Reporter: Dinda Ayu, Grace Thania, Latifa Rahma, Muhassanah Nasution, Nenni Purnama
Suara USU, Medan. Medan Zoo, kebun binatang yang berlokasi di Kota Medan, kini dinilai mengalami penurunan daya tarik sebagai sarana rekreasi dan edukasi akibat berkurangnya koleksi satwa serta kurang optimalnya pengelolaan fasilitas, sebagaimana dirasakan oleh sejumlah pengunjung dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut tampak dari banyaknya kandang kosong, fasilitas yang tidak terawat, hingga fungsi edukatif yang tidak berjalan maksimal, sehingga Medan Zoo tak lagi menjadi pilihan utama wisata keluarga dan pelajar.
Sebagai salah satu ikon wisata kebun binatang di Sumatera Utara, Medan Zoo menyimpan banyak kenangan masa kecil bagi masyarakat. Pada masa kejayaannya, tempat ini kerap menjadi pilihan utama wisata keluarga, khususnya bagi anak-anak, baik pada hari libur maupun hari biasa. Bahkan, pada momen libur tertentu, jumlah pengunjung yang datang kerap membludak hingga memenuhi kawasan kebun binatang.
Sebagai kawasan wisata, Medan Zoo tidak hanya menawarkan koleksi satwa, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai wahana permainan dan fasilitas pendukung. Beberapa di antaranya ialah flying fox, area bermain anak, jembatan tali, high rope, serta sejumlah spot foto yang sempat menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian besar wahana dan spot foto tersebut kini dinilai kehilangan daya tarik akibat kondisi yang kurang terawat.
Di sejumlah titik kawasan Medan Zoo, berbagai fasilitas umum tampak tidak terkelola dengan baik. Pondok istirahat, meja dan kursi batu, ayunan, kamar mandi, hingga spot foto terlihat kusam dan rusak. Kondisi jalan di dalam kawasan wisata pun menimbulkan kekhawatiran karena licin akibat lumut, berlubang di beberapa bagian, serta dikelilingi rumput liar yang tumbuh tinggi dan tidak terurus, sehingga berpotensi membahayakan pengunjung.
Memasuki zona keluarga, seperti arena wisata air dan area bermain anak, kondisi fasilitas juga tampak memprihatinkan. Wahana bebek dayung yang seharusnya menjadi salah satu daya tarik utama keluarga terlihat rusak dan dibiarkan terbengkalai di tepi sungai. Hal ini mencerminkan pengelolaan fasilitas rekreasi yang belum optimal. Meski demikian, beberapa wahana outbound, seperti flying fox, masih tetap beroperasi dan dibuka untuk pengunjung pada waktu tertentu setiap pekannya.
Selain kondisi fasilitas, layanan penunjang juga menjadi perhatian tersendiri. Jumlah pedagang makanan di kawasan Medan Zoo terbilang terbatas dan tidak selalu beroperasi, sehingga menyulitkan pengunjung untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama berwisata. Kondisi ini turut memengaruhi kenyamanan pengunjung dan secara tidak langsung mengurangi daya tarik kawasan wisata secara keseluruhan.
Tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, Medan Zoo sejatinya juga memiliki peran penting sebagai sarana edukasi dan pembelajaran bagi pelajar. Dahulu, hampir setiap sekolah dasar di Kota Medan rutin melakukan kunjungan edukatif untuk mengenalkan berbagai jenis satwa kepada siswa secara langsung. Namun, fungsi edukatif tersebut kini dinilai tidak berjalan optimal. Jumlah dan jenis satwa di Medan Zoo semakin berkurang, sehingga banyak kandang terlihat kosong. Beberapa kandang lainnya bahkan tidak dilengkapi papan informasi, sementara sebagian papan edukasi yang ada tidak sesuai dengan jenis hewan yang dipelihara.
Salah satu pengunjung menilai bahwa menurunnya daya tarik Medan Zoo lebih disebabkan oleh minimnya koleksi satwa dibandingkan kondisi jalan atau fasilitas lainnya. “Menurut aku, tempat ini kurang menarik lagi bukan karena jalannya, tetapi karena hewannya sudah sangat sedikit. Papan edukasinya juga tidak merata, ada kandang yang punya papan informasi tapi hewannya tidak ada, ada juga yang sebaliknya,” ujarnya.
Pengunjung tersebut juga mengungkapkan bahwa kondisi satwa yang ada saat ini kurang menarik untuk dilihat. Banyak kandang kosong, sementara hewan yang masih ada sebagian ditempatkan di kandang kecil sehingga sulit diamati. “Hewan-hewan di sini rata-rata sendirian, dan terlihat kurang sehat. Hewan besar seperti gajah, harimau, dan rusa tampak lesu dan kurus, seolah tidak bersemangat,” tambahnya.
Terkait kondisi jalan, pengunjung tersebut menilai bahwa secara strukturnya masih tergolong cukup baik. Namun, lumut yang tumbuh di berbagai titik membuat permukaan jalan menjadi licin dan berpotensi membahayakan pengunjung. Menurutnya, hal tersebut wajar mengingat Medan Zoo sudah lama kurang mendapatkan perhatian, meskipun masih terlihat adanya petugas kebersihan di beberapa area. “Jalannya sebenarnya masih cukup bagus, cuma banyak yang berlumut dan licin. Kalau mau tidak berlumut lagi, seharusnya ada pembaruan dan perawatan rutin,” tuturnya.
Di sisi lain, pengunjung tersebut menilai wahana permainan yang ada masih tergolong layak dan cukup menarik untuk dicoba. Selain kondisinya yang masih dapat digunakan, biaya yang ditawarkan relatif terjangkau dibandingkan tempat wisata lain di Kota Medan. “Untuk wahana permainannya masih worth it karena harganya tidak mahal dan kondisinya masih lumayan layak,” ujarnya. Namun, ia menambahkan bahwa sebagai anak Gen Z, ketersediaan spot foto di Medan Zoo masih sangat kurang. Banyak dekorasi dan ornamen yang seharusnya menjadi daya tarik visual sudah rusak dan berlumut.
Dengan berbagai persoalan yang ada, Medan Zoo berada di persimpangan antara sekadar menjadi ruang kenangan masa lalu atau kembali bangkit sebagai destinasi rekreasi dan edukasi yang bermakna. Pembenahan menyeluruh terhadap pengelolaan satwa, perawatan fasilitas, serta pembaruan konsep wisata menjadi kebutuhan mendesak agar kebun binatang ini tidak terus ditinggalkan. Tanpa langkah nyata dan berkelanjutan, Medan Zoo berisiko kehilangan bukan hanya pengunjung, tetapi juga perannya sebagai ruang belajar dan rekreasi bagi generasi mendatang. Kini, harapan untuk menghidupkan kembali Medan Zoo sepenuhnya bergantung pada keseriusan pengelola dan perhatian para pemangku kebijakan dalam mengembalikan nilai dan daya tarik yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Utara.
Redaktur: Axfeba Saragih
Leave a comment