SUARA USU
Buku

Mempertanyakan Arti Menjadi Manusia dalam Buku Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu

Sumber foto: @mizanpublishing di Instagram

Oleh: Zahra Salsabilla

Suara USU, Medan. Bagaimana perasaanmu jika harus membunuh gajah kesayanganmu? Bagaimana jika pelaku kekerasan seksual tak diadili hanya karena ia pemimpin sekte akhir zaman yang memiliki kesaktian? Apa rasanya jika kau terus mencintai orang yang sudi menjualmu, tega melukaimu, dan merampas hasil karyamu dalam lingkaran takdir yang tidak berkesudahan? Apa jawabanmu ketika ditanya apa artinya kita menjadi manusia?

Jika dosa-dosa manusia dirangkai dan dikisahkan dalam bahasa serta peristilahan yang indah maka Sasti Gotama berhasil menyajikan kisah-kisah tersebut. Sosoknya yang merupakan seorang dokter sekaligus penulis berbakat telah menunjukkan bahwa sebenarnya bakat serta profesi memang bisa berbeda arah.

Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu, merupakan buku kumpulan cerpen terpilih karya Sasti Gotama yang telah dipublikasi di berbagai media, seperti Jawa Pos, Kompas, Media Indonesia, dan lain-lain. Beberapa cerpen yang ada juga merupakan naskah yang memenangkan beberapa perlombaan.

Buku yang berisi 20 cerpen ini memiliki gaya penceritaannya yang bervariatif di setiap ceritanya, seolah-olah ditulis oleh banyak pengarang. Selain gaya bercerita, sudut pandang yang diambil oleh Sasti Gotama juga menarik. Seperti pada salah satu ceritanya, yaitu Saksi Glori, Sasti Gotama memberikan sebuah sudut pandang dari organ-organ manusia untuk menjelaskan nasib dari si tokoh utama.

Di kumpulan cerpen ini, akan ditemukan kisa-kisah lirih yang mengiris terkait feminisme, kesehatan mental, feodalisme, ekologi, fanatisme, bahkan hantu-hantu. Sasti Gotama sendiri merupakan salah satu penulis yang dapat menyajikan kisahnya dalam sebuah alegori yang menjurus pada satu makna. Seperti pada cerita Sima, ia memadukan sejarah kolonial Belanda dengan mitos lokal yang secara bersamaan membentuk sebuah alegori keterkungkungan kaum perempuan.

Selain hal-hal di atas, Sasti Gotama juga menyelipkan beberapa bahasa daerah pada setiap ceritanya. Bahasa daerah itu disesuaikan dengan latar cerita, seperti pada cerita Sesudu Senyum-Senyum. Tidak hanya itu, dari cerita tersebut dapat dikatakan bahwa Sasti Gotama piawai dalam menggunakan teknik penulisan cerita. Tokoh Saya dalam cerita tersebut, tidak secara gamblang mengatakan bahwa ia mencintai sosok adik temannya, tetapi lewat kata ‘senyum,’ itu cukup menjelaskan segalanya.

Buku ini sangat cocok dibaca ketika pikiran kalian sedang tenang. Karena cerita-cerita dalam buku ini memiliki gaya bahasa yang akan sulit dimengerti apabila hanya dibaca satu kali. Cerita dalam buku ini perlu dibaca berulang kali dengan cermat serta membutuhkan penghayatan ekstra untuk memahami maknanya. Itu pulalah daya tarik dari buku ini.

Jika diistilahkan, buku ini seperti kue lapis yang memiliki banyak lapisan. Pada saat kalian membaca untuk pertama kali, maka lapisan pertama telah selesai kalian makan. Maksudnya, ketika kalian membaca untuk pertama kali, kalian hanya akan mendapatkan makna sekilas dari cerita tersebut. Namun, jika kalian terus menerus membacanya, maka lapisan lain akan terus terlihat dan makna lain dari cerita yang disajikan dapat dipahami.

Buku ini sangat direkomendasikan terlebih lagi bagi kalian yang merupakan pencinta sastra. Buku ini juga dapat menjadi landasan kalian untuk memperkaya kosa kata. Disarankan juga untuk senantiasa menyiapkan KBBI ketika membaca cerita dalam buku ini. Tidak hanya itu, buku ini juga bisa menjadi contoh penerapan teknik penulisan cerita yang baik sehingga bagi orang-orang yang tertarik pada dunia kepenulisan cerita dapat mempelajarinya.

Redaktur: Yuni Hikmah


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

I See You Like A Flower: Ketika Tumbuhan dan Musim disulap Menjadi Puisi

redaksi

Potret Penjajahan di Jawa dalam Novel Fiksi Sejarah “Tanah Bangsawan”

redaksi

Menikmati Keresahan dan Keindahan Sederhana dalam “Hap! Puisi Milik Semua” 

redaksi