Home Sosok Mengenal Kiras Bangun, Garamata yang Terlupakan
Sosok

Mengenal Kiras Bangun, Garamata yang Terlupakan

Share
Sumber: Wikipedia

Oleh: Ines Eliyana Br Ginting

Suara USU, Medan. Di tengah ramainya nama-nama besar dalam buku sejarah nasional, yaitu Soekarno, Hatta, Diponegoro, dan Cut Nyak Dhien, ada satu nama yang nyaris tidak terdengar bahkan di tanah kelahirannya sendiri. Ia adalah Kiras Bangun, sosok tangguh dari dataran tinggi Karo, Sumatera Utara, yang pernah mengguncang kekuasaan kolonial Belanda dengan semangat juang dan tekad membara. Ia diberi gelar Garamata dalam bahasa Karo, yang berarti ‘mata merah’. Gelar ini diberikan bukan karena amarah semata, tetapi karena keberanian yang menyala-nyala. Namun, nama itu kini lebih akrab terdengar sebagai nama jalan kecil atau gapura di desa, bukan sebagai tokoh sejarah besar. Sosoknya nyaris hilang dalam narasi besar Indonesia merdeka, bukan karena ia tidak berkontribusi, tetapi karena nyaris tidak ada yang mau mencatatnya secara serius.

Lahir pada tahun 1852 di Desa Batukarang, Kecamatan Payung, Tanah Karo, Kiras Bangun bukan hanya seorang ketua adat, tetapi juga pemikir dan pejuang. Ia tidak menyandang gelar resmi, tidak berkuliah di Eropa, dan tidak pernah berpidato di depan gedung megah, tetapi semangatnya mengalir dari akar budaya, kepeduliannya terhadap rakyat, dan penolakannya terhadap kekuasaan asing yang merampas martabat bangsanya.

Keberaniannya mengangkat pendidikan sebagai senjata adalah hal yang paling unik dalam dirinya. Di masa ketika membaca dan menulis adalah kemewahan, ia justru mendorong anak-anaknya untuk belajar. Ia sendiri sering ke Binjai hanya untuk mempelajari bahasa Melayu agar bisa memahami dunia luar dan mengajarkan rakyatnya untuk tidak buta huruf. Empat belas anaknya disekolahkan, yang merupakan hal luar biasa di tengah keterbatasan fasilitas dan tekanan kolonial saat itu.

Masyarakat sangat menghormati Kiras Bangun karena ia sangat menjunjung harkat dan martabat manusia. Ia selalu membina persatuan dan kesatuan antarwarga berdasarkan adat Karo dalam ikatan Kalimbubu, Sembuyak, Senina dan Anak Beru. Kiras Bangun adalah sesepuh dan ketua Adat Karo Urung Lima Sehima dan Penghulu Lima Senina Batu Karang. Kiras Bangun selalu tampil sebagai juru damai bila terjadi perang antardesa.

Saat Belanda mulai memperluas kekuasaannya ke pedalaman Tanah Karo, ia menjadi salah satu tokoh paling keras dalam menolak kolonialisasi. Perjuangannya bukan hanya urusan fisik. Ia menyadari bahwa melawan Belanda tidak cukup dengan senjata bambu runcing atau tombak. Ia membangun jaringan antarmarga dan menyalakan kesadaran kolektif masyarakat adat agar tidak tunduk terhadap pemerintah kolonial. Melihat ancaman itu, pemerintah kolonial mulai memata-matai dan kemudian mengasingkan Kiras Bangun. Ia diasingkan selama empat tahun ke Riung, daerah perladangan sunyi di Desa Singamanik, jauh dari keramaian. Ketika dibebaskan dan diperbolehkan kembali ke kampung halamannya di tahun 1909, ia masih terus diawasi dengan ketat.

Namun, perjuangan Kiras Bangun tidak tercatat dengan rapi. Tidak banyak wartawan, penulis, atau sejarawan yang mengangkat kisahnya. Ia hidup di masa sunyi, di wilayah yang jauh dari sorotan pusat, dan tidak meninggalkan banyak dokumen. Akibatnya, ia tidak menjadi sorotan oleh arus sejarah besar. Akhirnya, pada tahun 2005, puluhan tahun setelah kemerdekaan, Kiras Bangun dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional, tetapi berapa banyak dari kita yang tahu siapa dia?

Di Tanah Karo sendiri, nama Kiras Bangun masih dijunjung. Namun, penghargaan simbolik saja tidak cukup, diperlukan narasi sejarah yang adil, yang memberi tempat pada semua pejuang, bukan hanya mereka yang terdokumentasikan dengan baik oleh negara atau pemerintah kolonial, tetapi juga mereka yang kisahnya tidak menjadi sorotan. Perlawanan Kiras Bangun adalah bukti bahwa nasionalisme Indonesia tidak hanya lahir di kota, tetapi juga di desa-desa, di pegunungan, di tempat-tempat yang mungkin sekarang hanya dianggap titik kecil di peta.

Kiras Bangun adalah simbol bagaimana daerah, budaya, dan semangat lokal menjadi pondasi dari Indonesia. Jika kita mengabaikan nama-nama seperti Garamata, kita sedang melupakan bagian dari tubuh kita sendiri dan seperti namanya, ia adalah mata merah yang tidak boleh dibiarkan padam dalam memori bangsa.

Redaktur: Nurur Rahmah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.