SUARA USU
Uncategorized

Mengungkap Rahasia Sukses Pemulihan di Panti Rehabilitasi LRPPN Bhayangkara: Metode Terbaru dan Tantangan di Baliknya!

Oleh: . Farid Syahreza/Keysha Mumtazah Silalahi/Khairunnisya Rachman/Jessica Jasmin Muchtar/Fazia Zahra/Epri Rifdah Nabillah

Suara USU, Medan. Rehabilitasi adalah sebuah proses yang bertujuan untuk memulihkan atau mengembalikan sesuatu yang telah mengalami kerusakan, kecacatan, atau penyimpangan menuju kondisi yang lebih baik atau normal. Dalam konteks yang lebih luas, rehabilitasi tidak hanya terbatas pada individu, tetapi juga dapat merujuk kepada pemulihan lingkungan, masyarakat, atau bahkan sistem.

Para peneliti yang beranggotakan M. Farid Syahreza (220902010), Keysha Mumtazah Silalahi (220902022), Khairunnisya Rachman (220902030), Jessica Jasmin Muchtar (220902032), Fazia Zahra (220902034), Epri Rifdah Nabillah (220902074) melakukan kegiatan Observasi ke LRPPN Bhayangkara Indonesia berdasarkan tugas Project Based Learning mata kuliah Gangguan Penyalahgunaan Zat. Yang diampu oleh Fajar Utama Ritonga S.Sos.,M.Kesos.

Panti rehabilitasi adalah lembaga yang memberikan perlindungan, perawatan medis, dan psikologis bagi individu yang mengalami masalah kesehatan fisik, mental, atau sosial seperti kecanduan narkoba atau masalah kesehatan mental. Panti Rehabilitasi LRPPN Bhayangkara merupakan salah satu lembaga rehabilitasi yang bertujuan untuk membantu individu yang terjerat dalam masalah penyalahgunaan zat atau narkoba.

Dalam melaksanakan penelitian ini, metode penelitian yang akan digunakan adalah kombinasi antara wawancara dan studi literatur. Pertama-tama, peneliti akan melakukan wawancara dengan staf dan tenaga profesional di Panti Rehabilitasi LRPPN Bhayangkara untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang tahapan-tahapan penanganan klien di lembaga tersebut. Wawancara ini akan mencakup topik-topik seperti prosedur identifikasi klien, jenis intervensi yang diterapkan, serta strategi pemulihan dan reintegrasi yang digunakan. Selain itu, peneliti juga akan melakukan studi literatur untuk memperoleh informasi yang lebih luas dan mendalam tentang konsep dan praktik-praktik terkait penanganan klien di panti rehabilitasi. Studi literatur ini akan melibatkan penelusuran berbagai sumber seperti jurnal akademis, buku, laporan riset, dan panduan praktis yang relevan dengan topik penelitian. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang konteks teoretis dan praktis dari tahapan penanganan klien di panti rehabilitasi.

Konselor adalah seorang profesional di bidang kesehatan mental yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman untuk membantu individu mengatasi berbagai masalah emosional, psikologis, sosial, dan perilaku. Mereka membantu klien untuk mengidentifikasi dan mengatasi hambatan-hambatan yang menghalangi pencapaian tujuan mereka, serta mendukung mereka dalam mengembangkan keterampilan dan sumber daya yang diperlukan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Konselor adiksi adalah seorang profesional di bidang kesehatan mental yang secara khusus terlatih untuk bekerja dengan individu yang mengalami masalah penyalahgunaan zat atau ketergantungan. Mereka memiliki pengetahuan mendalam tentang dinamika kecanduan, efeknya terhadap individu dan lingkungan, serta berbagai strategi intervensi yang efektif dalam membantu pemulihan. Salah satu peran utama seorang konselor adiksi adalah melakukan evaluasi terhadap klien untuk memahami tingkat keparahan kecanduan, motivasi untuk berubah, serta faktor-faktor yang mempengaruhi masalah tersebut.

Pekerja Sosial (peksos) dan Konselor Adiksi memiliki perbedaan dalam fokus dan pendekatan mereka. Peksos bekerja dengan pendekatan yang lebih luas, menangani berbagai masalah sosial yang dihadapi individu dan komunitas, serta memberikan dukungan dan layanan sosial yang komprehensif. Sementara itu, Konselor Adiksi khusus menangani masalah kecanduan, memberikan terapi dan konseling yang fokus pada pemulihan dari ketergantungan zat. Dibandingkan dengan Tenaga Kerja Sosial lainnya, peksos lebih terlibat dalam intervensi sosial yang menyeluruh, sedangkan tenaga kerja sosial lainnya mungkin memiliki spesialisasi atau fokus yang berbeda, tergantung pada konteks dan kebutuhan layanan yang diberikan.

Tahapan assessment dalam penanganan klien di Panti Rehabilitasi LRPPN Bhayangkara menunjukkan bahwa proses penilaian awal yang komprehensif dan mendetail sangat krusial untuk mengidentifikasi kebutuhan serta masalah spesifik setiap klien, di mana assessment ini mencakup evaluasi terhadap kondisi fisik, mental, sosial, dan lingkungan klien, serta melibatkan berbagai metode seperti wawancara mendalam, observasi, dan penggunaan alat ukur psikologis yang terstandarisasi, dengan tujuan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai keadaan klien, sehingga dapat merancang intervensi yang tepat, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan individu, yang pada akhirnya mendukung proses pemulihan dan reintegrasi yang lebih terpadu dan berkelanjutan.

Tahapan penanganan kasus narkoba di Panti Rehabilitasi LRPPN Bhayangkara menunjukkan bahwa proses ini terdiri dari beberapa fase penting yang mencakup assessment awal, intervensi terapeutik, dan reintegrasi sosial, di mana setiap tahap dirancang untuk memberikan dukungan yang terstruktur dan berkelanjutan kepada klien. Assessment awal bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi fisik, psikologis, dan sosial klien melalui metode seperti wawancara, observasi, dan tes psikologis, yang kemudian diikuti oleh tahap intervensi terapeutik yang melibatkan terapi individu dan kelompok, konseling, serta program edukasi untuk mengubah perilaku dan pemikiran terkait penggunaan narkoba. Tahap akhir adalah reintegrasi sosial, yang menyediakan dukungan berkelanjutan agar klien dapat kembali ke masyarakat dengan keterampilan dan strategi yang memadai untuk menghindari kekambuhan dan membangun kehidupan yang produktif dan sehat.

Namun, tantangan yang dihadapi konselor dalam menangani kasus narkoba sangat kompleks dan beragam. Salah satu tantangan utama adalah menghadapi resistensi dan ketidakpatuhan klien terhadap program rehabilitasi, yang sering kali disebabkan oleh ketergantungan fisik dan psikologis yang kuat terhadap zat adiktif. Selain itu, konselor juga harus mampu menangani masalah kesehatan mental yang sering kali menyertai kecanduan narkoba, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Tantangan lainnya termasuk kurangnya dukungan sosial dari keluarga atau komunitas, stigma sosial terhadap pecandu narkoba, dan keterbatasan sumber daya yang tersedia di panti rehabilitasi, yang semuanya mempengaruhi efektivitas intervensi dan keberhasilan proses pemulihan klien.

Dalam mengatasi tantangan ini, penting bagi konselor dan staf rehabilitasi untuk menyediakan lingkungan yang aman dan mendukung, membangun kepercayaan dengan klien, dan memberikan dukungan yang berkelanjutan selama proses rehabilitasi. Selain itu, kerja sama dengan pihak eksternal, seperti pihak kepolisian atau lembaga bantuan keuangan, juga dapat membantu mengatasi hambatan yang lebih besar. Dengan pendekatan holistik dan berorientasi pada kebutuhan individu, diharapkan klien dapat mengatasi tantangan mereka dan mencapai pemulihan yang berkelanjutan serta menjalani kehidupan yang lebih sehat dan bermakna.

Artikel ini adalah publikasi tugas Praktek Kerja Lapangan dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Menganalisis Strategi dalam Bentuk Kelayakan Bisnis Suatu Produk

redaksi

Pengaruh Keluarga Dalam Pembentukan Karakter Kewarganegaraan Di Kalangan Remaja

redaksi

Pelatihan Ecoprint dalam Literasi dan Adaptasi Perubahan Iklim yang Ekslusif di Rumah Publik Terpadu YAFSI

redaksi