SUARA USU
Uncategorized

Lemahnya Tingkat Kesopanan Generasi Z Berdasarkan Nilai Pancasila

Sumber foto: tirto.id

Penulis: Kelompok 4 Pendidikan Pancasila kelas 40

Suara USU, Medan. Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang terdiri dari lima nilai, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Nilai-nilai Pancasila menjadi pondasi ideal dalam membentuk kepribadian dan kesopanan.

Dahulu Indonesia terkenal dengan nilai kesopanan masyarakatnya hingga ke mancanegara. Namun saat ini, dalam kalangan generasi Z, terlihat adanya kelemahan dalam penerapan nilai-nilai Pancasila. Salah satu aspek yang terlihat lemah adalah tingkat kesopanan. Generasi Z terbiasa dengan kehidupan yang serba cepat dan teknologi yang begitu mendominasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berdampak pada hilangnya rasa hormat dan kesopanan dalam berinteraksi dengan orang lain.

Pada saat ini, banyak dari anak muda zaman sekarang atau generasi Z yang kurang mempertimbangkan etika dan sikap sopan saat berinteraksi dengan orang tua, guru dosen, teman sejawat, atau orang lain di sekitarnya. Mereka cenderung menggunakan bahasa yang kurang sopan dan mengabaikan norma kesopanan yang seharusnya dijunjung tinggi di lingkungan akademik. Tidak sedikit juga generasi Z yang terkesan tidak peduli dengan pendapat dan perasaan orang lain.

Sumber foto: pinterest.com

Penyebab lemahnya tingkat kesopanan pada generasi Z dalam nilai Pancasila dapat disebabkan oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah minimnya pengajaran dan pemahaman terkait nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum pendidikan. Kurangnya pemahaman ini membuat generasi Z tidak menyadari pentingnya kesopanan dan menganggapnya sebagai bagian yang diabaikan dalam kehidupan. Berikut beberapa penyebab pudarnya nilai kesopanan pada generasi Z diantaranya:

  1. Faktor Keluarga

Salah satu hal yang terlihat adalah mulai terbiasanya anggota keluarga yang usianya lebih muda memanggil anggota keluarga yang lebih tua hanya dengan sebutan nama saja, tidak diawali dengan panggilan tertentu seperti kakak, abang, mas, bapak, ibu dan lain sebagainya.

  1. Faktor Teman atau Pergaulan

Faktor ini juga dapat mempengaruhi terhadap nilai kesopanan. Ketika berkumpul dengan teman-teman tak jarang akan keluar kata-kata kasar dari teman-teman kita, dan itu yang akan melekat pada diri kita. Mungkin kata-kata yang dilontarkan tersebut maknanya sebagai lelucon atau bercanda dengan teman.

  1. Faktor Media Massa

Faktor ini juga dapat memudarnya nilai kesopanan pada diri generasi Z. saat ini banyak sekali tayangan sinetron yang kurang mendidik, mulai dari adegan berkelahi, balap-balapan, pacaran, cara berpakaian, dan juga cara bicara masing-masing tokoh.

Selain itu, kecanggihan teknologi juga turut berkontribusi dalam menurunkan tingkat kesopanan generasi Z. Penggunaan media sosial, misalnya, telah membentuk pola komunikasi yang cenderung lebih kasar dan kurang sopan. Budaya serba cepat dalam media sosial mengajarkan generasi Z untuk merespon dengan cepat tanpa memikirkan efek dari kata-kata yang mereka ucapkan.

Sumber foto: simpkb.id

Lemahnya tingkat kesopanan pada generasi Z dalam nilai Pancasila perlu menjadi perhatian serius, karena hal ini dapat berdampak negatif pada perkembangan sosial dan moral mereka. Generasi Z sebagai calon pemimpin masa depan perlu memperkuat nilai-nilai Pancasila, termasuk kesopanan, agar dapat berperan aktif dalam membangun bangsa yang beradab.

 

Sumber foto: kompasiana.com

Untuk meningkatkan tingkat kesopanan pada generasi Z dalam nilai Pancasila, langkah-langkah berikut dapat diambil:

  1. Orangtua Memberi Contoh Melalui Etikanya yang Baik

Anak belajar tentang sikap sopan santun kali pertama adalah dengan melihat secara langsung orang terdekat di lingkungannya. Dalam hal ini persentase terbesar adalah orangtua. Seorang anak menjadikan orangtua sebagai teladannya.

Menjelaskan secara lisan bisa saja, namun itu akan menjadi masalah jika antara lisan dan perilaku tidak sama. Anak cenderung lebih menyukai perilaku untuk ditiru daripada diingatkan secara lisan. maka, bersikaplah sopan santun untuk menumbuhkan sikap sopan santun anak.

  1. Mengajarkan Etika Dari Hal-hal Kecil Di Rumah

Memperkenalkan anak sejak dini untuk bersikap sopan santun melalui hal-hal kecil yang dapat dilakukan dengan mudah. Contoh hal-hal kecil tersebut adalah bersalaman dengan orang tua sebelum sekolah, mengetuk pintu dan mengucap salam sebelum masuk rumah.

Bisa juga dilatih dengan berpamitan sebelum pergi bermain, makan dan minum dengan duduk tenang, mengucapkan terima kasih, dan lain-lain. Sangat dasar dan sederhana bukan? Tanpa mengulanginya, anak akan terbiasa dengan sikap tersebut sampai dewasa dimanapun ia berada.

  1. Memberi Apresiasi Ketika Anak Melakukan Hal Baik

Seorang anak sangat suka sekali diapresiasi. Baik dalam bentuk pujian maupun hadiah. Ketika seorang mendapat apresiasi atas kebaikannya, ia akan mengulanginya terus. Memang awalnya anak akan berbuat baik dengan maksud mendapat apresiasi, namun hal ini tidak buruk untuk melatih kebiasaannya bersikap baik. Orang tua bisa memberi contoh terlebih dahulu untuk bersikap sopan santun. Lantas ketika anak berhasil melakukannya, berilah apresiasi. Mudah bukan?

  1. Mengoreksi dan Mengingatkan Anak Ketika Berbuat Salah

Seorang anak tidak bisa dibiarkan ketika melakukan hal yang tidak sopan. Dalam kasus ini kita ambil contoh ketika ada perkumpulan keluarga yang ada sangat banyak orang sedang duduk, seorang anak melangkah melewati orang-orang tanpa permisi untuk mengambil makanan yang jauh dari jangkauannya. Apa yang harus dilakukan?

Menegur anak dan memberitahu bahwa perbuatannya tidak sopan saat anak tiba di dekat orang tua dengan suara perlahan adalah hal yang efektif daripada dengan suara keras yang semua orang akan mendengar. Jika mengingatkan anak dengan keras di depan banyak orang, anak akan merasa malu dan bisa saja ia kehilangan kepercayaan dirinya. Berbeda jika anak melakukan kesalahan di depan orangtuanya sendiri tanpa ada orang lain, bisa diingatkan saat itu juga.

  1. Memberitahu Manfaat Sopan Santun Kepada Anak

Penulis Emha Ainun Najib pernah bilang saat maiyah berlangsung bahwa jangan menyuruh orang untuk berbuat baik, dengan jeda sangat lama beliau melanjutkan, namun beritahu manfaat berbuat baik. Memang memberitahu manfaat berbuat baik, salah satunya sopan santun, akan menumbuhkan kesenangan tersendiri untuk bebuat baik. Sehingga anak tidak terus bertanya mengapa ia harus bersikap sopan santun kepada orang selain dirinya.

  1. Bermain Seni Peran dengan Tema Sopan Santun

Selain teori dan sikap yang dicontohkan secara langsung oleh orangtua terhadap anak, orangtua bisa mengajak anak bermain seni peran dengan tema sopan santun. Anak akan lebih mengingat pesan yang bisa diambil dari bermain seni peran tersebut. Hasilnya, anak akan melakukan sesuai pesan yang ia ambil.

  1. Mengadakan pelatihan dan pembinaan

Hal ini terkait etika dan kesopanan di perguruan tinggi. Unsur-unsur penting Pancasila dapat diajarkan untuk membentuk kepribadian yang santun dan menghargai orang lain.

  1. Pengajaran nilai-nilai Pancasila secara intensif dalam kurikulum pendidikan

Mahasiswa perlu diberikan pemahaman mendalam tentang signifikansi dan urgensi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

  1. Membangun lingkungan sekolah ataupun kampus yang mendukung budaya kesopanan

Perguruan tinggi dapat membentuk komunitas yang mendorong norma-norma sopan santun dalam setiap interaksi sosial.

  1. Mengajak generasi Z untuk aktif terlibat dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan

Melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial akan membantu mahasiswa membangun empati dan kepedulian terhadap sesama.

Dengan demikian, jika generasi Z dapat lebih memperhatikan dan memperkuat nilai-nilai kesopanan dalam nilai Pancasila, maka mereka akan menjadi generasi yang menghormati perbedaan, berempati, dan mampu membangun persatuan serta menjunjung tinggi keadilan sosial.

Artikel ini adalah publikasi mata kuliah Pendidikan Pancasila dengan Dosen Pengampu: Onan Marakali Siregar S.Sos., M.Si.

Redaktur: Anna Fauziah Pane


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Digitalisasi Perpustakaan dalam Membangun Koneksi dengan Generasi Milenial

redaksi

Peran Pekerja Sosial Dinas Sosial Kota Medan dalam Penanganan Kasus ‘Lahirnya’ Pengemis Akibat Konflik Keluarga

redaksi

Pengaruh Budaya Asing terhadap Masyarakat

redaksi