SUARA USU
Sosok

Mengenal Wiji Thukul, Penyair Pendobrak Kesewenang-wenangan Orde Baru

(Sumber: Tempo.co)

Reporter: Katrin Alina

Suara USU, Medan. Wiji Thukul salah satu pahlawan yang dikenal karena jasanya sebagai penggerak dalam menyuarakan aspirasi buruh. Wiji Thukul merupakan seorang aktivis juga penyair yang berjuang melalui karya-karya sastranya membangkitkan semangat massa. Pada masa Orde Baru ia terkenal atas puisi dan syairnya yang ditujukan untuk mengkritik kondisi sosial dan politik, serta militerisme rezim Orde Baru.

Lahir di Kampung Sorogenen, Solo, Jawa Tengah pada tanggal 26 Agustus 1963. Wiji Thukul hidup di masyarakat yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai buruh dan tukang becak seperti keluarganya. Wiji Thukul merupakan anak sulung dari 3 bersaudara yang mulai aktif menulis puisi sejak Sekolah Dasar (SD) dan kemudian berteater sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setelah lulus SMP pada tahun 1979, ia melanjutkan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Jurusan Tari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia tapi tidak tamat. Ia berhenti sekolah untuk bekerja agar kedua adiknya bisa melanjutkan studi.

Mulai tahun 1982, Wiji Thukul mengumpulkan uang dengan menjual koran dan bekerja di perusahaan mebel antik sebagai tukang pelitur. Walaupun begitu, ia tetap setia pada dunia puisi dan teater. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen, esai, dan resensi puisi. Wiji Thukul juga aktif dalam demonstrasi dan mendirikan Sanggar Suka Banjir, tempat kreatifitas anak-anak yang juga menjadi sarana perlawanan terhadap ketidakadilan. Karyanya mencerminkan kritik terhadap masalah sosial, politik, dan militerisme pada masa itu.

Pada tanggal 27 Juli 1996, terjadi peristiwa kerusuhan dua puluh tujuh juli alias Kudatuli. Wiji Thukul bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD). PRD dituding sebagai dalang dibalik peristiwa tersebut oleh pemerintah. Para aktivis termasuk Wiji Thukul menjadi buruan dan harus bersembunyi. Wiji Thukul terpaksa meninggalkan istri dan kedua anaknya, setelah beberapa aparat mendatangi rumahnya. Ditengah pelarian untuk menghindari aparat, ia mencuri kesempatan untuk bertemu istrinya di pasar Klewer, Solo. Kesempatan itu digunakan Wiji Thukul untuk mengabarkan daerah yang dikunjunginya. Saat itu Wiji Thukul menggunakan beberapa nama samaran.

Puisi perjuangan Wiji Thukul berisi peristiwa, bukan lagi sebatas kata-kata. Mungkin itulah yang membuat sosoknya dianggap berbahaya bagi pemerintah Orde Baru. Komisi untuk Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS) mengumumkan nama Wiji Thukul sebagai salah satu dari 13 orang yang hilang menjelang orde baru pada tahun 2000. Setelah dinyatakan hilang, tidak ada yang tahu kabarnya dan di mana makamnya. Bahkan tak ada yang tau juga ia masih hidup atau tidak.

Wiji Thukul adalah penyair yang gigih, baik dalam memperjuangkan gagasannya begitu juga dalam memperjuangkan kebenaran. Ia membela rakyat dengan gigih yang berhadapan pada kesewenangan-wenangan dan kekuasaan semena-mena dengan menanggung risiko apa pun. Bagi Wiji Thukul, menjadi seorang penyair bukan hanya tentang menciptakan kata-kata indah, tapi menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan bersuara.

Menjadi mahasiswa berarti kita juga memiliki tanggung jawab untuk berperan aktif dan berjuang untuk kebenaran. Sebagai generasi muda yang cerdas dan berpendidikan, kita memiliki kekuatan untuk membuat perubahan positif di masyarakat. Kita dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang kita peroleh selama studi untuk mengatasi masalah sosial, politik, dan ekonomi yang ada di sekitar kita.

Dengan cerita Wiji Thukul, kita sebagai mahasiswa juga berarti memiliki kebebasan untuk berpikir secara kritis, menggali pengetahuan, dan mengembangkan potensi diri. Kita dapat mengambil peran sebagai agen perubahan dalam masyarakat dengan terus belajar dan berkontribusi dalam berbagai bidang, baik itu melalui kegiatan akademik maupun di luar kampus. Selain itu, penting bagi kita memiliki kreatifitas dalam menyampaikan pesan seperti yang dilakukan oleh Wiji Thukul dalam menyampaikan gagasannya, kita dapat melakukan aksi-aksi kreatif untuk menyuarakan kebenaran.

Redaktur: Fathan Mubina,


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Mengenang Haji Anif, Tokoh Masyarakat Sumut yang Berjiwa Sosial Tinggi

redaksi

Niesya Harahap, Perempuan Asal Sumatera Utara yang Tergabung di Kelompok World Music Suarasama

redaksi

Mengenal Pierre Tendean, Pahlawan Revolusi Berdarah Prancis

redaksi