umat Katolik dan menunjukkan bagaimana seorang pemimpin tetap dapat tampil dalam kesederhanaan dan kelembutan ditengah-tengah pemimpin yang kerap tampil dengan kekayaan dan glamor mewah. Paus Fransiskus tidak sekedar pemimpin spiritual Katolik, ia juga dikenal sebagai pembela kemanusiaan dan kaum terpinggirkan. Karena kedekatannya itu, ia begitu dihormati dan dikenang tidak hanya oleh umat Katolik.

Paus Fransiskus lahir di Buenos Aires pada tanggal 17 September 1936. Ayahnya, Mario seorang imigran dari Italia yang pindah ke Argentina dan bekerja sebagai seorang akuntan perkeretaapian. Menurut sumber dari detik.com, Ibunya Regina Sivori merupakan ibu dari 5 bersaudara dan mendedikasikan penuh dirinya untuk merawat dan membimbing anak-anaknya.

Paus Fransiskus tidak berasal dari keluarga yang kaya raya, ia bahkan sempat berganti-ganti profesi setelah lulus sebagai teknisi kimia. Profesinya ini yang kemudian mengajarkan Jorge Mario Bergoglio dekat dengan kaum miskin papah dan terpinggirkan. Kemudian pada Tahun 1958, Paus Fransiskus masuk Novisiat Serikat Jesus, suatu ordo Imam Katolik yang terkenal karena karya pelayanan Gereja berabad-abad.

Pada Tahun 1963, Jose Mario Bergoglio menyelesaikan studi humaniora di Chile dan kembali ke Argentina untuk menerima gelar lulusan filsafat di Tahun 1964. Setelah itu Jose Mario Bergoglio mendedikasikan diri sebagai seorang imam setelah ditahbiskan pada Tahun 1969. Ia menjalani kehidupannya sebagai seorang imam Katolik Jesuit dengan sepenuh hati dan banyak berkarya sebagai seorang pengajar. Keteguhan iman, ketekunan dan kedisiplinannya mendorong beliau menjadi sosok yang cepat dikenal oleh pemimpin Gereja. Beliau juga merupakan sosok yang cerdas dan terus berkarya di lingkungan universitas bahkan mendapat beasiswa untuk menyelesaikan doktoralnya di Jerman.

Setelah bertahun-tahun berkarya dan kehidupannya sebagai imam dipandang baik dan layak, Jorge Mario Bergoglio terpilih sebagai Kardinal Argentina di Tahun 2001 oleh Paus Yohanes Paulus II. Sebagai seorang kardinal di Buenos Aires, ibukota Argentina, Paus Fransiskus sudah dikenal publik sebagai sosok yang dekat dengan kemanusiaan dan sering membela mereka yang dipinggirkan. Jorge Mario Bergoglio bahkan pernah secara terbuka memberikan pujian, doa, dan dukungan bagi ibu-ibu Plaza de Mayo yang dikenal sebagai sosok pejuang HAM di Argentina dalam menuntut penyelesaian kasus HAM di Argentina. Hal ini menunjukkan bagaimana sejak awal sebelum menjadi seorang Paus, beliau sudah mendedikasikan diri untuk mendukung orang-orang kecil yang memerlukan uluran tangan.

Dibawah kepemimpinan Paus Fransiskus, Gereja Katolik yang terkenal ketat dan konservatif mengubah total dan mengajak setiap umat untuk kembali merenungi perannya di tengah-tengah dunia. Paus Fransiskus memberikan teladan dengan cara mendekati secara langsung mereka yang dipinggirkan dan kerap didiskriminasi. Paus Fransiskus menjadi pemimpin yang sering menyoroti berbagai konflik dan menekankan pentingnya perdamaian untuk menghargai kemanusiaan dan melepaskan segala kepentingan.

Paus Fransiskus menjadi sosok pemimpin yang dirindukan banyak orang. Bukan seorang pemimpin yang hidup dengan keangkuhan dan haus pujian, Paus Fransiskus berjalan dalam ketenangan dan kesenyapan untuk mengajarkan bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap. Ia dengan teguh menolak untuk menghakimi orang-orang yang dianggap kotor oleh publik dan berusaha untuk merangkul mereka semua. Ia juga membuktikan bahwa kesederhanaannya juga tidak menghilangkan kewibawaannya sebagai seorang pemimpin umat Katolik, pemimpin Vatikan, dan tokoh dunia yang berpengaruh. Kita juga masih mengingat momen ikonik saat Paus Fransiskus berdoa sendirian dalam keheningan dikala dunia dilanda wabah pandemi Covid-19.

Tidak hanya dalam kemanusiaan, Paus Fransiskus juga sangat peduli dengan masalah-masalah lingkungan dan mengeluarkan ensiklik (surat Paus), Laudato Si`. Dalam ensiklik ini, Paus Fransiskus mengajak setiap insan manusia, tidak hanya umat Katolik untuk lebih menghargai alam dan merawatnya. Tidak hanya merusak demi kepentingan ekonomi dan mengeksploitasinya. Beliau juga mengingatkan tanggung jawab manusia sebagai penjaga alam dan lebih peka terhadap perubahan iklim.

Kepergian Paus Fransiskus di usia senjanya tetap memberikan pesan kepada kita untuk senantiasa rendah hati dan mengedepankan rasa kemanusiaan. Ia tidak ingin meninggalkan dunia dalam kemewahan dan meminta prosesi pemakaman Paus yang rumit disederhanakan dan ia ingin makamnya dibuat sederhana tanpa ornament mewah. Paus Fransiskus sudah banyak mengajarkan teladan yang baik. Kiranya dunia mampu meneladani apa yang sudah ditinggalkan oleh Paus Fransiskus sebagai jejak kasihnya di dunia.

Redaktur: Katrin Alina 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.