Home Film Jumbo, Animasi Lokal Rasa Internasional
Film

Jumbo, Animasi Lokal Rasa Internasional

Share
Sumber: Poster film Jumbo

Oleh: Debora Gracia Nauli Siregar

Suara USU, Medan. Ada yang spesial dari film Indonesia di lebaran 2025 ini. Sebuah animasi berjudul Jumbo, yang hadir dengan keunikannya yang langsung menyentuh hati penonton. Bukan hanya memikat lewat visual dan musik, tapi film animasi karya anak bangsa ini juga menyuguhkan kedalaman emosi dan pesan yang relevan untuk semua usia. Dalam kurun waktu seminggu, film ini sudah ditonton lebih dari satu juta orang. Disutradarai oleh Ryan Adriandhy, dan diproduksi oleh Visinema Studios, Jumbo berhasil membuat pencapaian luar biasa bagi animasi buatan lokal. Film ini akan tayang di 17 negara, dan merupakan hasil kolaboratif selama lima tahun, yang dimulai dari masa pandemi, dengan melibatkan 420 kreator asli orang Indonesia.

Cerita bermula dari Don, seorang anak yang sangat mencintai buku dongeng peninggalan orang tuanya. Suatu hari, buku dongeng itu dicuri oleh Atta, teman sekolahnya yang merasa iri dengannya. Namun justru, kejadian tersebut membawa Don ke dalam petualangan yang seru yang melibatkan sahabat-sahabatnya, yaitu Nurman dan Mae, serta Meri—seorang anak dari dunia lain yang sedang mencari orangtuanya. Di tengah dunia imajinatif, Don dan sahabat-sahabatnya belajar lebih banyak hal tentang dunia nyata, terutama tentang kehilangan, dan arti persahabatan.

Jumbo mendapatkan banyak ulasan positif dari berbagai media dan penonton. Ceritanya yang hangat telah berhasil mengaduk hati para penonton dengan tawa dan haru, visual yang memanjakan mata, dan alur cerita yang menyentuh membuat film ini cocok ditonton oleh semua kalangan, baik dari kalangan anak-anak hingga dewasa.

Hal yang membuat Jumbo begitu spesial bukan hanya dari segi cerita, tetapi juga proses pembuatannya. Proses penulisan skrip, storyboard, dan voice cast ternyata telah dimulai dari masa pandemi. Proyek ini melibatkan 420 kreator asli Indonesia, dan juga lebih dari 20 studio kreatif dan kreator dari berbagai daerah di Indonesia. Kolaborasi besar ini memperlihatkan potensi nyata industri animasi tanah air.

Untuk menciptakan pengalaman visual yang emosional dan terasa “hidup”, digunakan teknologi real-time virtual camera yang terhubung langsung dengan software animasi. Sesuatu yang menarik serta menggemaskan hadir di bagian kredit penutup. Kredit penutup biasannya menampilkan nama pemeran, sutradara film, dan kru lain yang terlibat dalam film tersebut. Dalam kredit penutup film Jumbo ini, memiliki keunikan. Pada kredit penutup, terdapat foto-foto masa kecil mereka yang terlibat dalam pembuatan film ini. OST dalam film Jumbo ini pun tak kalah keren, dan berhasil menyentuh hati penonton.

Fakta unik lain dari film ini, salah satunya lewat karakter 3 ekor kambing yang ternyata suaranya diisi oleh aktor ternama yaitu Ganindra Bimo, Chicco Jerikho, dan juga sutradara sekaligus produser film yaitu Angga Dwimas Sasongko. Sementara itu, pengisi suara lainnya seperti Prince Poetiray (Don), Muhammad Adhiyat (Atta), Quinn Salman (Meri), dan lainnya, berhasil membawa emosi tiap karakter dengan natural sehingga penonton pun dapat merasakan apa yang dirasakan oleh si karakter.

Jumbo bukan sekadar film animasi petualangan. Ia mengajarkan cara kita menghadapi kehilangan dan menggunakan imajinasi bukan sekadar untuk melarikan diri, tapi sebagai kekuatan untuk bertahan. Film ini mengingatkan bahwa duka tak selalu harus dibalas dengan air mata, tetapi juga bisa menjadi keberanian untuk tetap melangkah maju.

Lewat kisahnya, kita juga diingatkan mimpi-mimpi lama kita. Bagaimana seiring bertambahnya usia, kita mulai menyortir mana mimpi yang masih bisa dikejar dan mana yang harus direlakan. Film ini juga menanamkan nilai-nilai tentang arti keluarga, pentingnya mendengarkan sebelum ingin didengar, menjaga janji sebagai bentuk tanggung jawab, serta menyadari bahwa dalam hidup, peran kita akan selalu berubah. Contohnya, di setiap kesedihan, ada yang bersedih, dan ada yang menjadi penghibur. Di tengah kerisauan, ada yang menjadi pendengar, dan ada yang menjadi pembicara. Yang terpenting adalah menjalani setiap peran itu dengan kesadaran dan rasa tanggung jawab.

Dari teknis hingga naratif, film ini menunjukkan kualitas yang layak diapresiasi tingkat global. Oleh karena itu, inilah saatnya kita membuka ruang lebih besar bagi cerita-cerita yang tumbuh dari tanah kita sendiri. Jadi, tunggu apalagi? Ayuk tonton Jumbo di bioskop terdekatmu!

Redaktur: Zahra Salsabilla

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.